Diselamatkan untuk Hidup Kudus
Diselamatkan untuk Hidup Kudus

Dalam Imamat 22: 26-33 yang baru saja
kita baca, kita dapat melihat Allah mengatur tentang persembahan kurban syukur
berupa seekor anak lembu atau anak domba atau anak kambing termasuk ketentuan
mengenai usia hewan dan cara mempersembahkannya. Apabila
hewan-hewan tersebut dipersembahkan maka harus dilaksanakan pada hari ke-8
setelah hewan-hewan tersebut dilahirkan. Selain itu, korban-korban tersebut
tidak dapat dipersembahkan pada hari yang sama dengan ayah dan ibunya. Korban
persembahan juga harus habis dimakan pada hari tersebut. Pada bagian akhir dari
firman tersebut, Allah meneguhkan kembali perjanjian dengan umat-Nya dengan
menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang menguduskan umat-Nya melalui
perintah-perintah yang diberikannya.
Saudara, jika kita memperhatikan
ayat 32b–33, dituliskan, “...Akulah Tuhan yang menguduskan kamu yang membawa
kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allahmu. Akulah Tuhan.” Firman
ini menunjukkan bahwa Allah terlebih dahulu menyelamatkan dan membebaskan
bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, kemudian memberikan kepada mereka
identitas baru sebagai umat-Nya yang memiliki ikatan perjanjian dengan Allah.
Identitas sebagai umat perjanjian ini tidak berhenti pada status, tetapi
melahirkan suatu kehidupan yang diwarnai oleh rasa syukur dan ketaatan kepada
Allah. Dengan demikian, bangsa Israel menaati perintah-perintah Allah bukan
untuk memperoleh keselamatan, melainkan sebagai respons karena mereka telah
mengalami keselamatan yang Allah kerjakan. Allah telah menyelamatkan mereka,
maka mereka dipanggil untuk hidup bagi Allah; Allah telah menguduskan mereka,
maka mereka dipanggil untuk menjalani kehidupan yang kudus. Allah yang
menyelamatkan Israel adalah Allah yang menguduskan Israel. Karena itu, umat
yang telah diselamatkan tidak boleh hidup dengan cara yang bertentangan dengan
kekudusan Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan dan
kehidupan kudus tidak dapat dipisahkan. Orang yang mengalami keselamatan Allah
dipanggil untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan identitas barunya
sebagai umat Allah. Keselamatan bukan sekadar pengetahuan bahwa Kristus mati
untuk dosa-dosa kita, tetapi pengalaman hidup bersama Allah yang mengubah cara
kita memandang diri, Allah, dan kehidupan. Karena itu, menghormati kekudusan
Allah tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa Allah itu kudus; seseorang
perlu mengalami relasi dengan Allah yang menyelamatkan dan menguduskannya,
sehingga kekudusan itu kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya,
identitas sebagai umat Allah yang terikat dalam perjanjian membawa suatu
panggilan: karena Allah telah menyelamatkan, maka umat-Nya hidup dalam
ketaatan; karena Allah telah menguduskan, maka umat-Nya hidup kudus; dan karena
Allah telah menjadi Allah mereka, maka mereka dipanggil untuk hidup bersama
Dia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keselamatan melahirkan identitas,
identitas melahirkan rasa syukur, rasa syukur diwujudkan dalam ketaatan, dan
ketaatan diwujudkan dalam kehidupan yang kudus bersama Allah.
Pertanyaan : Karena Allah telah menyelamatkan dan
menguduskan saya, seperti apakah kehidupan yang seharusnya saya jalani hari ini
sebagai umat-Nya? Mari kita meminta Allah menolong kita untuk dapat hidup
sesuai dengan kehendak-Nya setiap saat. (TH)
Komentar
Posting Komentar