Hati dan Lidah
Hati dan Lidah
Bacaan Alkitab : Imamat 24:10-16
Imamat 24:10-16 bercerita tentang sebuah
peristiwa tragis yang bermula dari sebuah perkelahian di perkemahan Israel
antara seorang pemuda—anak dari seorang perempuan Israel bernama Selomit dan
seorang pria Mesir—dengan seorang pria Israel. Di tengah kemarahan yang
memuncak, pemuda tersebut melakukan dosa yang amat serius: ia mengutuk dan
menghujat Nama TUHAN). Karena kasus ini membutuhkan kejelasan
mengenai penerapan hukum maka, pemuda tersebut ditahan terlebih
dahulu sementara umat menunggu petunjuk dan keputusan hukum yang jelas langsung
dari TUHAN melalui Musa.
Melalui perkataan-Nya kepada Musa, TUHAN
menegaskan standar kesucian yang tidak dapat ditawar-tawar di tengah umat-Nya.
Allah memerintahkan agar seluruh komunitas membawa pemuda tersebut ke luar
perkemahan, di mana para saksi
meletakkan tangan di atas kepalanya , lalu seluruh jemaat melempari
pemuda tersebut dengan batu sampai mati. Hukum ini berlaku mutlak dan adil tanpa
memandang status sosial: baik orang asing maupun orang Israel asli, barangsiapa
yang menghujat Nama TUHAN harus dituntut dengan hukuman mati. Perintah ini
menggarisbawahi betapa kudus-Nya Nama TUHAN serta pentingnya menjaga
batas-batas penghormatan kepada Sang Pencipta agar kejahatan tidak merusak
seluruh komunitas. Keagungan Nama
Tuhan yang kita sembah tidak pernah berkurang saat dihujat, tetapi hati kita
yang hancur saat kita gagal menghormati-Nya.
Bagaimana dengan jemaat Tuhan masa kini?
Kisah ini memberikan teguran mendalam bagi kehidupan jemaat masa kini. Meski
kita hidup dalam era Perjanjian Baru, kita tidak menerapkan
hukuman dalam Imamat 24 secara literal kepada jemaat. Namun, kesucian Nama Allah tetap tidak boleh
disepelekan. Di era digital saat ini, hujatan tidak hanya keluar lewat teriakan
amarah, tetapi juga dengan sangat mudah tersebar melalui ketikan jari di media
sosial, lelucon yang merendahkan iman, serta hidup yang mengaku percaya namun
kelakuannya mencemarkan Nama TUHAN. Jemaat dipanggil untuk senantiasa menjaga
lidah dan sikap hidup agar setiap kata yang diucapkan memperlihatkan hormat
yang takut akan Allah.
Pertanyaan : bagaimana dengan jemaat masa kini? apakah kisah ini
memberikan teguran dalam kehidupan dimasa kini? (SH)

Komentar
Posting Komentar