Hidup Mengarah kepada Sang Pusat
Hidup Mengarah kepada Sang Pusat
Bilangan 2:1-9
menggambarkan bagaimana Tuhan mengatur umat Israel ketika mereka berada di
padang gurun. Setiap suku harus berkemah pada tempat yang telah ditentukan,
menurut kelompok dan panji mereka masing-masing. Mereka tidak boleh mendirikan
kemah secara sembarangan, sebab di tengah-tengah seluruh perkemahan terdapat
Kemah Pertemuan, tempat kehadiran Allah dinyatakan. Yehuda, Isakhar, dan
Zebulon berada di sebelah timur, dengan Yehuda sebagai pemimpin kelompok
tersebut. Dengan demikian, bangsa Israel memang terdiri atas banyak suku dengan
identitas, tugas, dan posisi yang berbeda, tetapi mereka hidup dalam satu
komunitas yang sama. Sebab di tengah-tengah perkemahan terdapat Kemah Suci,
yang menjadi pusat kehidupan umat Israel sebagai tempat kehadiran Allah
dinyatakan.
Bilangan 2:2
menunjukkan bahwa keteraturan perkemahan Israel bukan sekadar persoalan
teknis, tetapi berkaitan dengan kehidupan mereka sebagai umat Allah. Setiap
suku memiliki tempat dan tanggung jawab masing-masing, sementara Kemah Suci
berada di tengah-tengah perkemahan. Para teolog PL menjelaskan bahwa setiap
suku memiliki tempat tertentu di sekitar Kemah Suci, sementara Kemah Suci
berada di tengah-tengah perkemahan. Posisi ini menunjukkan bahwa Allah adalah
pusat kehidupan Israel dan seluruh kehidupan bangsa itu harus diatur berdasarkan
tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mereka dapat memiliki tempat dan tugas
yang berbeda—Yehuda di sebelah timur, suku-suku lain di sisi yang berbeda, dan
masing-masing memiliki fungsi dalam perjalanan bangsa itu—tetapi tidak ada suku
yang menjadi pusat bagi dirinya sendiri. Pusatnya tetap Allah. Ini menjadi
gambaran penting bahwa persekutuan umat Allah dibangun bukan karena semua orang
memiliki tugas yang sama, melainkan karena semua orang mengarahkan hidup kepada
Allah yang sama. Tantangan yang dihadapi setiap suku mungkin berbeda, posisi mereka
berbeda, dan tanggung jawab mereka berbeda, tetapi Allah tetap menjadi pusat
yang menyatukan seluruh komunitas.
Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan kita. Allah tidak memberikan kepada setiap orang pekerjaan, pelayanan, kemampuan, atau tanggung jawab yang sama. Ada yang bekerja di kantor, berdagang, mengurus rumah tangga, melayani di gereja, atau menjalankan pekerjaan yang tidak banyak dilihat orang lain. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi sarana untuk mengarahkan kehidupan kepada Allah melalui apa yang kita kerjakan. Karena itu, kita tidak perlu membandingkan posisi kita dengan orang lain. Seperti Israel yang memiliki tempat masing-masing di sekitar Kemah Pertemuan, kita pun dapat menjalankan tugas masing-masing dengan setia sambil tetap mengarahkan hidup kepada Allah. Apa pun pekerjaan dan pelayanan kita, pusatnya bukan diri kita, bukan keberhasilan kita, dan bukan pengakuan manusia, melainkan Allah.
Pertanyaan Refleksi : Apakah kita lebih
berfokus pada posisi dan tugas kita daripada kepada Allah yang memberikan tugas
tersebut? Kita boleh memiliki pekerjaan yang berbeda, pelayanan yang berbeda,
kemampuan yang berbeda, bahkan menghadapi tantangan yang berbeda. Namun,
semuanya dapat menjadi bagian dari kehidupan yang berpusat pada Allah. Sebab,
kehidupan yang tertata bukanlah kehidupan ketika semua orang melakukan hal yang
sama, melainkan ketika setiap orang menjalankan bagiannya dengan setia sambil
tetap menjadikan Allah sebagai pusatnya. (TH)

Komentar
Posting Komentar