Dari Menguasai kepada Memelihara

Rabu, 2 September 2026
Dari Menguasai kepada Memelihara 
Bacaan Alkitab : Imamat 25:1–7

 

Imamat 25:1–7 berbicara tentang tahun Sabat bagi tanah. Setelah bangsa Israel masuk ke tanah yang Allah janjikan, mereka diperintahkan untuk mengusahakan tanah selama enam tahun, tetapi pada tahun ketujuh tanah itu harus mendapat perhentian. Tanah tidak boleh ditaburi atau dituai secara biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Perintah ini menunjukkan bahwa kehidupan Israel tidak hanya diatur dalam hubungan mereka dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga dalam cara mereka memperlakukan tanah yang Allah berikan. Dengan demikian, sejak awal Allah menunjukkan bahwa manusia tidak boleh menggunakan ciptaan secara terus-menerus tanpa batas. Tanah yang menghasilkan bagi manusia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Perintah tahun Sabat menunjukkan bahwa alam bukan sekadar alat yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tanah memang diberikan untuk diusahakan, tetapi manusia tidak diberikan kebebasan untuk mengeksploitasinya tanpa batas. Bahkan tanah mendapatkan waktu untuk beristirahat. Prinsip ini semakin dipertegas di keseluruhan imamat 25, khususnya dalam ayat 23 ketika Allah berkata, “Akulah pemilik tanah itu,” sedangkan Israel hanya disebut sebagai pendatang. Artinya, Allah adalah pemilik ciptaan, sementara manusia adalah pihak yang dipercayakan untuk mengelolanya. Karena manusia hidup dari alam, manusia juga memiliki tanggung jawab untuk memelihara alam. Ada hubungan yang saling berkaitan: alam menopang kehidupan manusia, dan manusia bertanggung jawab menjaga keberlangsungan alam. Karena itu, kuasa manusia atas ciptaan bukanlah izin untuk mengeksploitasi, melainkan panggilan untuk mengusahakan dan memeliharanya dengan bertanggung jawab.

Hari ini kita hidup dalam dunia yang sering melihat alam hanya berdasarkan manfaat dan keuntungan yang dapat dihasilkan. Hutan menjadi sumber kayu, tanah menjadi lahan produksi, laut menjadi sumber ekonomi, dan berbagai sumber daya alam terus diambil tanpa selalu memikirkan keberlangsungannya. Imamat 25 mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang dapat saya ambil dari alam?”, tetapi juga, “Apa yang dapat saya lakukan untuk memelihara alam yang Allah percayakan kepada saya?” Kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab iman. Sebab ketika kita menjaga ciptaan, kita sedang menghormati apa yang Allah ciptakan dan percayakan kepada kita. Kita menerima kehidupan dari ciptaan Allah, karena itu kita juga dipanggil untuk menjaga kehidupan ciptaan tersebut.

Refleksi: Kita hidup dari alam, tetapi sering lupa bahwa alam juga membutuhkan kepedulian kita. Jangan hanya bertanya apa yang dapat kita ambil, tetapi juga apa yang dapat kita pelihara. Allah mempercayakan ciptaan kepada manusia bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk diusahakan dan dipelihara. Mari menjadi manusia yang tidak hanya menikmati ciptaan, tetapi juga bertanggung jawab atasnya. (RT)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Berkat Allah adalah Deklarasi