Celebrate His Godness
Celebrate His Godness
Saudara,
firman Tuhan dalam bagian ini berbicara tentang kurban keselamatan yang
dipersembahkan karena nazar atau kerelaan hati. Daging kurban hanya boleh
dimakan pada hari pertama dan kedua. Jika masih dimakan pada hari ketika, maka
persembahan itu tidak diperkenan, bahkan dianggap menjijikkan di hadapan Tuhan.
Selain itu yang memakannya harus dalam keadaan tahir; jika najis, ia akan
dilenyapkan dari bangsanya.
Kurban
keselamatan dalam konteks nazar merupakan kurban yang dimakan bersama, yang
melambangkan persekutuan antara umat dan Allah. Kurban ini merupakan
persembahan yang dibawa seseorang pada Tuhan sebagai pemenuhan janji pribadi
yang sebelumnya telah ia ucapkan. Nazar” berasal dari kata Ibrani neder
yaitu janji rohani yang diikat di hadapan Allah. Nazar itu sendiri tidak
diwajibkan oleh hukum Taurat, tetapi ketika diucapkan menjadi komitmen yang
harus ditepati. Karena itu, kurban ini lahir dari kesediaan sukarela seseorang
dalam merespons kebaikan Allah. Dengan demikian, nazar merupakan lambang relasi
dengan Allah.
Saudara,
sistem kurban sudah tidak berlaku lagi saat ini. Tetapi, prinsip nazar masih
relevan sampai saat ini. Nazar dapat berbentuk : janji dalam doa, komitmen
pelayanan, komitmen memberi, janji meninggalkan dosa dan komitmen untuk hidup
lebih sungguh bagi Tuhan. Karena, nazar bersifat mengikat dan harus segera
ditepati. Jangan mudah mengatakan, “
Tuhan, kalau Engkau menolong saya maka saya akan ...” tanpa kesediaan untuk memenuhi
janji tersebut. Sebab ketika kita menepati nazar, kita tidak sedang membayar
utang kepada Tuhan, melainkan menyatakan syukur atas kebaikan-Nya. Nazar lahir dari kerelaan hati, dan dipenuhi
dalam kasih sebagai ungkapan syukur kepada Allah
Pertanyaan : Saudara, bagaimana sikap
kita saat memenuhi nazar di hadapan Allah? Ingatlah bahwa ketika kita memenuhi
nazar kita maka hal tersebut adalah
salah satu bentuk ungkapan syukur atas pertolongan Tuhan dalam kehidupan
kita. (TH)

Komentar
Posting Komentar