Mengejar Standar Allah dalam Pelayanan
Mengejar Standar Allah dalam Pelayanan
Imamat 21:16-24 berisi ketetapan Allah mengenai para imam yang akan
melayani di mezbah. Allah menetapkan bahwa keturunan Harun yang memiliki cacat
fisik tidak diperkenankan menjalankan tugas mempersembahkan korban. Namun,
ketetapan ini bukan berarti mereka ditolak atau kehilangan kedudukan sebagai
imam, sebab mereka tetap diperbolehkan menikmati persembahan kudus (ay. 22).
Melalui aturan ini, Allah sedang mengajarkan kepada umat Israel bahwa pelayanan
kepada-Nya tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Sebagai Pribadi
yang kudus, Allah menetapkan standar bagi mereka yang datang melayani di
hadapan-Nya.
Ketetapan tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang memiliki
keterbatasan fisik. Dalam konteks Perjanjian Lama, keutuhan para imam merupakan
simbol yang mencerminkan kekudusan Allah dan menunjuk kepada Yesus Kristus Imam
Besar yang sempurna. Karena karya Kristus, orang percaya diterima di hadapan
Allah bukan karena kesempurnaan dirinya, melainkan karena kesempurnaan Kristus.
Oleh sebab itu, ketentuan ritual tersebut tidak lagi mengikat secara harfiah,
tetapi prinsip tentang kekudusan Allah tetap berlaku bagi setiap orang yang
melayani-Nya
Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani Tuhan, sebagai orang yang
telah lebih dahulu menerima kasih karunia-Nya, kita juga dipanggil untuk terus
bertumbuh semakin mencerminkan karakter Kristus dalam setiap pelayanan.
Tidak ada pelayan yang langsung memiliki karakter yang matang, integritas
yang sempurna, atau kehidupan rohani yang tanpa cela. Namun, hal itu tidak
boleh menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh. Sebaliknya, setiap kesempatan
melayani seharusnya mendorong kita untuk semakin tekun berdoa, semakin
mengasihi firman Tuhan, semakin rendah hati menerima koreksi, dan semakin
memberi ruang bagi Roh Kudus untuk membentuk hidup kita. Seperti Paulus yang
mengakui bahwa ia belum memperoleh kesempurnaan tetapi terus mengejarnya (Flp.
3:12), demikian pula setiap pelayan Tuhan dipanggil untuk terus mengejar
standar yang Allah tetapkan. Kesungguhan untuk terus bertumbuh itulah yang
menunjukkan bahwa kita menghormati Allah yang kudus dan menghargai panggilan
pelayanan yang telah Dia percayakan.
Pertanyaan Refleksi : Apakah kita sedang berusaha
mengejar standar hidup yang Allah kehendaki, atau kita mulai merasa puas dengan
kondisi rohani kita saat ini? Allah tidak memanggil kita untuk berhenti pada
keadaan kita hari ini, tetapi untuk terus bertumbuh menjadi pelayan yang
semakin layak bagi kemuliaan-Nya. (RT)
Komentar
Posting Komentar