My Hiding Place – Tempat Perlindunganku

Sabtu, 1 Agustus 2026
My Hiding Place – Tempat Perlindunganku 
Bacaan Alkitab : Imamat 19 : 26-31

Imamat 19:26–31 merupakan satu kesatuan yang berbicara tentang kemurnian penyembahan kepada Tuhan. Berbagai larangan dalam nats ini menunjukkan bahwa Israel tidak boleh mengadopsi praktik-praktik yang bertentangan dengan kekudusan dan kesetiaan kepada TUHAN, termasuk praktik religius yang dikenal di antara bangsa-bangsa di sekitar mereka, baik di Mesir maupun di Kanaan.

Dalam ayat 29, Allah melarang seorang ayah menyerahkan anak perempuannya kepada percabulan. Ungkapan ini menunjuk pada tindakan menjadikan atau membiarkan anak perempuan terlibat dalam pelacuran. Dalam konteks dunia Kanaan kuno, larangan ini sering dikaitkan dengan praktik seksual yang berhubungan dengan kehidupan religius dan kultus kesuburan. Mereka percaya bahwa tindakan seksual di kuil akan mendatangkan kesuburan, panen, dan berkat. Allah menolak praktik tersebut karena penyembahan kepada-Nya tidak pernah boleh dicampur dengan cara-cara dunia. Dengan demikian, persoalan utamanya bukan sekadar tindakan amoral, melainkan mencari berkat, perlindungan, dan keamanan melalui jalan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Israel dipanggil untuk bergantung sepenuhnya kepada TUHAN, bukan kepada praktik-praktik yang menjanjikan kuasa atau keberhasilan di luar penyataan-Nya.

Prinsip ini tetap relevan bagi orang percaya masa kini. Mungkin kita tidak lagi mencari dukun, peramal, atau ritual kesuburan. Namun, hati manusia tetap memiliki kecenderungan yang sama: mencari rasa aman di luar Allah. Sebagian orang menggantungkan hidup pada kekayaan, investasi, jabatan, relasi, atau kemampuan intelektual. Semua itu adalah anugerah Tuhan, tetapi ketika dijadikan sumber keamanan utama, semuanya berubah menjadi berhala. Kita mulai percaya bahwa masa depan akan aman karena saldo rekening, jaringan relasi, atau kemampuan diri, bukan karena pemeliharaan Allah. Tentu Alkitab tidak melarang bekerja keras, merencanakan keuangan, atau mempersiapkan masa depan. Yang dilarang adalah memindahkan pusat kepercayaan dari Allah kepada sesuatu yang kita miliki atau kuasai. Itulah bentuk penyembahan yang halus, tetapi nyata. Sejak keluar dari Mesir, Allah melarang Israel membawa pola hidup lama mereka. Menjelang memasuki Kanaan, Allah juga memperingatkan agar mereka tidak meniru praktik bangsa-bangsa di sana. Artinya, umat Allah dipanggil hidup berbeda—tidak dibentuk oleh masa lalu maupun oleh budaya sekitarnya, melainkan oleh firman Tuhan. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak "jaminan keamanan", panggilan Allah tetap sama: bergantunglah hanya kepada TUHAN. Sebab keamanan sejati tidak berasal dari apa yang kita miliki, melainkan dari Pribadi yang memegang hidup kita.

        Saudara, apakah keputusan-keputusan penting dalam hidup saya lebih banyak didorong oleh iman kepada Tuhan atau oleh rasa takut kehilangan keamanan? Mari berdoa dan meminta pertolongan Roh Kudus agar senantiasa memberikan hikmat saat mengambil keputusan. Sehingga tidak dimotivasi oleh pencarian akan perlindungan dan keamanan yang tidak tepat. Tuhan saja yang akan menjadi  tempat perlindungan kita seumur hidup.  (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Garam dan Terang Dunia