Menjaga Terang Kehadiran Allah
Menjaga Terang Kehadiran Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 24 : 1-4
Dalam Imamat 24:1–4, Tuhan memerintahkan
bangsa Israel untuk memastikan lampu di dalam Kemah Pertemuan tetap menyala
dengan menyediakan minyak zaitun murni. Imam Harun bertugas mengatur lampu itu
di hadapan Tuhan, dari petang sampai pagi agar tetap menyala.
Menarik untuk diperhatikan: Allah
yang adalah sumber segala terang justru melibatkan manusia
untuk menjaga lampu agar tetap menyala. Tentu bukan berarti Allah bergantung
kepada manusia. Allah tidak membutuhkan manusia untuk mempertahankan
keberadaan-Nya. Namun, Allah
memberikan kepada umat-Nya tanggung jawab untuk memelihara lampu yang terus
menyala di hadapan-Nya, yang dapat menjadi pengingat akan kehidupan umat yang
berlangsung di hadapan Allah. Di sinilah terdapat sebuah pengalaman rohani yang dalam. Kemah Pertemuan
adalah tempat umat Israel mengalami kesadaran bahwa Allah ada di tengah-tengah
mereka. Kehadiran Allah bukan sekadar sebuah konsep atau pengetahuan teologis.
Ada tanda yang dapat mereka lihat: lampu yang terus menyala. Sebagai makhluk jasmani,
manusia mengalami dan mengingat berbagai hal melalui tanda-tanda yang dapat
dilihat dan dialami. Karena itu, Allah dalam hikmat-Nya memberikan berbagai
tanda yang dapat menolong umat-Nya mengingat dan menyadari karya serta kehadiran-Nya. Kita melihat, menyentuh,
mendengar, dan mengalami dunia melalui hal-hal yang bersifat fisik. Karena itu,
Allah -yang adalah Roh- (Yoh. 4:24) memberikan berbagai tanda fisik yang dapat
menolong manusia mengingat Allah sebagai suatu realitas yang tidak kelihatan
namun tetap hadir di tengah-tengah umat-Nya.
Saudara, ada sesuatu yang dapat
kita renungkan dari tugas menjaga lampu ini. Kemah adalah tempat pelayanan. Ada
imam, korban, mezbah, peraturan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas ibadah. Di tengah seluruh
aktivitas ibadah itu, Tuhan menetapkan agar lampu tetap menyala di hadapan-Nya.
Ketetapan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dan pelayanan umat Tuhan
berlangsung di hadapan Allah. Bukankah ini juga dapat terjadi dalam kehidupan kita? Kita dapat begitu
sibuk melayani Tuhan tetapi kehilangan kesadaran akan Tuhan. Kita dapat aktif
dalam gereja, sibuk dalam pelayanan, mengerjakan banyak hal untuk Tuhan, tetapi
hati kita tidak lagi berhenti untuk menyadari: “Tuhan hadir.” Kita berada di
“dalam kemah” dan sibuk dalam pelayanan, tetapi kehilangan kesadaran terhadap
Dia yang hadir di dalamnya. Karena itu, lampu yang terus menyala mengingatkan
kita bahwa kehidupan pelayanan kita tidak boleh membuat kita kehilangan fokus kepada
Allah yang kita layani. Oleh karena itu, seluruh pelayanan kita
membutuhkan kehadiran-Nya yang menguatkan, memberi hikmat dan menyertai
senantiasa.
Pertanyaan : Apakah dalam seluruh aktivitas
pelayanan yang kita kerjakan, kita tetap menyadari kehadiran-Nya? Jika
kesadaran tersebut sudah mulai memudar, maka berdoa dan meminta Allah untuk
menumbuhkan kembali kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hati kita. Kiranya kesadaran akan
kehadiran-Nya senantiasa menguatkan iman kita. (TH)

Komentar
Posting Komentar