Pelayanan yang Autentik
Pelayanan yang Autentik
Dalam bagian kitab Keluaran 39:21-26 ini, Allah merinci tiga bagian jubah luar pada baju Efod imam besar. Pertama, pada jubah luar terdapat tutup dada yang diikatkan dengan benang dan gelang pada baju Efod agar tidak bergeser. Kedua, bagian leher jubah yang disulam seperti leher baju zirah yang memiliki pinggir di sekelilingnya supaya tidak koyak. Ketiga, bagian bawah jubah yang dihiasi oleh kerincing dan buah delima yang di jahit selang seling. Kerincing pada bagian bawah merupakan penanda bahwa Imam Besar melayani secara sah dan tidak mati. Keluaran 28:33–35 menjelaskan fungsi kerincing pada jubah Imam besar yaitu jika berbunyi maka Imam sedang melayani, sedangkan jika tidak berbunyi maka Imam perlu ditarik keluar sebab ia telah meninggal saat melayani.
Bahan lain yang di jahit pada bagian bawah jubah Imam Besar adalah buah delima. Pada masa tradisi dekat kuno buah delima menandakan kelimpahan dan berkat ilahi sebab berkaitan dengan banyaknya biji pada buah delima berwarna merah. Hal ini ditegaskan dalam Ul. 8:7-8, “ Sebab Tuhan, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik : .... suatu negeri dengan ... pohon ara, dan pohon delima...” Allah memberkati umat-Nya dengan pemberian yaitu suatu negeri yang memiliki penyediaan makanan yang berlimpah. Dan, buah delima menjadi salah satu buah yang akan dinikmati oleh Israel kelak. Dengan demikian, makna buah delima pada bagian bawah baju Efod adalah sebagai perlambang kehidupan, kelimpahan dan berkat.
Saudara, makna buah delima pada baju Efod mengingatkan kita betapa pelayanan yang kita lakukan haruslah autentik dan bukan sekedar rutinitas gerejawi semata. Pelayanan yang autentik akan berpusat pada Kristus dan lahir dari hubungan dengan Kristus. Hubungan ini diawali dengan keselamatan dalam Kristus sehingga, menghasilkan hati (motivasi batin) yang tulus dalam melayani. Hati yang tulus menyingkirkan motivasi batin yang hanya sekedar mencari keuntungan, pengakuan sosial, atau pujian manusia. Hati yang tulus akan menjadikan ungkapan syukur atas anugerah Allah sebagai motivasi batin dalam pelayanan. Pelayanan yang autentik ini kemudian akan menghasilkan buah roh yang juga dapat menyebarkan kehidupan, kebaikan, berkat bagi sesama (Gal. 5: 22). Dengan demikian, mari kita kembali mengevaluasi hati kita di hadapan-Nya untuk menemukan seberapa tulus dan murni hati kita saat melayani-Nya. Sehingga, kita semakin murni dan dapat menjadi sarana Allah untuk menyebarkan kasih-Nya kepada semua orang.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah pelayanan kita telah menjadi pelayanan yang autentik? Ingatlah senantiasa bahwa kita dapat melayani hanya karena anugerah-Nya bagi kita. Oleh sebab itu biarlah kiranya kita juga melayani dengan kekuatan dari pada-Nya yang akan menolong kita untuk menyebarkan kehidupan bagi sesama.

Komentar
Posting Komentar