Diberkati untuk Menjadi Berkat
Diberkati untuk Menjadi Berkat
Setiap orang tentu senang menerima berkat. Kita
bersyukur ketika Tuhan memberikan kesehatan, pekerjaan, keluarga, kesempatan,
dan berbagai kebaikan lainnya dalam hidup kita. Namun sering kali tanpa
disadari, kita memandang berkat hanya sebagai sesuatu yang dapat dinikmati
untuk diri sendiri. Padahal, melalui Imamat 23:15–22, Tuhan mengajarkan bahwa
setiap berkat yang kita terima memiliki tujuan yang lebih besar. Kita diberkati
bukan hanya untuk menikmati kebaikan Tuhan, tetapi juga untuk memuliakan-Nya dan
menjadi berkat bagi sesama. Bagian ini berbicara tentang Hari Raya Tujuh
Minggu, sebuah perayaan yang dilakukan setelah bangsa Israel menikmati hasil
panen yang Tuhan berikan. Mereka diperintahkan untuk menghitung hari, membawa
persembahan, dan berkumpul dalam pertemuan kudus sebagai ungkapan syukur kepada
Allah. Melalui perayaan ini, Tuhan ingin mengingatkan umat-Nya bahwa panen yang
mereka nikmati bukan semata-mata hasil kerja keras manusia, melainkan anugerah
dari Tuhan yang memelihara kehidupan mereka.
Ketika kita mengingat bahwa semua yang kita miliki
berasal dari-Nya, hati kita akan dipenuhi rasa syukur dan penyembahan. Kita
tidak lagi berpusat pada pemberian, melainkan kepada Sang Pemberi. Namun
menariknya, setelah berbicara mengenai ibadah dan persembahan, Tuhan langsung
memberikan perintah agar bangsa Israel tidak menuai habis ladang mereka.
Sebagian hasil panen harus ditinggalkan bagi orang miskin dan pendatang.
Perintah ini menunjukkan bahwa berkat juga memiliki dimensi sosial. Tuhan tidak
pernah bermaksud agar berkat berhenti pada diri kita sendiri. Selalu ada orang
lain yang dapat merasakan kasih dan pemeliharaan Tuhan melalui apa yang telah
Ia percayakan kepada kita.
Prinsip ini sangat relevan bagi kehidupan orang
percaya saat ini. Tuhan mungkin memberkati kita dengan penghasilan yang cukup,
tetapi sebagian dari berkat itu dapat digunakan untuk menolong mereka yang
berkekurangan. Tuhan mungkin memberi kita waktu, kemampuan, pengalaman, atau
pengaruh tertentu, tetapi semua itu dapat menjadi sarana untuk menguatkan dan
memberkati orang lain. Ketika kita membagikan apa yang Tuhan percayakan kepada
kita, sesungguhnya kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan kasih-Nya di
dunia ini. Karena itu, ketika Tuhan memberkati hidup kita, jangan hanya
bertanya, “Apa yang bisa saya nikmati dari berkat ini?” Tanyakan juga, “Siapa
yang dapat diberkati melalui berkat yang Tuhan percayakan kepada saya?” Sebab
berkat yang sejati selalu membawa kita kepada dua arah: ke atas dalam
penyembahan kepada Tuhan dan ke luar dalam kasih kepada sesama.
Pertanyaan : Saudara, apakah berkat yang
Tuhan berikan selama ini semakin mendekatkan saya kepada-Nya dan menjadi berkat
bagi orang-orang di sekitar saya? Allah
memberkati kita bukan hanya supaya hidup kita dipenuhi kebaikan-Nya, tetapi
supaya melalui hidup kita orang lain juga dapat merasakan kebaikan-Nya. Berkat
yang kita terima dari Tuhan tidak berhenti pada ucapan syukur dan penyembahan,
tetapi mengalir dalam kepedulian kepada sesama. Biarlah kiranya setiap berkat yang Tuhan percayakan kepada
kita tidak berhenti pada diri kita sendiri. Kiranya hati kita tetap rendah hati
untuk mengakui bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan, dan kiranya
tangan kita tetap terbuka untuk menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama. (FS)

Komentar
Posting Komentar