Dari Menguasai kepada Memelihara
Dari Menguasai kepada Memelihara
Imamat 25:1–7 berbicara tentang tahun Sabat bagi tanah.
Setelah bangsa Israel masuk ke tanah yang Allah janjikan, mereka diperintahkan
untuk mengusahakan tanah selama enam tahun, tetapi pada tahun ketujuh tanah itu
harus mendapat perhentian. Tanah tidak boleh ditaburi atau dituai secara biasa
seperti tahun-tahun sebelumnya. Perintah ini menunjukkan bahwa kehidupan Israel
tidak hanya diatur dalam hubungan mereka dengan Allah dan sesama manusia,
tetapi juga dalam cara mereka memperlakukan tanah yang Allah berikan. Dengan
demikian, sejak awal Allah menunjukkan bahwa manusia tidak boleh menggunakan
ciptaan secara terus-menerus tanpa batas. Tanah yang menghasilkan bagi manusia
juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Perintah tahun Sabat menunjukkan bahwa alam bukan sekadar
alat yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tanah memang diberikan
untuk diusahakan, tetapi manusia tidak diberikan kebebasan untuk
mengeksploitasinya tanpa batas. Bahkan tanah mendapatkan waktu untuk
beristirahat. Prinsip ini semakin dipertegas di
keseluruhan imamat 25, khususnya dalam ayat 23 ketika Allah berkata, “Akulah
pemilik tanah itu,” sedangkan Israel hanya disebut sebagai
pendatang. Artinya, Allah adalah pemilik ciptaan, sementara manusia adalah
pihak yang dipercayakan untuk mengelolanya. Karena manusia hidup dari alam,
manusia juga memiliki tanggung jawab untuk memelihara alam. Ada hubungan yang
saling berkaitan: alam menopang kehidupan manusia, dan manusia bertanggung
jawab menjaga keberlangsungan alam. Karena itu, kuasa manusia atas ciptaan
bukanlah izin untuk mengeksploitasi, melainkan panggilan untuk mengusahakan dan
memeliharanya dengan bertanggung jawab.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang sering melihat alam
hanya berdasarkan manfaat dan keuntungan yang dapat dihasilkan. Hutan menjadi
sumber kayu, tanah menjadi lahan produksi, laut menjadi sumber ekonomi, dan
berbagai sumber daya alam terus diambil tanpa selalu memikirkan
keberlangsungannya. Imamat 25 mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh hanya
bertanya, “Apa yang dapat saya ambil dari alam?”, tetapi juga, “Apa yang dapat
saya lakukan untuk memelihara alam yang Allah percayakan kepada saya?” Kepedulian
terhadap lingkungan bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga bagian dari
tanggung jawab iman. Sebab ketika kita menjaga ciptaan, kita sedang menghormati
apa yang Allah ciptakan dan percayakan kepada kita. Kita menerima kehidupan
dari ciptaan Allah, karena itu kita juga dipanggil untuk menjaga kehidupan
ciptaan tersebut.
Refleksi:
Kita hidup dari alam, tetapi sering lupa bahwa alam juga membutuhkan kepedulian
kita. Jangan hanya bertanya apa yang dapat kita ambil, tetapi juga apa yang
dapat kita pelihara. Allah mempercayakan ciptaan kepada manusia bukan untuk
dieksploitasi, tetapi untuk diusahakan dan dipelihara. Mari menjadi manusia
yang tidak hanya menikmati ciptaan, tetapi juga bertanggung jawab atasnya. (RT)

Komentar
Posting Komentar