Semangat dalam Memberi
Semangat dalam Memberi
Bagian
kitab Keluaran 36:4-7 memperlihatkan respons umat Israel terhadap perintah
Allah untuk membangun kemah suci. Dalam konteks sebelumnya, Allah memerintahkan
agar umat membawa persembahan khusus berupa bahan-bahan terbaik yang mereka
miliki untuk pembangunan tempat kediaman-Nya (bdk. Kel. 25:1-9). Persembahan
ini bersifat sukarela, lahir dari kerelaan hati, bukan dari paksaan atau
tekanan. Perintah ini ditujukan kepada seluruh orang Israel. Setiap orang
diberi kesempatan untuk berpartisipasi sesuai dengan apa yang dimilikinya dan
sesuai dengan kebutuhan pembangunan Kemah Suci. Secara teologis, hal ini
menunjukkan bahwa Allah melibatkan umat-Nya dalam karya-Nya. Keterlibatan ini
bukan karena Allah membutuhkan materi mereka, melainkan sebagai sarana pembentukan
rohani agar umat-Nya memberi dalam ketaatan, iman dan bertanggung jawab terhadap
relasi perjanjian dengan-Nya.
Respons
umat ternyata melampaui ekspektasi. Persembahan yang diberikan begitu banyak
sehingga para tukang yang mengerjakan pembangunan itu melaporkan kepada Musa
bahwa bahan yang tersedia sudah lebih dari cukup. Musa kemudian memerintahkan
agar umat berhenti membawa persembahan (Ke. 36:6-7). Kelimpahan ini bukan
sekadar menunjukkan kuantitas pemberian, tetapi mencerminkan kesungguhan dan
semangat hati yang telah diarahkan kepada tujuan yang benar. Jika dibandingkan
dengan peristiwa anak lembu emas dalam kitab keluaran 32, terlihat kontras yang
tajam. Pada waktu itu, umat juga menunjukkan antusiasme dalam memberi. Mereka
dengan cepat menyerahkan emas untuk membangun berhala, sebagai bentuk
pemberontakan terhadap Allah. Namun, dalam keluaran 36:4-7, semangat yang sama
kini diarahkan untuk ketaatan dan penyembahan yang benar. Dengan demikian, teks
ini memperlihatkan semangat yang timbul dari transformasi hati; dari pemberontakan menuju ketaatan, dari
penyalahgunaan berkat menuju penatalayanan yang benar.
Bagi
jemaat masa kini, bagian perikop yang kita baca mengingatkan tentang semangat
memberi untuk pembangunan fasilitas-fasilitas rohani. Semangat memberi dapat
berupa pemberian dana, waktu, tenaga atau talenta yang kita persembahkan bagi
pembangunan tubuh Kristus. Semangat dapat menjadi sesuatu yang kurang tepat
apabila tidak disertai dengan tujuan yang benar. Misalnya : kita dengan
semangat melayani Allah dalam gereja dengan talenta yang kita miliki. Jika
semangat dilandasi dengan sikap : haus pengakuan, kepentingan pribadi atau
bahkan merasa tidak enak jika tidak melayani. Maka, semangat akan semakin
memudar. Tetapi, jika semangat disertai dengan tujuan yang benar seperti :
respons atas anugerah keselamatan dari Allah, ungkapan syukur atas kemurahan
Allah, partisipasi aktif dalam misi Allah di dunia dll. Maka semangat akan
tetap menyala bahkan di tengah situasi pelayanan yang tidak menyenangkan.
Dengan demikian, mari sertai semangat dalam memberi dengan tujuan untuk
memuliakan Allah, sehingga semangat tersebut akan mendorong kita untuk tetap
setia dan terlibat dalam pekerjaan Allah senantiasa.
Saudara mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah semangat, waktu, dan sumber daya yang saya miliki digunakan untuk memuliakan Allah atau kepentingan diri sendiri? Mari dengan rendah hati mengakui sikap hati yang salah dan bertumbuh dalam semangat yang murni bagi pekerjaan Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar