Menjaga Terang Kehadiran Allah

Jumat, 28 Agustus 2026
Menjaga Terang Kehadiran Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 24 : 1-4


Dalam Imamat 24:1–4, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk memastikan lampu di dalam Kemah Pertemuan tetap menyala dengan menyediakan minyak zaitun murni. Imam Harun bertugas mengatur lampu itu di hadapan Tuhan, dari petang sampai pagi agar tetap menyala.

Menarik untuk diperhatikan: Allah yang adalah sumber segala terang justru melibatkan manusia untuk menjaga lampu agar tetap menyala. Tentu bukan berarti Allah bergantung kepada manusia. Allah tidak membutuhkan manusia untuk mempertahankan keberadaan-Nya. Namun, Allah memberikan kepada umat-Nya tanggung jawab untuk memelihara lampu yang terus menyala di hadapan-Nya, yang dapat menjadi pengingat akan kehidupan umat yang berlangsung di hadapan Allah. Di sinilah terdapat sebuah pengalaman rohani yang dalam. Kemah Pertemuan adalah tempat umat Israel mengalami kesadaran bahwa Allah ada di tengah-tengah mereka. Kehadiran Allah bukan sekadar sebuah konsep atau pengetahuan teologis. Ada tanda yang dapat mereka lihat: lampu yang terus menyala. Sebagai makhluk jasmani, manusia mengalami dan mengingat berbagai hal melalui tanda-tanda yang dapat dilihat dan dialami. Karena itu, Allah dalam hikmat-Nya memberikan berbagai tanda yang dapat menolong umat-Nya mengingat dan menyadari karya serta kehadiran-Nya. Kita melihat, menyentuh, mendengar, dan mengalami dunia melalui hal-hal yang bersifat fisik. Karena itu, Allah -yang adalah Roh- (Yoh. 4:24) memberikan berbagai tanda fisik yang dapat menolong manusia mengingat Allah sebagai suatu realitas yang tidak kelihatan namun tetap hadir di tengah-tengah umat-Nya.

Saudara, ada sesuatu yang dapat kita renungkan dari tugas menjaga lampu ini. Kemah adalah tempat pelayanan. Ada imam, korban, mezbah, peraturan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas ibadah. Di tengah seluruh aktivitas ibadah itu, Tuhan menetapkan agar lampu tetap menyala di hadapan-Nya. Ketetapan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dan pelayanan umat Tuhan berlangsung di hadapan Allah. Bukankah ini juga dapat terjadi dalam kehidupan kita? Kita dapat begitu sibuk melayani Tuhan tetapi kehilangan kesadaran akan Tuhan. Kita dapat aktif dalam gereja, sibuk dalam pelayanan, mengerjakan banyak hal untuk Tuhan, tetapi hati kita tidak lagi berhenti untuk menyadari: “Tuhan hadir.” Kita berada di “dalam kemah” dan sibuk dalam pelayanan, tetapi kehilangan kesadaran terhadap Dia yang hadir di dalamnya. Karena itu, lampu yang terus menyala mengingatkan kita bahwa kehidupan pelayanan kita tidak boleh membuat kita kehilangan fokus kepada Allah yang kita layani.  Oleh karena itu, seluruh pelayanan kita membutuhkan kehadiran-Nya yang menguatkan, memberi hikmat dan menyertai senantiasa.

Pertanyaan : Apakah dalam seluruh aktivitas pelayanan yang kita kerjakan, kita tetap menyadari kehadiran-Nya? Jika kesadaran tersebut sudah mulai memudar, maka berdoa dan meminta Allah untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hati kita. Kiranya kesadaran akan kehadiran-Nya senantiasa menguatkan iman kita. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Garam dan Terang Dunia