Ibadah, Menata Batin
Ibadah, Menata Batin
Bacaan Alkitab : Imamat 22 : 17-25
Dalam bagian ayat ini, Allah
menetapkan ketentuan mengenai hewan yang dipersembahkan sebagai korban bakaran,
baik dalam persembahan sukarela maupun persembahan nazar. Hewan yang
dipersembahkan haruslah berasal dari lembu, kambing, atau domba yang tidak memiliki
cacat dan cela. Binatang yang buta, patah tulang, terluka, atau berpenyakit
tidak boleh dipersembahkan. Allah menghendaki agar apa yang diberikan
kepada-Nya adalah yang terbaik. Mempersembahkan binatang yang cacat dan bercela
bukan hanya tidak sesuai dengan ketetapan-Nya, tetapi juga merupakan tindakan
yang tidak menghormati dan menghina Allah.
Saudara, melalui ketetapan ini Allah sedang mendidik umat-Nya untuk
memiliki kepekaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kepemilikan
dan kuasa-Nya. Dialah yang menciptakan seluruh alam semesta dengan baik.
Melalui ciptaan-Nya, manusia menikmati pemeliharaan dan kehidupan. Allah tidak
menghendaki umat-Nya mempersembahkan sesuatu yang tidak layak atau cacat
kepada-Nya. Ketentuan mengenai korban ini tidak hanya mengatur tindakan
lahiriah umat, tetapi juga mengajarkan suatu sikap bahwa Allah harus dihormati
dan persembahan kepada-Nya tidak boleh diberikan secara sembarangan. Oleh
karena itu, ritual ibadah dapat menjadi sarana pembentukan sikap batin dan
kehidupan umat, terutama ketika umat memahami makna di balik tindakan tersebut.
Maka, saudara, ketika kita mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada
Allah, sudah selayaknya kita memberikan yang terbaik dari seluruh yang kita
miliki: waktu, tenaga, pikiran, kemampuan, dan seluruh kehidupan kita. (Markus
12:30 berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”) Ibadah
yang dilakukan dengan sungguh-sungguh menata batin kita dan membentuk kebiasaan
hidup yang baik. Kebiasaan yang baik pada akhirnya membentuk karakter yang
semakin dewasa. Dengan demikian, kita belajar menjalani kehidupan dengan
sebaik-baiknya, karena kita menyadari bahwa hidup ini telah kita persembahkan
kepada Allah.
Refleksi
: Saat kita
mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Allah, sudah selayaknya kita
memberikan yang terbaik dari seluruh yang kita miliki.
(TM)

Komentar
Posting Komentar