Mempraktikan Karakter Allah
Mempraktikan Karakter Allah
Imamat
19 merupakan bagian dari "Kode Kekudusan" yang diberikan Tuhan kepada
bangsa Israel setelah mereka dibebaskan dari Mesir. Allah menghendaki kekudusan
umat-Nya bukan hanya tampak dalam
ibadah, tetapi juga dalam sikap terhadap
sesama dan kehidupan sehari-hari. Pada ayat 32–37, Tuhan menyoroti bagaimana
umat harus menghormati orang yang lanjut usia, takut akan Allah, memperlakukan
orang asing dengan kasih, serta berlaku jujur dalam perdagangan. Semua perintah
ini berakar pada karakter Allah yang kudus, adil, dan penuh kasih. Kekudusan
ternyata tidak hanya terlihat dalam ibadah di Bait Suci, tetapi juga dalam cara
seseorang memperlakukan sesama.
Ayat
32 menekankan penghormatan kepada orang
yang lanjut usia. Dalam budaya Israel, orang yang lebih tua bukan sekadar
dihormati karena usianya, tetapi karena mereka memiliki pengalaman, hikmat, dan
tempat yang penting dalam kehidupan komunitas. Menariknya, perintah ini
langsung dihubungkan dengan kalimat “dan engkau harus takut akan Allahmu.”
Artinya, menghormati orang lain merupakan bagian dari takut akan Tuhan dan wujud kehidupan kudus dari umat Allah.
Selanjutnya, ayat 33–34 berbicara mengenai orang asing yang tinggal di
tengah-tengah Israel. Tuhan melarang umat-Nya menindas atau memperlakukan orang
asing dengan tidak adil. Bahkan perintahnya jauh lebih kuat: orang asing harus
diperlakukan “seperti orang Israel asli” dan dikasihi seperti diri sendiri.
Dasarnya jelas, yaitu karena bangsa Israel sendiri pernah menjadi orang asing
di tanah Mesir. Dengan kata lain, melalui pengalaman mengingat bahwa mereka
sendiri pernah menjadi orang asing di Mesir dan telah dibebaskan Allah,Israel dipanggil untuk
tidak mengulangi penindasan yang dahulu mereka alami, melainkan mengasihi orang
asing yang hidup di tengah mereka. Kemudian ayat 35–36 berbicara
tentang kejujuran dalam ukuran, timbangan, dan takaran.
Saudara, hal ini menunjukkan bahwa Tuhan juga memperhatikan hal-hal yang sering dianggap sepele dalam kehidupan ekonomi. Kecurangan dalam berdagang, mengurangi timbangan, memanipulasi ukuran, atau mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar bukan sekadar masalah bisnis, tetapi merupakan persoalan rohani karena menyangkut karakter manusia di hadapan Allah. Tuhan menghendaki umat-Nya memiliki integritas, yaitu kesesuaian antara iman yang diucapkan dengan kehidupan yang dijalankan. Semua perintah ini kemudian ditutup dengan penegasan bahwa umat harus melakukan segala ketetapan dan peraturan Tuhan.
Bagi
jemaat masa kini, firman ini mengajak kita mengevaluasi kehidupan sehari-hari.
Apakah kita masih menghormati orang tua dan para lansia, atau justru
mengabaikan mereka? Apakah kita menerima orang yang berbeda latar belakang
dengan kasih Kristus, atau masih mudah menghakimi? Apakah kita bekerja dan
berusaha dengan kejujuran, atau tergoda mencari keuntungan melalui cara-cara
yang tidak benar? Tuhan memanggil gereja menjadi umat yang kudus melalui
tindakan-tindakan sederhana namun nyata. Ketika kita menghormati sesama,
berlaku adil, dan hidup jujur karena takut akan Tuhan, dunia dapat melihat
karakter Allah yang dinyatakan melalui kehidupan umat-Nya. (SH)

Komentar
Posting Komentar