Ketika Pengulangan Membentuk Iman
Jumat, 27 Februari 2026
Ketika Pengulangan Membentuk Iman
Bacaan Alkitab : Keluaran 36:20–22
Keluaran 36:20–22 mencatat bahwa papan-papan Kemah Suci dibuat dari kayu penaga, berdiri tegak, masing-masing memiliki dua pasak yang tersambung satu dengan yang lain. Papan-papan itu dipasang berjajar, saling mengikat, membentuk satu kesatuan yang kokoh. Tidak ada papan yang berdiri sendiri tanpa sambungan. Tidak ada bagian yang dibuat sembarangan. Semuanya teratur, tegak, tersambung. Jika kita membaca bagian ini dalam Kitab Keluaran, mungkin kita tergoda untuk melewatinya. Bukankah ini hanya detail konstruksi? Bukankah ini sekadar pengulangan dari perintah Tuhan sebelumnya dalam pasal 26? Tetapi justru di situlah pesan rohaninya tersembunyi. Teks ini adalah repetisi atau pengulangan dari Apa yang dulu pernah diperintahkan Tuhan, kini dituliskan kembali sebagai pelaksanaan. Mengapa harus diulang? Karena bagi Israel, pengulangan bukan sekadar penjelasan ulang mengenai teknis arsitektur. Lebih dari itu, Pengulangan adalah sarana pembentukan iman.
Bangsa Israel adalah bangsa yang baru keluar dari perbudakan. Mentalitas budak tidak hilang dalam semalam. Mereka pernah gagal dengan anak lembu emas. Mereka mudah lupa. Maka Allah membentuk mereka bukan hanya lewat mukjizat besar, tetapi lewat repetisi yang disiplin. Detail yang sama diulang—bukan untuk membosankan, melainkan untuk menanamkan pola ketaatan. Inilah fungsi liturgis teks. Dalam tradisi Israel, pembacaan hukum dan kisah keselamatan dilakukan berulang-ulang. Pengulangan menciptakan ingatan kolektif. Ingatan kolektif membentuk identitas. Identitas melahirkan karakter. Dengan membaca kembali detail yang sama, Israel belajar bahwa Allah adalah Allah yang teratur, konsisten, dan layak ditaati dengan presisi.
Setiap papan yang “berdiri tegak” seakan berbicara tentang kehidupan yang lurus di hadapan Tuhan. Setiap pasak yang “tersambung satu dengan yang lain” menggambarkan umat yang tidak hidup sendiri-sendiri, tetapi saling terikat dalam perjanjian. Tidak ada papan yang bisa menjadi Kemah Suci sendirian. Demikian pula tidak ada orang percaya yang dipanggil untuk berdiri sendiri tanpa komunitas. Ketika teks ini mengulang, Allah sedang membentuk. Ia sedang menanamkan pola: taat berarti melakukan persis seperti yang diperintahkan. Iman bukan sekadar perasaan yang meledak-ledak; iman dibentuk oleh ketaatan yang berulang, oleh disiplin yang konsisten.
Sering kali kita menganggap pengulangan sebagai sesuatu yang membosankan: doa yang sama, ibadah mingguan, pembacaan firman yang rutin. Tetapi justru di situlah Allah bekerja. Seperti papan-papan yang dipasang satu per satu, hari demi hari, Tuhan sedang membangun karakter kita melalui repetisi rohani. Mungkin kita menginginkan pengalaman spektakuler. Namun Allah sering bekerja melalui hal yang sama yang dilakukan terus-menerus: berdoa lagi, taat lagi, setia lagi, mengampuni lagi. Pengulangan bukan tanda kekosongan makna, tetapi tanda keseriusan pembentukan.
Saudara, apakah saya melihat pengulangan (doa, ibadah, membaca firman) sebagai rutinitas kosong, atau sebagai proses pembentukan iman?Biarlah kiranya keluaran
36:20–22 mengajarkan bahwa sesuatu yang diulang bukan hanya bicara teknis,
tetapi pesan mendalam. Allah sedang membangun bukan hanya Kemah Suci, tetapi
bangsa yang siap menjadi umat-Nya. Dan hari ini, melalui ritme iman yang sederhana
dan berulang, Allah pun sedang membangun kita. (FS)
Ketika Pengulangan Membentuk Iman
Bacaan Alkitab : Keluaran 36:20–22
Keluaran 36:20–22 mencatat bahwa papan-papan Kemah Suci dibuat dari kayu penaga, berdiri tegak, masing-masing memiliki dua pasak yang tersambung satu dengan yang lain. Papan-papan itu dipasang berjajar, saling mengikat, membentuk satu kesatuan yang kokoh. Tidak ada papan yang berdiri sendiri tanpa sambungan. Tidak ada bagian yang dibuat sembarangan. Semuanya teratur, tegak, tersambung. Jika kita membaca bagian ini dalam Kitab Keluaran, mungkin kita tergoda untuk melewatinya. Bukankah ini hanya detail konstruksi? Bukankah ini sekadar pengulangan dari perintah Tuhan sebelumnya dalam pasal 26? Tetapi justru di situlah pesan rohaninya tersembunyi. Teks ini adalah repetisi atau pengulangan dari Apa yang dulu pernah diperintahkan Tuhan, kini dituliskan kembali sebagai pelaksanaan. Mengapa harus diulang? Karena bagi Israel, pengulangan bukan sekadar penjelasan ulang mengenai teknis arsitektur. Lebih dari itu, Pengulangan adalah sarana pembentukan iman.
Bangsa Israel adalah bangsa yang baru keluar dari perbudakan. Mentalitas budak tidak hilang dalam semalam. Mereka pernah gagal dengan anak lembu emas. Mereka mudah lupa. Maka Allah membentuk mereka bukan hanya lewat mukjizat besar, tetapi lewat repetisi yang disiplin. Detail yang sama diulang—bukan untuk membosankan, melainkan untuk menanamkan pola ketaatan. Inilah fungsi liturgis teks. Dalam tradisi Israel, pembacaan hukum dan kisah keselamatan dilakukan berulang-ulang. Pengulangan menciptakan ingatan kolektif. Ingatan kolektif membentuk identitas. Identitas melahirkan karakter. Dengan membaca kembali detail yang sama, Israel belajar bahwa Allah adalah Allah yang teratur, konsisten, dan layak ditaati dengan presisi.
Setiap papan yang “berdiri tegak” seakan berbicara tentang kehidupan yang lurus di hadapan Tuhan. Setiap pasak yang “tersambung satu dengan yang lain” menggambarkan umat yang tidak hidup sendiri-sendiri, tetapi saling terikat dalam perjanjian. Tidak ada papan yang bisa menjadi Kemah Suci sendirian. Demikian pula tidak ada orang percaya yang dipanggil untuk berdiri sendiri tanpa komunitas. Ketika teks ini mengulang, Allah sedang membentuk. Ia sedang menanamkan pola: taat berarti melakukan persis seperti yang diperintahkan. Iman bukan sekadar perasaan yang meledak-ledak; iman dibentuk oleh ketaatan yang berulang, oleh disiplin yang konsisten.
Sering kali kita menganggap pengulangan sebagai sesuatu yang membosankan: doa yang sama, ibadah mingguan, pembacaan firman yang rutin. Tetapi justru di situlah Allah bekerja. Seperti papan-papan yang dipasang satu per satu, hari demi hari, Tuhan sedang membangun karakter kita melalui repetisi rohani. Mungkin kita menginginkan pengalaman spektakuler. Namun Allah sering bekerja melalui hal yang sama yang dilakukan terus-menerus: berdoa lagi, taat lagi, setia lagi, mengampuni lagi. Pengulangan bukan tanda kekosongan makna, tetapi tanda keseriusan pembentukan.

Komentar
Posting Komentar