Jangan Mengambil Keuntungan dari Kesulitan Orang Lain

Jumat, 4 September 2026
Jangan Mengambil Keuntungan dari Kesulitan Orang Lain 
Bacaan Alkitab : Imamat 25:13–17

Imamat 25:13–17 berbicara tentang transaksi tanah dalam konteks tahun Yobel. Harga tanah yang dijual tidak boleh ditentukan dengan mengabaikan nilai ekonomis yang sebenarnya dan kondisi Yobel, apalagi dengan memanfaatkan keadaan pihak yang sedang terdesak. Harga harus mempertimbangkan berapa lama waktu yang tersisa sampai tahun Yobel. Semakin dekat dengan tahun Yobel, semakin sedikit hasil yang dapat diperoleh dari tanah itu, sehingga nilainya pun harus disesuaikan. Menariknya, Allah tidak melarang umat-Nya melakukan transaksi atau memperoleh keuntungan. Yang Allah larang adalah mengambil keuntungan dengan cara merugikan sesama. Ayat 14 menegaskan, “Janganlah kamu merugikan satu sama lain.” Artinya, dalam kehidupan ekonomi umat Allah, keuntungan tidak boleh dibangun di atas kesulitan orang lain.

Prinsip ini penting karena terkadang kita merasa tidak sedang berbuat dosa selama sesuatu dilakukan secara “sah”. Secara hukum mungkin tidak ada yang salah. Kesepakatan sudah dibuat, kedua pihak menandatangani, dan transaksi berlangsung secara resmi. Sebuah kesepakatan mungkin dibuat secara resmi dan disetujui oleh kedua pihak. Namun, sebagai umat Allah, kita tidak hanya dipanggil untuk bertanya apakah sebuah transaksi sah secara hukum, tetapi juga apakah transaksi itu dilakukan dengan adil dan tidak merugikan sesama.  Dalam sistem Yobel, seseorang tidak boleh memanfaatkan kondisi orang lain untuk menentukan harga tanah sesuka hatinya. Jika seseorang menjual tanah karena kebutuhan, keadaan tersebut tidak boleh menjadi kesempatan bagi pihak lain untuk mengeksploitasi. Allah memberikan batas moral terhadap keuntungan: ada sesuatu yang tidak boleh kita ambil dari orang lain, sekalipun kita memiliki kesempatan untuk mengambilnya.

Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan kita. Ada kalanya seseorang sedang terdesak secara ekonomi, membutuhkan pertolongan, atau berada dalam posisi yang lemah. Pada saat seperti itu, kita mungkin memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar. Kita bisa berkata, “Dia sendiri yang setuju,” atau, “Tidak ada yang memaksanya.” Tetapi sebagai umat Allah, pertanyaan kita seharusnya lebih dalam. Bukan hanya, “Apakah saya bisa?” tetapi, “Apakah Allah berkenan? Iman tidak hanya terlihat ketika kita memberi, tetapi juga ketika kita menahan diri untuk tidak mengambil keuntungan yang berlebihan. Integritas bukan hanya soal menaati hukum, tetapi juga menghormati sesama sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. 

        Saudara, apakah keuntungan saya diperoleh dengan cara yang adil, atau karena saya memanfaatkan kesulitan orang lain? Biarlah kiranya kita menjadi orang-orang yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menjaga keadilan. Ketika kita memiliki kesempatan untuk mengambil lebih banyak karena orang lain sedang berada dalam kesulitan, kiranya hati kita memilih untuk berhenti dan bertanya: bukan sekadar “berapa banyak yang bisa saya dapatkan?”, tetapi “apakah ini berkenan kepada Allah?” Sebab berkat yang kita terima tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi alasan mengeksploitasi sesama, melainkan kesempatan untuk hidup dalam keadilan dan kasih. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Berkat Allah adalah Deklarasi