Dalam Panggilan, Ada Pencarian
Dalam Panggilan, Ada Pencarian
Imamat
8:6–9 membawa kita masuk ke sebuah momen yang sakral: penahbisan Harun dan
anak-anaknya sebagai imam Tuhan. Musa melakukan semuanya sesuai perintah
Allah—mengenakan pakaian imam satu per satu, menata setiap bagian dengan penuh
makna. Namun di tengah detail itu, ada satu hal yang sangat menarik: Urim dan
Tumim diletakkan di dalam tutup dada Harun. Ini bukan sekadar perlengkapan
simbolis. Urim dan Tumim berkaitan dengan pencarian petunjuk dari Tuhan untuk
mengambil keputusan. Urim dan Tumim
berbicara tentang bagaimana seorang imam, bahkan imam besar sekalipun, tidak
hidup dari dirinya sendiri, tetapi dari kehendak Allah. Di sini kita melihat
sesuatu yang penting: Harun sudah dipilih, tetapi ia tetap harus mencari.
Pemilihan
Tuhan tidak pernah menghilangkan proses. Justru sebaliknya, pemilihan itu
membuka ruang bagi perjalanan rohani yang lebih dalam. Harun tidak langsung
menjadi sempurna ketika ia ditetapkan. Ia tetap seorang manusia yang harus
belajar mendengar, menanti, dan taat. Urim dan Tumim menjadi tanda bahwa dalam
panggilan itu selalu ada kebutuhan untuk terus bertanya kepada Tuhan. Sering
kali kita berpikir bahwa ketika Tuhan memilih kita, semuanya akan menjadi jelas
dan mudah. Namun teks ini mengingatkan bahwa kehidupan iman bukanlah tentang
mengetahui segalanya sejak awal, melainkan tentang berjalan dalam
ketergantungan. Ada alur yang tidak bisa dilewati: mencari kehendak Tuhan,
menunggu dengan sabar, lalu melangkah dalam ketaatan. Di sinilah terjadi “dialog
rohani” yang indah. Tuhan memulai dengan memilih, tetapi manusia dipanggil
untuk merespons. Respons itu bukan sekadar pengakuan, melainkan sebuah usaha
yang terus-menerus untuk mencari kehendak-Nya. Dipilih tidak berarti kita
langsung menjadi sempurna dan dewasa
secara rohani. Dipilih berarti diberi kesempatan untuk hidup semakin selaras
dengan hati Tuhan. Sebagai orang percaya hari ini, kita juga hidup dalam
realitas yang sama. Kita adalah orang-orang yang dipilih, tetapi kita tetap
harus belajar mencari. Kita tidak lagi menggunakan Urim dan Tumim, tetapi
prinsipnya tetap berlaku: hidup kita harus ditandai dengan kerendahan hati
untuk bertanya, kesediaan untuk menunggu, dan keberanian untuk taat. Mungkin
hari ini kita sedang berada di persimpangan keputusan. Atau mungkin kita merasa
sudah cukup karena merasa “dipilih” dan “dipakai”. Firman ini mengingatkan
dengan lembut bahwa panggilan Tuhan bukanlah titik akhir, melainkan awal
perjalanan. Perjalanan untuk terus mencari, terus mendengar, dan terus taat. Saudara, Apakah saya sedang hidup sebagai
orang yang hanya merasa dipilih, atau sebagai orang yang sungguh-sungguh
mencari kehendak Tuhan?
Karena
pada akhirnya, iman bukan tentang seberapa cepat kita melangkah, tetapi
seberapa selaras kita berjalan dengan kehendak Tuhan. Biarlah kiranya kita
tidak hanya berbangga karena telah dipilih oleh Tuhan, tetapi memiliki hati
yang terus rindu mencari kehendak-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar