Penebusan yang Menuntut Pemutusan
Penebusan yang Menuntut Pemutusan
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:25
“Janganlah
engkau mempersembahkan darah korban sembelihan-Ku dengan sesuatu yang beragi”
(Kel. 34:25). Ayat ini sekilas tampak seperti aturan ibadah yang teknis dan
kaku. Seolah-olah Allah hanya sedang mengatur detail ritual persembahan. Namun
jika dibaca dalam terang seluruh kisah Keluaran, larangan ini ternyata
menyimpan makna rohani yang sangat dalam. Ragi pada dasarnya adalah sesuatu
yang netral. Ia bukan benda jahat, bukan simbol dosa secara otomatis. Dalam
kehidupan sehari-hari, ragi justru dibutuhkan untuk membuat roti mengembang dan
layak dimakan. Bahkan dalam beberapa perayaan, ragi diperbolehkan. Namun dalam
konteks Keluaran, ragi memiliki muatan sejarah yang sangat kuat. Ketika Israel
keluar dari Mesir, mereka tidak sempat membawa roti beragi. Mereka harus
meninggalkan Mesir dengan tergesa-gesa. (Kel. 12:39). Sejak saat itu, ragi
menjadi simbol dari cara hidup lama, ritme lama, dan identitas lama sebagai
budak.
Ketika
Allah melarang ragi dicampur dengan korban sembelihan, Allah sebenarnya sedang
menyampaikan pesan rohani, dan bukan sekadar aturan liturgis. Korban berbicara
tentang penebusan, tentang relasi baru dengan Allah, tentang hidup yang
dipulihkan oleh anugerah. Sedangkan ragi, dalam konteks ini, berbicara tentang
kehidupan sebelum penebusan. Maka larangan ini berarti: jangan mencampur kisah
pembebasan dengan gaya hidup perbudakan. Jangan membawa “Mesir” sebagai simbol
dari hidup yang lama ke dalam mezbah. Masalah terbesar Israel bukan hanya bahwa
mereka pernah tinggal di Mesir, tetapi bahwa Kebiasaan mereka di Mesir masih
sering tinggal di dalam hati mereka. Secara fisik mereka sudah bebas, tetapi
secara mental mereka masih rindu kembali ke Mesir. Mereka telah melihat
mujizat, tetapi masih berpikir seperti budak. Karena itu Allah bukan hanya
membebaskan Israel dari tempat, melainkan ingin membebaskan mereka dari pola
hidup lama.
Renungan
ini sangat relevan bagi kita hari ini. Kita mungkin sudah percaya kepada
Kristus, aktif beribadah, melayani, bahkan mengerti teologi. Namun
pertanyaannya bukan lagi: apakah saya sudah diselamatkan? Melainkan: apakah
saya masih membawa “ragi” lama ke dalam kehidupan rohani saya? Cara berpikir
lama, nilai dunia lama, kebiasaan lama, ambisi lama, semua itu bisa diam-diam
menyusup ke dalam mezbah ibadah kita. Allah tidak melarang ragi karena ragi itu
jahat, tetapi karena ragi mengingatkan umat-Nya pada hidup yang sudah mereka
tinggalkan. Penebusan selalu menuntut pemutusan. Tuhan tidak hanya ingin
membawa kita keluar dari Mesir, tetapi juga ingin mengeluarkan Mesir dari dalam
diri kita. Jangan campur kehidupan lama dengan anugerah baru. Mezbah bukan tempat
nostalgia, melainkan tempat transformasi.
atau sebagai orang lama yang hanya berganti identitas rohani? Saudara, jika keselamatan hanya mengubah status kita, tetapi tidak mengubah cara hidup kita, maka mungkin yang berubah bukanlah diri kita, melainkan hanya label rohani kita. (RT)

Komentar
Posting Komentar