Milik Kita, Tetapi Untuk Siapa?
Milik Kita, Tetapi Untuk Siapa?
Dalam Imamat
24:5–9, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membuat dua belas roti dan
meletakkannya di atas meja yang kudus di hadapan-Nya. Roti-roti itu disusun
menjadi dua tumpukan, masing-masing enam roti, dan di atasnya diberikan
kemenyan sebagai tanda peringatan. Setiap hari Sabat, roti tersebut harus
diganti dengan roti yang baru. Roti yang telah diganti menjadi bagian Harun dan
anak-anaknya untuk dimakan di tempat kudus, karena roti itu telah dikhususkan
bagi Tuhan. Dengan demikian, roti yang merupakan kebutuhan pokok sehari-hari
tidak hanya hadir sebagai makanan untuk dikonsumsi, tetapi juga ditempatkan
terlebih dahulu di hadapan Tuhan sebagai bagian dari kehidupan umat yang
dipersembahkan kepada-Nya.
Roti pada
zaman Israel merupakan salah satu kebutuhan pokok kehidupan. Roti bukan barang
mewah; roti adalah sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup. Namun,
menariknya, Tuhan tidak mengatakan bahwa seluruh roti itu harus langsung
dikonsumsi oleh umat. Sebagian roti justru dipersembahkan dan ditempatkan di
hadapan Tuhan. Ini mengajarkan sebuah prinsip penting: apa yang kita miliki dan
kita perlukan untuk hidup tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginan kita sendiri. Roti tersebut ditempatkan di hadapan Tuhan sebagai
bagian dari tata ibadah Israel. Hal ini untuk mengingatkan umat bahwa kehidupan
dan segala sesuatu yang menopangnya berada dalam pemeliharaan Tuhan. Roti tersebut bukan berarti Tuhan membutuhkan
makanan manusia, melainkan menjadi tanda bahwa kehidupan dan segala sesuatu
yang menopangnya berada di bawah pemeliharaan dan kepunyaan Tuhan.
Hal ini
membawa kita kepada perenungan tentang kepemilikan dan konsumsi dalam kehidupan
sehari-hari. Sering kali kita berpikir apa yang kita hasilkan dari bekerja
merupakan milik kita sepenuhnya. Namun, firman Tuhan mengajak kita melihat
kepemilikan dari sudut pandang yang berbeda. Ketika Tuhan memberikan kepada
kita penghasilan, makanan, rumah, kemampuan, waktu, kesehatan, atau berbagai
berkat lainnya, kita perlu bertanya: “Tuhan bagaimana Engkau menghendaki aku
menggunakan semua yang telah Engkau percayakan kepadaku?” Roti mengingatkan kita bahwa tidak semua yang ada
di tangan kita harus kita konsumsi sendiri. Ada bagian yang harus dikembalikan
kepada Tuhan melalui persembahan, kemurahan hati, pelayanan, dan kepedulian
kepada sesama. Tuhan sedang mengajar kita untuk percaya bahwa Dia sanggup
memelihara kita. Dengan demikian, kita tidak hidup hanya dengan prinsip “apa
yang saya punya adalah hak saya untuk saya habiskan,” melainkan dengan
kesadaran bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita memiliki maksud dan
tujuan di hadapan-Nya. Kepemilikan menjadi kesempatan untuk bersyukur, dan
konsumsi menjadi tindakan yang dilakukan dengan tanggung jawab di hadapan
Tuhan.
Refleksi : Saudara, dari semua yang
Tuhan percayakan kepada saya, berapa banyak yang hanya saya pikirkan untuk
kebutuhan dan kesenangan saya sendiri, dan berapa banyak yang saya gunakan
sesuai dengan maksud Tuhan? Kiranya Tuhan menolong kita untuk senantiasa
menyadari apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan dengan apa yang telah Dia
percayakan kepada kita. Karena pada akhirnya, berkat bukan hanya untuk
dikonsumsi, tetapi juga untuk dipersembahkan dan menjadi berkat bagi orang
lain. (TH)

Komentar
Posting Komentar