Identitas Allah
Identitas Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 20 : 22-27
Imamat 20 merupakan penutup
dari rangkaian hukum kekudusan yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel melalui
Musa. Setelah menjelaskan berbagai larangan dan konsekuensi dosa, pada ayat
22–27 Tuhan kembali mengingatkan tujuan utama dari semua ketetapan-Nya: supaya
Israel hidup berbeda dari bangsa-bangsa di sekelilingnya. Oleh sebab itu, kehidupan mereka harus
mencerminkan identitas sebagai umat yang kudus, sehingga keberadaan mereka
menjadi kesaksian tentang Allah yang kudus di tengah dunia yang penuh penyembahan
berhala dan praktik-praktik yang menentang kehendak Tuhan.
Pada ayat 22–26, Tuhan
menegaskan bahwa ketaatan bukanlah pilihan, melainkan konsekuensi dari
identitas sebagai umat pilihan-Nya. Israel diperintahkan menaati segala
ketetapan Tuhan agar mereka tidak ditolak oleh negeri yang dijanjikan. Ini
menunjukkan bahwa Allah tidak pernah bertoleransi terhadap dosa, siapa pun
pelakunya. Keistimewaan sebagai umat pilihan bukanlah "izin" untuk
hidup sesuka hati, melainkan panggilan untuk hidup semakin serupa dengan
karakter Allah. Puncak penegasan itu terdapat pada ayat 26: "Aku telah
memisahkan kamu dari bangsa-bangsa supaya kamu menjadi milik-Ku." Kata
"memisahkan" bukan berarti mengasingkan diri dari dunia, tetapi
dikhususkan bagi Allah. Seperti bejana di Bait Allah yang dipisahkan bukan
untuk dipajang, melainkan dipakai hanya bagi kemuliaan Tuhan, demikian pula
hidup orang percaya telah dipisahkan untuk tujuan ilahi. Karena itu, kekudusan
bukan pertama-tama berbicara tentang apa yang kita tinggalkan, melainkan
tentang siapa
yang memiliki hidup kita. Ayat 27 kemudian menutup bagian ini
dengan larangan keras terhadap praktik pemanggilan arwah dan roh peramal.
Mengapa demikian? Karena ketika seseorang mencari jawaban, perlindungan, atau
rasa aman di luar Tuhan, sesungguhnya ia sedang memindahkan kepercayaannya
kepada ilah lain. Dosa terbesar bukanlah sekadar melakukan yang jahat,
tetapi memberikan
kepada selain Allah tempat yang hanya layak diberikan kepada Allah. "Kekudusan bukanlah ketika dunia melihat
kita berbeda; kekudusan adalah ketika Tuhan melihat bahwa hati kita hanya
menjadi milik-Nya."
Apa yang harus jemaat masa kini lakukan agar panggilan untuk hidup kudus tetap relevan? Dunia terus menawarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan firman Tuhan: kompromi demi keuntungan, kebenaran yang relatif, serta pencarian rasa aman di luar kehendak Allah. Namun Tuhan tidak memanggil gereja untuk menyerupai dunia agar diterima, melainkan menjadi terang yang menerangi dunia. . Karena itu, marilah kita menjaga hati, pikiran, perkataan, dan tindakan agar selalu mencerminkan karakter Kristus. Ketika kita hidup dalam kekudusan, dunia bukan hanya melihat bahwa kita berbeda, tetapi juga melihat siapa Allah yang kita sembah. (SH)

Komentar
Posting Komentar