Allah Mengatur Cara Umat-Nya Mendekat
Allah Mengatur Cara Umat-Nya Mendekat
Setelah
Kemah Suci berdiri, Musa mulai menata setiap perlengkapan ibadah sesuai dengan
perintah Tuhan. Tidak ada satu pun yang dilakukan secara sembarangan. Setiap
meja, lampu, mezbah, dan korban ditempatkan dengan tepat seperti yang Tuhan
firmankan. Pemandangan ini menunjukkan bahwa tindakan mendekat kepada Allah di
dalam ibadah tidak bisa berdasarkan cara
manusia, melainkan harus berdasarkan cara yang Allah tetapkan. Musa menaruh
meja roti sajian di sisi utara Kemah Pertemuan dan meletakkan roti di atasnya
di hadapan Tuhan (ay. 22–23). Roti ini melambangkan hubungan perjanjian antara
Allah dan umat-Nya. Philip Graham Ryken menjelaskan bahwa roti sajian adalah
tanda bahwa Allah memelihara umat-Nya sekaligus mengundang mereka untuk hidup
dalam persekutuan dengan-Nya. Kehadiran roti di hadapan Tuhan menunjukkan bahwa
kehidupan umat Israel sepenuhnya bergantung pada pemeliharaan Allah.
Kemudian
Musa menempatkan kandil emas di sisi selatan dan menyalakan lampu-lampunya di
hadapan Tuhan (ay. 24–25). Cahaya dari kandil ini menerangi ruang kudus yang
tidak memiliki jendela. C. F. Keil menafsirkan bahwa terang ini melambangkan
terang ilahi yang menerangi umat Allah. Tanpa terang dari Tuhan, manusia hidup
dalam kegelapan rohani. Karena itu, terang di Kemah Suci mengingatkan bahwa
kehidupan umat harus selalu berada dalam terang hadirat Allah. Setelah itu Musa
menaruh mezbah ukupan di depan tabir dan membakar ukupan harum di atasnya (ay.
26–27). Asap ukupan yang naik menggambarkan doa umat kepada Allah. Di bagian
luar Kemah Pertemuan, Musa menaruh mezbah korban bakaran dan mempersembahkan
korban bakaran serta korban sajian (ay. 29). Menariknya, seluruh bagian ini
diakhiri dengan kalimat yang berulang: “seperti yang diperintahkan TUHAN kepada
Musa.” Ini menegaskan bahwa Allah sendiri yang menentukan bagaimana umat-Nya
harus menyembah dan mendekat kepada-Nya.
Renungan
ini mengingatkan kita bahwa kehidupan rohani dan ibadah kepada Tuhan harus
dibangun di atas ketaatan kepada firman-Nya. Seperti Musa yang menata setiap
bagian Kemah Suci tepat seperti yang diperintahkan Tuhan, demikian juga orang
percaya dipanggil untuk menjalani hidup yang diatur oleh kehendak Allah, bukan
oleh keinginan sendiri. Melalui gambaran roti sajian, terang kandil, ukupan
doa, dan korban di mezbah, kita belajar bahwa orang yang hidupnya bergantung kepada Tuhan akan selalu
dipelihara oleh anugrahnya. hidup dalam terang firman-Nya, kesetiaan dalam doa,
dan kesadaran bahwa kita hanya dapat datang kepada Allah melalui pengorbanan
yang telah digenapi di dalam Yesus Kristus.
Saudara,
apakah kita menyembah Tuhan dengan sikap taat kepada firman-Nya, atau kita
mencoba mendekat kepada-Nya dengan cara kita sendiri? Biarlah kiranya melalui
firman ini kita diingatkan bahwa mendekat kepada Allah bukanlah menurut cara
kita sendiri, tetapi menurut kehendak dan firman-Nya. Seperti Musa yang dengan
setia melakukan segala sesuatu tepat seperti yang diperintahkan Tuhan, demikian
juga kiranya hidup kita dipenuhi dengan ketaatan kepada Tuhan. Dan melalui
karya Yesus Kristus yang telah membuka jalan bagi kita kepada Allah, biarlah
hidup kita semakin dipimpin oleh terang-Nya, dipelihara dalam doa, dan terus
hidup dalam persekutuan yang benar dengan Dia setiap hari. (FS)

Komentar
Posting Komentar