Ke Mana Hatimu Berlari?
Ke Mana Hatimu Berlari?
Imamat 20:6-8 merupakan kelanjutan dari panggilan Allah agar
Israel hidup kudus sebagai umat perjanjian-Nya. Setelah melarang penyembahan
kepada Molokh, Allah juga melarang umat-Nya berpaling kepada pemanggil arwah
dan roh-roh peramal. Menurut Gordon J. Wenham, tindakan mencari petunjuk kepada
peramal bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan bentuk ketidaksetiaan kepada
Allah karena umat mencari tuntunan dari sumber lain selain Dia. Jacob Milgrom
menambahkan bahwa praktik tersebut merupakan bentuk "perzinahan
rohani", sebab Israel meninggalkan Allah yang hidup untuk mencari jawaban
dari kuasa-kuasa yang tidak berasal dari-Nya. Karena itu, Allah memanggil
umat-Nya untuk menguduskan diri dan menaati ketetapan-Nya, sebab Dialah Tuhan
yang menguduskan mereka.
Melalui bagian ini, Allah mengajarkan bahwa umat-Nya tidak
boleh mencari tuntunan spiritual dan kepastian hidup dari kuasa-kuasa yang
bertentangan dengan-Nya. Larangan mendatangi peramal bukan hanya berbicara
tentang okultisme, tetapi juga tentang hati yang tidak lagi menaruh kepercayaan
penuh kepada Tuhan. Ketika umat Tuhan memilih mencari tuntunan spiritual dari
kuasa yang bertentangan dengan Allah, maka mereka sedang mengalihkan
kepercayaan yang seharusnya diberikan kepadanya. Kekudusan bukan hanya terlihat
dari menjauhi dosa yang tampak, tetapi juga dari kesetiaan untuk tetap percaya
kepada Tuhan ketika jawaban belum terlihat. Allah menghendaki umat-Nya
bergantung kepada-Nya, bukan kepada kuasa lain yang menjanjikan jalan pintas.
Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, godaan untuk
mencari jawaban instan masih sangat nyata. Sebagian orang mungkin tergoda
mendatangi paranormal, membaca ramalan, atau mempercayai praktik-praktik
mistis. Namun, ada pula bentuk yang lebih halus: kita dapat tergoda mencari
kepastian melalui berbagai pendapat dunia daripada dari firman Tuhan, lebih
mengandalkan logika daripada doa, atau baru datang kepada Tuhan setelah semua
cara lain gagal.
Imamat 20:6-8 mengingatkan bahwa ketika masalah datang, respons pertama orang percaya seharusnya adalah datang kepada Tuhan. Dialah yang mengenal masa depan, memegang kendali atas hidup kita, dan tidak pernah menyesatkan anak-anak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita belajar membawa setiap pergumulan kepada Tuhan, sebab jawaban yang berasal dari-Nya selalu menuntun kepada kebenaran dan kehidupan.
Pertanyaan:
Saudara, ketika menghadapi masalah, kepada siapakah kita pertama kali mencari
pertolongan dan jawaban? Kiranya setiap pergumulan yang kita hadapi tidak
membawa kita menjauh dari Tuhan, melainkan semakin mendekat kepada-Nya. Sebab
hanya di dalam Tuhan kita menemukan hikmat, pengharapan, dan jawaban yang tidak
pernah menyesatkan. (RT)

Komentar
Posting Komentar