Kekudusan yang Aktif
Kekudusan yang Aktif
Dalam kehidupan orang percaya, kekudusan sering
dipahami hanya sebagai usaha untuk tidak melakukan dosa. Banyak orang berpikir
bahwa selama mereka tidak berbohong, tidak mencuri, dan tidak melakukan hal-hal
yang jahat, maka mereka sudah hidup kudus. Namun Alkitab menunjukkan bahwa
kekudusan tidak hanya bersifat pasif—sekadar menjauhi dosa—tetapi juga bersifat
aktif, yaitu melakukan apa yang benar di hadapan Allah. Dalam Kitab Keluaran
39:27–31 dijelaskan tentang pembuatan pakaian imam. Salah satu bagian yang
menarik adalah lempeng emas yang dipasang pada serban imam dengan tulisan: “Kudus
bagi TUHAN.” Tulisan ini ditempatkan di bagian depan kepala imam, sehingga
dapat dilihat oleh semua orang. Hal ini menunjukkan bahwa kekudusan bukan
sesuatu yang tersembunyi, melainkan identitas yang nyata dan terlihat dalam
kehidupan.
Tulisan “Kudus bagi TUHAN” mengingatkan bahwa imam
adalah orang yang hidupnya dipersembahkan sepenuhnya kepada Allah. Identitas
ini tidak hanya berkaitan dengan ibadah di Kemah Suci, tetapi juga dengan
kehidupan yang mencerminkan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, kekudusan harus
tampak dalam sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari. Sering kali kita
merasa sudah hidup benar karena tidak melakukan kesalahan yang nyata. Namun
Alkitab juga mengingatkan bahwa mengabaikan kesempatan untuk melakukan kebaikan
adalah sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dalam Surat Yakobus 4:17
tertulis bahwa jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik tetapi tidak
melakukannya, maka ia berdosa. Artinya, kekudusan bukan hanya tentang menolak
yang jahat, tetapi juga tentang memilih untuk melakukan yang baik.
Ketika kita melihat orang yang sedang mengalami kesulitan, kekudusan mendorong kita untuk menolong. Ketika kita melihat ketidakadilan, kekudusan menggerakkan hati kita untuk peduli. Kekudusan yang sejati tidak berhenti pada menjaga diri dari dosa, tetapi juga terwujud dalam tindakan kasih dan kebaikan kepada sesama. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dengan kekudusan yang aktif. Hidup kita bukan hanya dijaga agar tidak jatuh dalam dosa, tetapi juga dipakai oleh Tuhan untuk menghadirkan kebaikan di dunia ini. Dengan demikian, orang lain dapat melihat melalui hidup kita bahwa kita benar-benar hidup sebagai orang yang “Kudus bagi TUHAN.”
Saudara, apakah selama ini kita memahami kekudusan hanya sebagai usaha untuk tidak melakukan dosa, atau juga sebagai panggilan untuk melakukan kebaikan Kiranya kita tidak hanya berusaha menjauh dari dosa, tetapi juga dengan sadar memilih untuk melakukan kebaikan, sehingga melalui hidup kita orang lain dapat melihat bahwa kita sungguh hidup sebagai orang yang Kudus bagi TUHAN. (RT)

Komentar
Posting Komentar