Kudus Karena Dikuduskan
Kudus Karena Dikuduskan
Minyak urapan dalam Perjanjian Lama adalah campuran
khusus dari minyak zaitun dan rempah-rempah pilihan yang dibuat menurut
ketetapan Tuhan. Minyak ini dipakai untuk mengurapi imam, raja, serta
perabot-perabot Kemah Suci. Fungsinya bukan sekadar simbol keharuman atau
penghormatan, melainkan sebagai tanda penetapan dan pengkhususan bagi Allah.
Ketika seseorang atau sesuatu diurapi, itu berarti ia dipisahkan dari
penggunaan biasa dan dikhususkan untuk pelayanan kepada Tuhan. Namun penting
untuk dipahami: minyak itu sendiri tidak memiliki kuasa magis. Ia hanyalah alat
lahiriah yang menunjuk pada tindakan Allah yang menguduskan.
Maknanya sangat dalam. Sesuatu menjadi kudus bukan
karena bahan dasarnya, bukan karena pembuatnya, dan juga, bukan karena
ritualnya. Minyak itu disebut kudus karena Allah menetapkannya sebagai kudus.
Demikian juga imam atau bangsa Israel—mereka tidak kudus dengan sendirinya.
Kekudusan bukan kualitas alami manusia berdosa. Kekudusan bersumber dari Allah
yang kudus. Artinya, kekudusan bukan sesuatu yang kita capai melalui usaha
moral atau aktivitas rohani, melainkan sesuatu yang kita terima karena Allah berkenan
menguduskan. Barang itu kudus karena dikuduskan. Umat Allah disebut kudus
karena dipilih, dan dipisahkan untuk Allah. Kekudusan adalah anugerah sebelum
menjadi kewajiban moral.
Implikasinya bagi kita, khususnya dalam pelayanan,
sangat jelas. Jika hari ini kita dipakai Tuhan untuk memberkati orang lain, itu
bukan karena kita lebih rohani atau lebih layak. Seperti minyak urapan, kita
hanyalah alat. Yang membuat pelayanan itu berdampak adalah Allah yang bekerja
melalui kita. Tanpa Dia, kita hanyalah “minyak biasa.” Karena itu tidak ada
ruang untuk kesombongan, tetapi juga tidak ada alasan untuk minder. Kita
melayani dengan rendah hati dan penuh ketergantungan, menyadari bahwa kekudusan
dan kuasa berasal dari Dia. Kudus bukan berarti kita sempurna; kudus berarti
Allah berkenan memisahkan dan memakai kita bagi kemuliaan-Nya.
Saudara, apakah selama ini kita merasa diri kita kudus
karena perbuatan baik dan pelayanan kita, atau karena anugerah Allah? Mari kita
kembali menyadari bahwa kekudusan kita bukan hasil usaha kita, melainkan murni
anugerah Allah. (RT)

Komentar
Posting Komentar