Ketika Keindahan Menjadi Bahasa Iman
Ketika Keindahan Menjadi Bahasa Iman
Keluaran 36:8–16
Dalam keluaran 36:8–16,
teks itu hampir terasa “terlalu teknis”. Panjangnya dua puluh delapan hasta.
Lebarnya empat hasta. Sepuluh lembar. Lima disambung dengan lima. Warna biru,
ungu, dan kirmizi. Gambar kerubim yang dikerjakan dengan seni. Mengapa Allah
yang Mahabesar memperhatikan ukuran tirai? Karena ibadah bukan sekadar
aktivitas rohani. Ibadah adalah ruang di mana Allah menyatakan diri-Nya—dan
manusia belajar mengenal-Nya melalui
simbol-simbol jasmani. Allah tidak anti keindahan. Di padang gurun yang keras,
Allah memerintahkan sesuatu yang indah dibangun. Bukan seadanya. Bukan asal
jadi. Tapi dengan perpaduan warna yang harmonis. Dengan pola yang terencana.
Dengan ukuran yang presisi. Seolah-olah Allah berkata: “Kehadiran-Ku layak
direspons dengan kesungguhan dan keindahan.”
Keindahan
di sini bukan kosmetik. Ia adalah bahasa. Warna biru, ungu, dan kirmizi menyatu
membentuk kesan kemuliaan. Kerubim yang ditenun dengan seni menjadi simbol
realitas surgawi. Estetika liturgi bukan sekadar mempercantik, tetapi
merepresentasikan kehadiran Allah yang kudus di tengah umat-Nya. Sering kali
kita menganggap unsur estetika tidak terlalu penting dalam ibadah. Yang penting
hanyalah khotbah atau Yang penting hatinya. Tetapi teks ini mengingatkan
bahwa hati yang sungguh mengasihi Tuhan akan rindu memberikan yang
terbaik—bahkan dalam detail. Presisi ukuran itu seperti cermin. Apakah hidup
kita juga terukur dan selaras? Ataukah kita datang kepada Tuhan dengan sikap
“asal cukup”? Allah tidak memerintahkan kemewahan tanpa makna. Ia memerintahkan
keteraturan dan harmoni. Estetika di sini berbicara tentang keselarasan—antara
iman dan tindakan, antara hati dan ekspresi.
Mungkin
hari ini pertanyaannya bukan tentang warna tirai. Tetapi tentang bagaimana kita
mempersiapkan ibadah. Bagaimana kita bernyanyi. Bagaimana kita menata hidup.
Karena pada akhirnya, Kemah Suci itu bukan tentang kain. Ia tentang perjumpaan.
Dan dalam perjumpaan itu, keindahan menjadi cara umat berkata: “Engkau mulia.” Ibadah
tidak meniadakan nilai estetika. Justru di dalam estetika yang tertata, umat
belajar melihat sekilas kemuliaan-Nya. Dan mungkin, saat kita merapikan hidup
di hadapan Tuhan, kita sedang menenun tirai kita sendiri— tirai yang memuliakan
Dia yang hadir di tengah kita. Maka ketika kita membaca detail tirai itu—warna
yang berpadu, ukuran yang presisi, sambungan yang rapi—kita sedang diingatkan
bahwa Allah hadir dalam kesungguhan umat-Nya. Keindahan bukan tambahan; ia
adalah respons kasih.
Saudara, sudahkah kita mempersembahkan keindahan terbaik—bukan hanya kemampuan, tetapi juga hati yang tertata? Hari ini, mungkin Tuhan tidak meminta kita menenun kain biru dan ungu. Tetapi Ia tetap mencari hati yang mau menata hidupnya dengan indah di hadapan-Nya—rapi dalam karakter, selaras dalam perkataan, presisi dalam ketaatan. Sebab setiap kali kita mempersembahkan yang terbaik—dalam ibadah, dalam pelayanan, dalam pekerjaan—kita sedang membangun “Kemah Suci” kecil di dalam hidup kita. Dan di sanalah, dalam kesungguhan dan keindahan yang dipersembahkan dengan kasih, kemuliaan-Nya berkenan diam. (FS)

Komentar
Posting Komentar