Mewariskan Pengalaman Tentang Kesetiaan Allah
Mewariskan Pengalaman Tentang Kesetiaan Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 23:39–44
Imamat 23:39–44 berbicara tentang Hari Raya Pondok Daun,
perayaan Israel setelah mengumpulkan hasil tanah. Mereka diperintahkan
bersukacita di hadapan Tuhan dan tinggal dalam pondok selama tujuh hari. Ayat
42–43 menunjukkan tujuan yang lebih dalam: “supaya diketahui
oleh keturunanmu” bahwa Tuhan telah membuat Israel tinggal di
pondok ketika membawa mereka keluar dari Mesir. Pondok menjadi monumen hidup. Israel masuk kembali ke dalam suasana
sederhana untuk mengingat masa ketika mereka tidak memiliki rumah permanen dan
bergantung pada pemeliharaan Allah. Mereka bukan sekadar menceritakan sejarah;
mereka menghidupkan kembali pengalaman itu melalui ritual. Di sini kita melihat
hubungan antara pengalaman, ritual, dan harapan. Ritual mengekstrak pengalaman
sejarah menjadi pengalaman iman pada masa kini. Apa yang Allah lakukan dahulu
dihadirkan kembali supaya generasi sekarang mengingat kesetiaan-Nya dan
memiliki pengharapan untuk masa depan.
Kita pun mudah lupa. Ketika keadaan menjadi lebih baik, kita sering melihat apa yang kita miliki sekarang dan lupa bagaimana Tuhan membawa kita sampai di titik ini. Dulu kita pernah berdoa untuk sesuatu yang sekarang kita nikmati. Dulu kita berada dalam ketidakpastian, tetapi Tuhan membuka jalan. Dulu kita pernah menangis, tetapi Tuhan tetap memelihara. Namun, kenyamanan dapat membuat kita lupa. Ketika hidup mulai mapan, kita lupa bagaimana dahulu kita bergantung kepada Tuhan. Ketika kebutuhan tercukupi, kita lupa bagaimana dahulu kita berdoa meminta pertolongan. Ketika pintu akhirnya terbuka, kita lupa bahwa dahulu kita pernah bertanya, “Tuhan, bagaimana jalan keluarnya?” Karena itu, kita membutuhkan “pondok” dalam kehidupan: sesuatu yang menolong kita mengingat kembali kesetiaan Allah. Kita perlu mengingat doa yang dijawab, pertolongan yang diterima, dan masa sulit yang dilewati bersama Tuhan. Tetapi pengalaman itu jangan berhenti pada diri kita. Ayat 43 berkata, “supaya diketahui oleh keturunanmu.” Kesetiaan Allah harus menjadi warisan iman. Generasi berikutnya tidak hanya membutuhkan teori tentang Tuhan; mereka perlu mendengar bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Jangan sampai kita hanya mewariskan ritual tanpa pengalaman, tradisi tanpa kesaksian, dan kebiasaan tanpa cerita tentang kesetiaan Allah. Ceritakanlah bagaimana Tuhan menolong. Ceritakanlah bagaimana Dia memelihara. Ceritakanlah bagaimana Dia tetap hadir ketika kita tidak mengerti jalan-Nya. Dengan demikian, ritual dan ingatan tidak hanya membawa kita melihat ke belakang. Pengalaman masa lalu memperbarui iman pada masa kini, dan iman yang diperbarui memberi keberanian menghadapi masa depan. Kita mengingat bahwa Tuhan pernah setia supaya kita percaya bahwa Dia tetap setia.
Saudara, Pengalaman kesetiaan Allah apa yang perlu kita wariskan kepada generasi berikutnya? Biarlah kiranya kita tidak menjadi generasi yang menikmati kesetiaan Allah tetapi melupakan ceritanya. Biarlah kita menjadi generasi yang mengingat, menghidupi, dan menceritakan kembali bagaimana Tuhan telah menolong kita. Pengalaman bersama Allah terlalu berharga untuk berhenti menjadi kenangan pribadi. (FS)

Komentar
Posting Komentar