My Hiding Place – Tempat Perlindunganku
My Hiding Place – Tempat Perlindunganku
Imamat
19:26–31 merupakan satu kesatuan yang berbicara tentang kemurnian penyembahan
kepada Tuhan. Berbagai larangan dalam nats ini menunjukkan bahwa Israel tidak
boleh mengadopsi praktik-praktik yang bertentangan dengan kekudusan dan
kesetiaan kepada TUHAN, termasuk praktik religius yang dikenal di antara
bangsa-bangsa di sekitar mereka, baik di Mesir maupun di Kanaan.
Dalam ayat
29, Allah melarang seorang ayah menyerahkan anak perempuannya kepada
percabulan. Ungkapan ini menunjuk pada tindakan menjadikan atau membiarkan anak
perempuan terlibat dalam pelacuran. Dalam konteks dunia Kanaan kuno, larangan
ini sering dikaitkan dengan praktik seksual yang berhubungan dengan kehidupan
religius dan kultus kesuburan. Mereka percaya bahwa tindakan seksual di kuil
akan mendatangkan kesuburan, panen, dan berkat. Allah menolak praktik tersebut
karena penyembahan kepada-Nya tidak pernah boleh dicampur dengan cara-cara
dunia. Dengan demikian, persoalan utamanya bukan sekadar tindakan amoral,
melainkan mencari berkat, perlindungan, dan keamanan melalui jalan yang
bertentangan dengan kehendak Allah. Israel dipanggil untuk bergantung
sepenuhnya kepada TUHAN, bukan kepada praktik-praktik yang menjanjikan kuasa
atau keberhasilan di luar penyataan-Nya.
Prinsip ini
tetap relevan bagi orang percaya masa kini. Mungkin kita tidak lagi mencari
dukun, peramal, atau ritual kesuburan. Namun, hati manusia tetap memiliki
kecenderungan yang sama: mencari rasa aman di luar Allah. Sebagian orang
menggantungkan hidup pada kekayaan, investasi, jabatan, relasi, atau kemampuan
intelektual. Semua itu adalah anugerah Tuhan, tetapi ketika dijadikan sumber
keamanan utama, semuanya berubah menjadi berhala. Kita mulai percaya bahwa masa
depan akan aman karena saldo rekening, jaringan relasi, atau kemampuan diri,
bukan karena pemeliharaan Allah. Tentu Alkitab tidak melarang bekerja keras,
merencanakan keuangan, atau mempersiapkan masa depan. Yang dilarang adalah
memindahkan pusat kepercayaan dari Allah kepada sesuatu yang kita miliki
atau kuasai. Itulah bentuk penyembahan yang halus, tetapi nyata. Sejak keluar
dari Mesir, Allah melarang Israel membawa pola hidup lama mereka. Menjelang
memasuki Kanaan, Allah juga memperingatkan agar mereka tidak meniru praktik
bangsa-bangsa di sana. Artinya, umat Allah dipanggil hidup berbeda—tidak
dibentuk oleh masa lalu maupun oleh budaya sekitarnya, melainkan oleh firman
Tuhan. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak "jaminan
keamanan", panggilan Allah tetap sama: bergantunglah hanya kepada TUHAN.
Sebab keamanan sejati tidak berasal dari apa yang kita miliki, melainkan dari
Pribadi yang memegang hidup kita.

Komentar
Posting Komentar