Kedekatan dengan Perkara Kudus Tidak Menjamin Kekudusan Hati
Kedekatan dengan Perkara Kudus Tidak Menjamin Kekudusan Hati
Menjadi dekat dengan sesuatu yang kudus tidak selalu
berarti seseorang hidup kudus. Itulah peringatan yang disampaikan Allah kepada
para imam dalam Imamat 22:1-9. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari
berada di sekitar mezbah, mempersembahkan korban, memegang persembahan kudus,
dan melayani di hadapan Allah. Namun justru kepada merekalah Allah memberikan
peringatan yang tegas agar tidak mendekati persembahan kudus ketika mereka
berada dalam keadaan najis. Allah ingin mengajarkan bahwa pelayanan yang kudus
harus dilakukan oleh hati yang juga kudus. Kedekatan secara fisik dengan ibadah
tidak otomatis menghasilkan kedekatan secara rohani dengan Allah. Karena itu,
para imam dipanggil bukan hanya menjaga ritual, tetapi juga menjaga hidup
mereka. Imamat 22:2 mencatat firman Tuhan, "Katakanlah kepada Harun dan
anak-anaknya, supaya mereka berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan
kudus orang Israel..." Perintah ini menunjukkan bahwa Allah tidak
menganggap remeh kekudusan. Para imam memang memiliki hak untuk melayani,
tetapi mereka tidak boleh menganggap pelayanan sebagai alasan untuk mengabaikan
kehidupan pribadi mereka. Allah bahkan menjelaskan berbagai keadaan yang
membuat seorang imam menjadi najis (ay. 4-7). Selama berada dalam keadaan
tersebut, ia tidak diperbolehkan memakan persembahan kudus sampai ia kembali
menjadi tahir. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada Allah bukan sekadar soal
jabatan atau rutinitas, melainkan soal kondisi hati dan hidup di hadapan-Nya.
Prinsip ini tetap relevan bagi orang percaya saat ini.
Seseorang dapat aktif melayani di gereja, berkhotbah, memimpin pujian, mengajar
sekolah minggu, menjadi pengurus komisi, atau terlibat dalam berbagai
pelayanan. Namun semua aktivitas itu tidak otomatis mencerminkan kedekatan
dengan Tuhan. Sangat mungkin seseorang tampak rohani di depan banyak orang,
tetapi diam-diam kehilangan kehidupan doa, tidak lagi menikmati firman Tuhan,
atau menyimpan dosa yang tidak pernah dibereskan. Pelayanan memang penting, tetapi
pelayanan tidak pernah boleh menggantikan hubungan pribadi dengan Allah. Tuhan
tidak hanya melihat apa yang kita lakukan bagi-Nya, tetapi juga siapa diri kita
ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Kesibukan rohani dapat menjadi
jebakan jika membuat kita merasa cukup hanya karena kita aktif melayani. Yesus
sendiri pernah mengingatkan bahwa banyak orang dapat melakukan pelayanan yang mengesankan dalam nama-Nya, tetapi
sebenarnya tidak hidup dalam persekutuan yang sejati dengan-Nya (Matius 7:22-23). Artinya, ukuran utama
bukanlah seberapa banyak kita melayani, melainkan apakah kita sungguh mengenal
Tuhan dan hidup dalam kekudusan. Karena itu, marilah kita terus memeriksa hati
kita. Jangan sampai tangan kita sibuk mengerjakan pelayanan, tetapi hati kita
jauh dari Allah. Biarlah setiap pelayanan lahir dari hubungan yang intim dengan
Tuhan, bukan sekadar rutinitas atau tanggung jawab.
Saudara, mungkinkah kita begitu dekat dengan perkara-perkara kudus, tetapi hati kita justru semakin jauh dari Allah? Biarlah kiranya kita tidak hanya menjadi orang yang dekat dengan perkara-perkara kudus, tetapi juga menjadi pribadi yang hidup kudus di hadapan Allah. Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus menjaga hati, memperbarui hubungan pribadi dengan-Nya, sehingga setiap pelayanan yang kita lakukan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya. Amin. (FS)

Komentar
Posting Komentar