Postingan

Kreativitas yang Berakar pada Firman

Gambar
Sabtu, 10 Januari 2026 Kreativitas yang Berakar pada Firman   Bacaan Alkitab : Keluaran 32:15–20 Ketika Musa turun dari gunung Sinai, ia membawa dua loh batu—firman Allah yang tertulis oleh jari-Nya sendiri. Namun yang ia temui di bawah gunung adalah pemandangan yang mengejutkan: umat Allah sedang menari, bernyanyi, dan merayakan sebuah ibadah yang penuh ekspresi, tetapi kosong dari ketaatan. Anak lembu emas berdiri sebagai pusat perayaan mereka. Ada musik, ada tarian, ada antusiasme, tetapi tidak ada firman Tuhan. Di sinilah tragedi ibadah Israel bermula. Ibadah dalam Keluaran 32 bukanlah ibadah tanpa kreativitas. Justru sebaliknya, mereka sangat kreatif—mereka membentuk patung, menciptakan perayaan, menyusun ritual, dan membangkitkan emosi kolektif. Masalahnya bukan pada kreativitas, melainkan pada arah dan fondasinya. Kreativitas mereka tidak lahir dari firman Allah, tetapi dari keinginan manusia. Ketika kreativitas dilepaskan dari firman, ibadah berubah menjadi penyembahan ya...

Kasih yang Tidak Berubah, Hidup yang Harus Berubah

Gambar
Jumat, 9 Januari 2026 Kasih yang Tidak Berubah, Hidup yang Harus Berubah   Bacaan Alkitab : Keluaran 32:14 Saudara yang terkasih, Keluaran 32:14 sering dibaca secara keliru seolah-olah Allah berubah pikiran karena doa Musa. Pemahaman seperti ini berisiko merendahkan kemuliaan Allah. Alkitab dengan konsisten menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak berubah—baik dalam natur, kehendak, maupun karakter-Nya. Ia tetap kudus, adil, dan penuh kasih, dari kekekalan sampai kekekalan.  Ketika Alkitab menyatakan bahwa Tuhan “menyesal” atau “berbalik” dari rencana-Nya, hal itu bukanlah tanda ketidaksempurnaan Allah, melainkan bahasa manusia (anthropomorphic language) yang dipakai untuk menjelaskan tindakan Allah dalam relasi dengan manusia. Perubahan bukan terjadi pada diri Allah, melainkan pada cara manusia mengalami karya-Nya. Sejak semula, Allah adalah Allah yang mengasihi umat-Nya dan setia pada perjanjian-Nya. Karena itu, doa Musa tidak mengubah Allah, tetapi menyingkapkan sia...

Berdoa bagi Musuh

Gambar
Kamis, 8 Januari 2025 Berdoa bagi Musuh   Bacaan Alkitab : Keluaran 32: 11-13           Murka Allah yang dinyatakan sebelumnya tidak dihadapi Musa dengan ketakutan semata, melainkan dengan seruan iman yang berakar pada pengenalannya akan Allah. Musa tidak berbicara kepada Allah yang asing, tetapi kepada Allah yang telah ia kenal melalui perjumpaan yang kudus dan karya yang nyata dalam sejarah Israel. Dalam doanya, Musa menyatakan bahwa Allah adalah Penebus yang bertindak dalam sejarah. Dialah yang dengan kuasa besar membawa Israel keluar dari Mesir dan membentuk mereka menjadi suatu bangsa. Allah yang Musa kenal bukan Allah yang pasif, melainkan Pribadi yang terlibat aktif, yang membebaskan umat-Nya dan dengan setia menyelesaikan apa yang telah Ia mulai. Selain itu, Musa juga mengenal Allah sebagai Allah yang setia pada perjanjian-Nya. Ia mengingatkan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub—janji yang diikrarkan dengan sumpah dan ...

Ketaatan : Respons Sejati atas Firman

Gambar
Rabu, 7 Januari 2026 Ketaatan : Respons Sejati atas Firman   Bacaan Alkitab : Keluaran 32: 7-10 Saudara-saudara yang terkasih, Keluaran 32:7–10 membawa kita pada bagian penting dalam kisah anak lembu emas. Pada bagian ini, narasi beralih dari gambaran kekacauan yang terjadi di tengah bangsa Israel kepada hukuman Allah karena sikap umat-Nya. Allah menyampaikan kepada Musa bahwa bangsa Israel telah menyimpang dari jalan yang diperintahkan-Nya. Allah memerintahkan Musa untuk turun dari Gunung Sinai dan melihat sendiri apa yang sedang dilakukan bangsa itu: mereka membuat patung anak lembu emas sebagai representasi visual dari Allah yang mereka sembah. Ironisnya, peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Allah memberikan hukum Taurat-Nya, termasuk larangan tegas untuk tidak membuat dan menyembah berhala (Kel. 20:4–5).           Allah sebelumnya telah mengantisipasi kecenderungan bangsa Israel untuk membuat patung sebagai representasi Allah...

Iman yang Tak Terlihat: Menunggu dan Mengenali Kehadiran Allah

Gambar
Selasa, 6 Januari 2025 Iman yang Tak Terlihat: Menunggu dan Mengenali Kehadiran Allah   Bacaan Alkitab : Keluaran 32:2-6 Hati bangsa Israel mulai berubah. Ketakutan perlahan menggantikan keyakinan. Mereka tidak berkata bahwa Allah telah pergi, tetapi mereka mulai bertanya-tanya: Di mana Dia sekarang? Mereka datang kepada Harun, bukan untuk menyangkal Allah, melainkan untuk menyamakannya . “Buatlah bagi kami allah yang berjalan di depan kami,” kata mereka. Bukan allah lain—tetapi allah yang bisa mereka lihat. Harun pun mengumpulkan emas, meleburkan perhiasan yang dulu dipakai sebagai tanda pembebasan, dan membentuknya menjadi anak lembu. Dari emas yang sama, lahirlah pengganti Allah. Ketika patung itu berdiri, Harun berkata, “Inilah Allahmu, hai Israel.” Di saat itulah tragedi rohani terjadi. Allah yang hidup disamakan dengan benda mati. Allah yang berbicara dari api disederhanakan menjadi bentuk yang bisa disentuh. Bukan karena Allah berhenti hadir, tetapi karena manusia ber...

Penantian Bukan Tanda Ketidakhadiran Tuhan

Gambar
Senin, 5 Januari 2026 Penantian Bukan Tanda Ketidakhadiran Tuhan Bacaan Alkitab : Keluaran 32:1                Keluaran 32:1 membuka kisah kejatuhan Israel bukan dengan dosa yang mencolok, melainkan dengan sebuah kalimat yang tampak sederhana: “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa lambat turun dari gunung itu …” Tafsiran para penafsir menegaskan bahwa masalah utama ayat ini bukan keterlambatan Musa, melainkan ketidaksabaran umat dalam menunggu Allah. Waktu Tuhan dinilai dengan ukuran manusia, dan penantian yang seharusnya menjadi latihan iman berubah menjadi krisis kepercayaan. Menurut para penafsir, Musa bukan sekadar pemimpin yang absen, tetapi perantara yang sedang berada di hadirat Allah. Maka menunggu Musa berarti menunggu Allah sendiri. Ketika Israel gagal menunggu, mereka tidak hanya kehilangan arah, tetapi juga kehilangan pengenalan yang benar akan Allah yang baru saja menyatakan kasih dan kuasa-Nya melalui pembebasan dari Mesir dan ...

Sukacita yang Berakar pada Allah

Gambar
Sabtu, 3 Januari 2025  Sukacita yang Berakar pada Allah   Bacaan Alkitab : Mzm. 37 : 1-4           Saudara selamat memasuki tahun baru 2026 ini. Pada awal tahun ini, kita diajak untuk kembali merenungkan Firman Tuhan dari Mzm. 37: 1-4. Mazmur ini merupakan mazmur yang ditulis oleh Daud, yang menolong umat Tuhan memandang kehidupan dengan   bijaksana, khususnya ketika menghadapi kenyataan bahwa orang fasik sering tampak berhasil dan hidup dalam kelimpahan.   Daud membuka mazmur ini dengan sebuah perintah yang tegas “janganlah geram terhadap orang jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang.” (ay. 1). Perintah ini muncul dari realitas hidup yang sering menimbulkan pertanyaan, khususnya   ketika kita melihat orang-orang tidak hidup benar namun tampak berhasil dan berbahagia. Namun, Daud segera mengingatkan bahwa keberhasilan orang fasik bersifat sementara, seperti rumput yang segera layu dan seperti tumbu...