Semangat dalam Memberi

Selasa, 24 Februari 2026
Semangat dalam Memberi 
Bacaan Alkitab : Keluaran 36 : 4-7

Bagian kitab Keluaran 36:4-7 memperlihatkan respons umat Israel terhadap perintah Allah untuk membangun kemah suci. Dalam konteks sebelumnya, Allah memerintahkan agar umat membawa persembahan khusus berupa bahan-bahan terbaik yang mereka miliki untuk pembangunan tempat kediaman-Nya (bdk. Kel. 25:1-9). Persembahan ini bersifat sukarela, lahir dari kerelaan hati, bukan dari paksaan atau tekanan. Perintah ini ditujukan kepada seluruh orang Israel. Setiap orang diberi kesempatan untuk berpartisipasi sesuai dengan apa yang dimilikinya dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan Kemah Suci. Secara teologis, hal ini menunjukkan bahwa Allah melibatkan umat-Nya dalam karya-Nya. Keterlibatan ini bukan karena Allah membutuhkan materi mereka, melainkan sebagai sarana pembentukan rohani agar umat-Nya memberi dalam ketaatan, iman dan bertanggung jawab terhadap relasi perjanjian dengan-Nya.

Respons umat ternyata melampaui ekspektasi. Persembahan yang diberikan begitu banyak sehingga para tukang yang mengerjakan pembangunan itu melaporkan kepada Musa bahwa bahan yang tersedia sudah lebih dari cukup. Musa kemudian memerintahkan agar umat berhenti membawa persembahan (Ke. 36:6-7). Kelimpahan ini bukan sekadar menunjukkan kuantitas pemberian, tetapi mencerminkan kesungguhan dan semangat hati yang telah diarahkan kepada tujuan yang benar. Jika dibandingkan dengan peristiwa anak lembu emas dalam kitab keluaran 32, terlihat kontras yang tajam. Pada waktu itu, umat juga menunjukkan antusiasme dalam memberi. Mereka dengan cepat menyerahkan emas untuk membangun berhala, sebagai bentuk pemberontakan terhadap Allah. Namun, dalam keluaran 36:4-7, semangat yang sama kini diarahkan untuk ketaatan dan penyembahan yang benar. Dengan demikian, teks ini memperlihatkan semangat yang timbul dari transformasi hati; dari pemberontakan menuju ketaatan, dari penyalahgunaan berkat menuju penatalayanan yang benar.

Bagi jemaat masa kini, bagian perikop yang kita baca mengingatkan tentang semangat memberi untuk pembangunan fasilitas-fasilitas rohani. Semangat memberi dapat berupa pemberian dana, waktu, tenaga atau talenta yang kita persembahkan bagi pembangunan tubuh Kristus. Semangat dapat menjadi sesuatu yang kurang tepat apabila tidak disertai dengan tujuan yang benar. Misalnya : kita dengan semangat melayani Allah dalam gereja dengan talenta yang kita miliki. Jika semangat dilandasi dengan sikap : haus pengakuan, kepentingan pribadi atau bahkan merasa tidak enak jika tidak melayani. Maka, semangat akan semakin memudar. Tetapi, jika semangat disertai dengan tujuan yang benar seperti : respons atas anugerah keselamatan dari Allah, ungkapan syukur atas kemurahan Allah, partisipasi aktif dalam misi Allah di dunia dll. Maka semangat akan tetap menyala bahkan di tengah situasi pelayanan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, mari sertai semangat dalam memberi dengan tujuan untuk memuliakan Allah, sehingga semangat tersebut akan mendorong kita untuk tetap setia dan terlibat dalam pekerjaan Allah senantiasa.

Saudara mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah semangat, waktu, dan sumber daya yang saya miliki digunakan untuk memuliakan Allah atau kepentingan diri sendiri? Mari dengan rendah hati mengakui sikap hati yang salah dan bertumbuh dalam semangat yang murni bagi pekerjaan Allah. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan