Allah Mengatur Cara Umat-Nya Mendekat

Jumat, 27 Maret 2026
Allah Mengatur Cara Umat-Nya Mendekat 
Bacaan Alkitab : Keluaran 40:22–29

Setelah Kemah Suci berdiri, Musa mulai menata setiap perlengkapan ibadah sesuai dengan perintah Tuhan. Tidak ada satu pun yang dilakukan secara sembarangan. Setiap meja, lampu, mezbah, dan korban ditempatkan dengan tepat seperti yang Tuhan firmankan. Pemandangan ini menunjukkan bahwa tindakan mendekat kepada Allah di dalam ibadah  tidak bisa berdasarkan cara manusia, melainkan harus berdasarkan cara yang Allah tetapkan. Musa menaruh meja roti sajian di sisi utara Kemah Pertemuan dan meletakkan roti di atasnya di hadapan Tuhan (ay. 22–23). Roti ini melambangkan hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Philip Graham Ryken menjelaskan bahwa roti sajian adalah tanda bahwa Allah memelihara umat-Nya sekaligus mengundang mereka untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Kehadiran roti di hadapan Tuhan menunjukkan bahwa kehidupan umat Israel sepenuhnya bergantung pada pemeliharaan Allah.

Kemudian Musa menempatkan kandil emas di sisi selatan dan menyalakan lampu-lampunya di hadapan Tuhan (ay. 24–25). Cahaya dari kandil ini menerangi ruang kudus yang tidak memiliki jendela. C. F. Keil menafsirkan bahwa terang ini melambangkan terang ilahi yang menerangi umat Allah. Tanpa terang dari Tuhan, manusia hidup dalam kegelapan rohani. Karena itu, terang di Kemah Suci mengingatkan bahwa kehidupan umat harus selalu berada dalam terang hadirat Allah. Setelah itu Musa menaruh mezbah ukupan di depan tabir dan membakar ukupan harum di atasnya (ay. 26–27). Asap ukupan yang naik menggambarkan doa umat kepada Allah. Di bagian luar Kemah Pertemuan, Musa menaruh mezbah korban bakaran dan mempersembahkan korban bakaran serta korban sajian (ay. 29). Menariknya, seluruh bagian ini diakhiri dengan kalimat yang berulang: “seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Ini menegaskan bahwa Allah sendiri yang menentukan bagaimana umat-Nya harus menyembah dan mendekat kepada-Nya.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan rohani dan ibadah kepada Tuhan harus dibangun di atas ketaatan kepada firman-Nya. Seperti Musa yang menata setiap bagian Kemah Suci tepat seperti yang diperintahkan Tuhan, demikian juga orang percaya dipanggil untuk menjalani hidup yang diatur oleh kehendak Allah, bukan oleh keinginan sendiri. Melalui gambaran roti sajian, terang kandil, ukupan doa, dan korban di mezbah, kita belajar bahwa orang yang hidupnya  bergantung kepada Tuhan akan selalu dipelihara oleh anugrahnya. hidup dalam terang firman-Nya, kesetiaan dalam doa, dan kesadaran bahwa kita hanya dapat datang kepada Allah melalui pengorbanan yang telah digenapi di dalam Yesus Kristus.

Saudara, apakah kita menyembah Tuhan dengan sikap taat kepada firman-Nya, atau kita mencoba mendekat kepada-Nya dengan cara kita sendiri? Biarlah kiranya melalui firman ini kita diingatkan bahwa mendekat kepada Allah bukanlah menurut cara kita sendiri, tetapi menurut kehendak dan firman-Nya. Seperti Musa yang dengan setia melakukan segala sesuatu tepat seperti yang diperintahkan Tuhan, demikian juga kiranya hidup kita dipenuhi dengan ketaatan kepada Tuhan. Dan melalui karya Yesus Kristus yang telah membuka jalan bagi kita kepada Allah, biarlah hidup kita semakin dipimpin oleh terang-Nya, dipelihara dalam doa, dan terus hidup dalam persekutuan yang benar dengan Dia setiap hari. (FS)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan