Mengenali Diri dan Mengatur Peran untuk Melayani Tuhan
Mengenali Diri dan Mengatur Peran untuk Melayani Tuhan
Musa, Harun,
dan para pemimpin umat Israel menghitung orang-orang Lewi dari kaum Kehat yang
berusia tiga puluh sampai lima puluh tahun dan memenuhi ketentuan untuk
melaksanakan pekerjaan di Kemah Suci sesuai dengan perintah Tuhan. Pencatatan
dilakukan menurut kaum dan keluarga mereka, sehingga jumlah orang yang memenuhi
syarat dapat diketahui dengan jelas. Dari kaum Kehat tercatat 2.750 orang yang
dapat melaksanakan pekerjaan pelayanan tersebut. Pencatatan ini merupakan
bagian dari proses mengenali siapa yang memenuhi ketentuan pelayanan dan
mengatur pelaksanaan tugas dalam pekerjaan Kemah Suci.
Dalam
konteks Israel, pencatatan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kepada Tuhan
memerlukan identifikasi dan organisasi. Identifikasi dilakukan dengan
memperhatikan jenis kelamin, usia, serta kaum dan keluarga, sesuai dengan
ketentuan yang Tuhan berikan bagi pelayanan orang Lewi. Tidak semua orang
memiliki tugas yang sama, sebab setiap kaum Lewi menerima tanggung jawab
tertentu dalam pemeliharaan dan pengangkutan Kemah Suci. Setelah orang-orang
yang memenuhi syarat dikenali, mereka diorganisasi untuk menjalankan pekerjaan
yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, pelayanan dilakukan melalui
pengenalan terhadap orang-orang yang akan melayani dan pengaturan tugas sesuai
dengan karunia masing-masing. Hal ini memperlihatkan bahwa pekerjaan Tuhan
membutuhkan orang-orang yang dikenali perannya sebelum diatur dalam pelayanan.
Dalam
kehidupan kita sekarang, prinsip identifikasi dan organisasi ini mengingatkan
bahwa kita perlu mengenali siapa diri kita, kemampuan yang Tuhan percayakan,
serta tanggung jawab yang dapat kita jalankan dalam pelayanan maupun pekerjaan.
Kita sering tergoda melakukan apa yang dilakukan orang lain karena melihat
keberhasilan, kemampuan, atau pengakuan yang mereka terima. Akibatnya, kita
mengejar peran yang bukan menjadi tanggung jawab kita, sementara kemampuan yang
Tuhan berikan kepada kita justru tidak dikembangkan. Padahal, dalam 1 Korintus
12:12–27, Paulus menggambarkan jemaat sebagai satu tubuh dengan banyak anggota.
Setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diperlukan untuk
membangun tubuh Kristus. Karena itu, kita perlu mengenali kemampuan dan peran
kita, kemudian mengorganisasikannya dengan baik agar dapat digunakan untuk
memuliakan Tuhan. Kita tidak harus menjadi seperti orang lain untuk menjadi
berguna bagi Tuhan. Yang Tuhan kehendaki bukanlah kita meniru peran orang lain,
melainkan setia mengembangkan dan menggunakan apa yang telah dipercayakan-Nya
kepada kita.
Refleksi: Apakah selama ini saya
menjalankan pelayanan dan pekerjaan berdasarkan kemampuan serta tanggung jawab
yang Tuhan percayakan, atau lebih sering mengikuti apa yang dilakukan orang
lain? Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi salinan orang lain. Dia
menghendaki kita mengenali kemampuan yang dipercayakan-Nya, mengembangkannya
dengan sungguh-sungguh, dan menggunakannya untuk tujuan-Nya. Dalam tubuh
Kristus, tidak semua anggota memiliki fungsi yang sama, tetapi setiap anggota
memiliki tempat dan perannya sendiri. Karena itu, berhentilah mengukur nilai
diri dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Kenali bagian yang Tuhan
percayakan, kerjakan dengan setia, dan biarkan kemampuan kita menjadi berkat
bagi sesama serta kemuliaan bagi nama-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar