Bukan Sekedar Dipanggil, Tetapi juga Dipersiapkan
Bukan Sekedar Dipanggil, Tetapi juga Dipersiapkan
Bilangan
3:38–39 mencatat pengaturan tempat dan tanggung jawab Musa, Harun, serta
anak-anak Harun di dekat Kemah Suci, sekaligus jumlah seluruh laki-laki suku
Lewi yang dihitung sesuai perintah Tuhan. Jumlah mereka mencapai 22.000 orang.
Sementara itu, Musa dan Harun ditempatkan di sebelah timur Kemah Suci untuk
berkemah, dekat pintu masuknya, dengan tanggung jawab menjaga tempat kudus.
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan orang Lewi bukan sekadar identitas suku,
melainkan berkaitan dengan tanggung jawab yang Tuhan percayakan, yaitu “mereka
mengerjakan tugas pemeliharaan Tempat Kudus bagi orang Israel.”
Dalam
Bilangan 3, pelayanan orang Lewi berlangsung dalam pengaturan Allah yang jelas.
Pertama, panggilan mereka berakar pada penetapan Tuhan. Orang
Lewi dikhususkan untuk melayani dan memelihara Kemah Suci. Pelayanan bukan
sekadar pilihan untuk melakukan suatu kegiatan, melainkan tanggung jawab yang
dipercayakan Allah. Kedua, panggilan perlu disertai keterampilan
untuk menjalankan tugas yang dipercayakan. Bilangan 3:38 menegaskan bahwa orang
Lewi mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus bagi orang Israel. Artinya,
mereka tidak hanya memiliki identitas sebagai orang yang dikhususkan untuk
melayani, tetapi juga harus menjalankan tanggung jawab tersebut secara nyata. Dalam
pelayanan gereja masa kini, tanggung jawab
yang dipercayakan kepada seseorang perlu dijalankan dengan kemampuan yang
memadai. Karena itu, kerinduan untuk melayani perlu disertai kesediaan belajar,
berlatih, menerima masukan, dan mengembangkan keterampilan. Panggilan memberi
arah bagi pelayanan, sedangkan keterampilan menolong kita menjalankan tanggung
jawab itu dengan baik.
Dalam pelayanan gereja, kita perlu memegang dua prinsip ini. Pertama, sadari panggilan kita untuk melayani Tuhan. Dalam pelayanan gereja, kita perlu melayani dengan kesadaran bahwa tugas yang dipercayakan kepada kita merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kedua, kembangkan keterampilan dan kesungguhan hati untuk menjalankan tugas tersebut. Niat yang baik perlu disertai kemauan belajar, latihan, kedisiplinan, dan kesediaan memperbaiki diri. Orang yang melayani musik perlu mengembangkan kemampuan bermusik; guru sekolah minggu perlu mempersiapkan pengajaran; pelayan administrasi perlu bekerja dengan cermat. Passion saja tidak cukup tanpa kesediaan belajar, sedangkan keterampilan tanpa hati yang bersedia melayani dapat kehilangan arah. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya dipanggil untuk melayani?” tetapi juga, “Apakah saya sedang mempersiapkan diri untuk mengerjakan pelayanan yang Tuhan percayakan dengan baik?” Panggilan memberi kita alasan untuk melayani, sedangkan kesiapan dan kesungguhan menolong kita menjalankan pelayanan itu dengan bertanggung jawab.
Refleksi : Apakah kesungguhan
menjawab panggilan terlihat dari kesediaan memperlengkapi diri? Mungkin kita
tidak memiliki kemampuan yang sama dengan orang lain, tetapi kita selalu dapat
memilih untuk terus belajar dan bertumbuh. Jangan biarkan keterbatasan membuat
kita berhenti mempersiapkan diri. Jika Tuhan mempercayakan pelayanan kepada
kita, kerjakanlah dengan hati yang bersedia dibentuk dan kemampuan yang terus
dikembangkan. (TH)

Komentar
Posting Komentar