Perhentian dalam Kehidupan

Senin, 24 Agustus 2026
Perhentian dalam Kehidupan
Bacaan Alkitab : Imamat 23 : 23-25


            Dalam ayat ini, Allah berfirman kepada Musa agar bangsa Israel mengadakan hari perhentian yang ditandai dengan bunyi serunai. Pada masa kini, hari tersebut kemudian dikenal dalam komunitas Yahudi sebagai Rosh Hashanah, yang jatuh pada hari pertama bulan Tisyri dan menjadi penanda tahun baru dalam kalender Yahudi. Hari perhentian adalah waktu untuk berhenti dari aktivitas sehari-hari, mengingat Allah, memeriksa kehidupan, bertobat dari jalan yang salah, dan mengakui Allah sebagai Tuhan. Ini bukan satu-satunya bentuk perhentian yang Allah berikan kepada bangsa Israel. Ada Sabat mingguan, ketika mereka berhenti dari pekerjaan setiap minggu; ada hari-hari raya yang ditetapkan pada waktu tertentu dalam setahun; ada Tahun Sabat, ketika setiap tahun ketujuh tanah dibiarkan beristirahat; dan ada Tahun Yobel, setelah tujuh kali tujuh tahun, ketika kebebasan diumumkan, tanah dikembalikan kepada keluarga pemiliknya, dan orang-orang yang menjadi hamba karena keadaan ekonomi dibebaskan. Melalui berbagai bentuk perhentian ini, Allah mengajar umat-Nya untuk menyediakan waktu secara khusus untuk mengingat karya-Nya dan merenungkan kehidupan mereka di hadapan-Nya.

        Perenungan hidup bersama Allah tidak dilakukan hanya sesekali, tetapi menjadi bagian dari perjalanan hidup. Setiap minggu, setiap tahun, bahkan dalam siklus beberapa tahun, umat Allah memiliki kesempatan untuk berhenti dan melihat kembali perjalanan mereka. Dalam perhentian-perhentian tersebut, bangsa Israel mengingat karya besar Allah: pembebasan dari Mesir, pemeliharaan selama perjalanan di padang gurun, serta berbagai perayaan yang mengingatkan mereka akan belas kasih, kemurahan, dan pembebasan yang Allah berikan. Setiap perhentian membawa mereka untuk mengingat masa lalu, menyadari penyertaan Allah pada masa kini, dan mengarahkan langkah mereka menuju masa depan bersama Allah.

        Saudara, kualitas hidup manusia tidak ditentukan oleh pencapaian, pekerjaan, atau seberapa besar dampak yang kita hasilkan bagi diri sendiri maupun orang lain. Kualitas hidup terutama ditentukan oleh relasi kita dengan Allah yang terus-menerus. Jika hidup kita adalah tentang melakukan kehendak Allah, maka refleksi, perenungan, dan ketaatan terhadap kehendak-Nya perlu mendapat tempat dalam waktu-waktu hiup kita. Refleksi mingguan membantu kita melihat keadaan hidup secara konkret: keputusan yang kita ambil, kesalahan yang kita lakukan, dan bagaimana Allah menyertai kita. Refleksi tahunan memberikan perspektif yang lebih luas karena kita dapat melihat berbagai pengalaman sebagai sebuah kesatuan. Dari sana, kita dapat melihat ke mana arah hidup, apa yang Allah kerjakan, sikap hidup mana yang perlu diperbaiki, dan bagaimana cara kita melangkah selanjutnya. Perhentian adalah kesempatan untuk melihat perjalanan hidup, dan memastikan bahwa langkah kita tetap berada dalam kehendak Allah. 

RefleksiJika hidup adalah melakukan kehendak Allah, sudahkan anda memberi waktu untuk berhenti, merenungkan hidup ketaatan saudara? Jika hidup adalah melakukan kehendak Allah, sudahkan anda memberi waktu untuk berhenti, merenungkan hidup ketaatan saudara? (TM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Garam dan Terang Dunia