Tidak Ada yang Disisakan
Tidak Ada yang Disisakan
Dalam sistem ibadah Israel yang mulai ditata dalam kitab Keluaran, mezbah korban bakaran menjadi salah satu perlengkapan utama di pelataran Kemah Suci (Kel. 38:1–7). Letaknya di bagian depan, sehingga setiap orang yang datang kepada Tuhan terlebih dahulu berhadapan dengan mezbah itu. Di atas mezbah inilah korban dipersembahkan dan dibakar. Ciri khas korban bakaran adalah seluruh bagian hewan itu dibakar habis—tidak ada yang disisakan, tidak ada yang diambil kembali. Semuanya menjadi milik Tuhan sepenuhnya, dan asapnya naik sebagai bau yang harum di hadapan-Nya. Sejak awal, Allah sedang mengajarkan bahwa upaya mendekat kepada-Nya selalu berkaitan dengan korban dan penyerahan total.
Korban bakaran itu bukan hanya ritual, melainkan bayangan dari penggenapan yang sempurna di dalam Kristus. Yesus datang bukan membawa korban, tetapi menjadi Korban itu sendiri. Ia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya di kayu salib—bukan sebagian, bukan dengan syarat, melainkan total sampai mati. Jika korban bakaran dibakar habis di atas mezbah, Kristus memberikan seluruh hidup-Nya demi keselamatan kita. Tidak ada yang Ia tahan. Tidak ada yang Ia simpan untuk diri-Nya sendiri. Salib menjadi mezbah agung di mana kasih Allah dinyatakan secara sempurna melalui penyerahan total Sang Anak.
Karena itu implikasinya bagi orang percaya di masa kini sangat jelas. Jika Kristus telah menyerahkan diri-Nya sepenuhnya bagi kita, maka kita pun dipanggil untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Roma 12:1 berkata, “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita (2 Korintus 5:15). Menjadi persembahan yang hidup berarti setiap hari menyerahkan seluruh pikiran, keinginan, rencana, dan masa depan kita kepada Tuhan. Ketika hidup kita diserahkan total kepada-Nya, di situlah kita menyatakan bahwa Kristus bukan hanya Juruselamat, tetapi juga Tuhan atas seluruh hidup kita.
Saudara, apakah hidup kita sudah menjadi “persembahan yang hidup” seperti yang tertulis dalam Roma 12:1, atau masih sebatas aktivitas keagamaan? Kiranya kita tidak berhenti pada aktivitas keagamaan semata, tetapi sungguh-sungguh mempersembahkan seluruh hidup kita sebagai korban yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan setiap hari. (RT)

Komentar
Posting Komentar