Hati dan Lidah

Senin, 31 Agustus 2026
Hati dan Lidah
Bacaan Alkitab : Imamat 24:10-16




Imamat 24:10-16 bercerita tentang sebuah peristiwa tragis yang bermula dari sebuah perkelahian di perkemahan Israel antara seorang pemuda—anak dari seorang perempuan Israel bernama Selomit dan seorang pria Mesir—dengan seorang pria Israel. Di tengah kemarahan yang memuncak, pemuda tersebut melakukan dosa yang amat serius: ia mengutuk dan menghujat Nama TUHAN). Karena kasus ini membutuhkan kejelasan mengenai penerapan hukum maka, pemuda tersebut ditahan terlebih dahulu sementara umat menunggu petunjuk dan keputusan hukum yang jelas langsung dari TUHAN melalui Musa.

Melalui perkataan-Nya kepada Musa, TUHAN menegaskan standar kesucian yang tidak dapat ditawar-tawar di tengah umat-Nya. Allah memerintahkan agar seluruh komunitas membawa pemuda tersebut ke luar perkemahan, di mana para saksi   meletakkan tangan di atas kepalanya , lalu seluruh jemaat melempari pemuda tersebut dengan batu sampai mati. Hukum ini berlaku mutlak dan adil tanpa memandang status sosial: baik orang asing maupun orang Israel asli, barangsiapa yang menghujat Nama TUHAN harus dituntut dengan hukuman mati. Perintah ini menggarisbawahi betapa kudus-Nya Nama TUHAN serta pentingnya menjaga batas-batas penghormatan kepada Sang Pencipta agar kejahatan tidak merusak seluruh komunitas. Keagungan Nama Tuhan yang kita sembah tidak pernah berkurang saat dihujat, tetapi hati kita yang hancur saat kita gagal menghormati-Nya.

Bagaimana dengan jemaat Tuhan masa kini? Kisah ini memberikan teguran mendalam bagi kehidupan jemaat masa kini. Meski kita hidup dalam era Perjanjian Baru, kita tidak menerapkan hukuman dalam Imamat 24 secara literal kepada jemaat.  Namun, kesucian Nama Allah tetap tidak boleh disepelekan. Di era digital saat ini, hujatan tidak hanya keluar lewat teriakan amarah, tetapi juga dengan sangat mudah tersebar melalui ketikan jari di media sosial, lelucon yang merendahkan iman, serta hidup yang mengaku percaya namun kelakuannya mencemarkan Nama TUHAN. Jemaat dipanggil untuk senantiasa menjaga lidah dan sikap hidup agar setiap kata yang diucapkan memperlihatkan hormat yang takut akan Allah.

Pertanyaan : bagaimana dengan jemaat masa kini? apakah kisah ini memberikan teguran dalam kehidupan dimasa kini? (SH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Berkat Allah adalah Deklarasi