Berhenti untuk Mengingat Siapa Kita
Berhenti untuk Mengingat Siapa Kita
Imamat 23
diawali dengan pengaturan mengenai waktu-waktu kudus yang ditetapkan Tuhan.
Pada ayat 3, perhatian pertama diarahkan kepada Sabat sebagai hari perhentian
penuh dan pertemuan kudus. Enam hari pekerjaan boleh dilakukan, tetapi hari
ketujuh adalah Sabat, hari perhentian penuh. Pada hari ke-7 harus ada hari
perhentian penuh (sabat) atau suatu hari pertemuan kudus. Tidak ada seorang pun
yang dapat melaksanakan pekerjaannya pada saat itu.
Saudara,
pola bekerja 6 hari dan 1 hari istirahat pernah dituliskan dalam kejadian 2:
1-2. “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi serta segala isinya. Pada hari
ketujuh, Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya. Pada hari ketujuh
itu Ia berhenti dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya.” Hal ini menunjukkan
bahwa ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk istirahat.
Hal ini penting karena kita hidup
dalam budaya yang sering menghubungkan identitas dengan produktivitas. Kita
ditanya, “Apa pekerjaanmu?”, Tanpa sadar, kita mulai berpikir, “Saya adalah apa
yang saya kerjakan.” Semakin banyak yang kita hasilkan, semakin kita merasa
berharga. Waktu kemudian menjadi aset yang harus terus menghasilkan. Bahkan
ketika kita berhenti, kita merasa bersalah karena merasa tidak produktif.
Saudara, masalahnya bukan bahwa pekerjaan itu buruk. Alkitab justru memandang pekerjaan sebagai bagian dari rancangan Allah. Masalah muncul ketika pekerjaan yang seharusnya menjadi panggilan berubah menjadi sumber identitas. Kita tidak lagi bekerja karena kita tahu siapa kita di hadapan Allah, tetapi bekerja supaya kita merasa menjadi seseorang. Di sinilah Sabat memberikan koreksi. Ketika Israel berhenti bekerja, mereka sedang mengakui bahwa hidup mereka tidak bergantung sepenuhnya pada produktivitas mereka. Dunia tetap berjalan ketika mereka berhenti. Allah tetap memelihara mereka ketika mereka tidak sedang menghasilkan sesuatu. Jadi, sabat bukan sekadar tentang istirahat. Sabat berbicara tentang identitas dan kepercayaan kepada Allah. Karena itu, relasi kita dengan Allah seharusnya membentuk identitas kita dan menuntun kita dalam menjalankan panggilan, sehingga produktivitas kita tidak menjadi sumber nilai diri, melainkan menjadi sarana untuk memuliakan Allah. Seorang guru Kristen, misalnya, jangan sampai identitas utamanya adalah “saya seorang guru”. Identitas terdalamnya adalah bahwa ia adalah manusia yang diciptakan Allah, ditebus oleh Kristus, dan dipanggil untuk hidup bagi Allah. Menjadi guru adalah salah satu bentuk panggilan yang diberikan Allah kepadanya. Karena itu, relasinya dengan Tuhan akan memengaruhi bagaimana ia mengajar, memperlakukan murid, menggunakan wewenang, dan menjalankan tanggung jawabnya. Dengan demikian, dari relasi dengan Allah lahir identitas. Dari identitas lahir panggilan. Dari panggilan lahir pekerjaan. Dan dari pekerjaan lahir produktivitas yang memuliakan Allah. Karena itu, jangan biarkan pekerjaan menentukan identitaita. Biarlah identitas kita di dalam Allah menentukan bagaimana kita bekerja.
Pertanyaan : Saudara jika pekerjaan, jabatan,
penghasilan, dan pencapaian saya dilepaskan dari diri saya, siapa saya di
hadapan Allah? Jawaban kita terhadap pertanyaan ini akan menunjukkan di mana
sebenarnya kita menemukan identitas kita. Kiranya kita bukan menjadi orang yang
bekerja untuk menemukan nilai diri, tetapi orang yang bekerja karena telah
menemukan nilai diri kita di dalam Allah. Sebab dari relasi dengan Allah lahir
identitas, dari identitas lahir panggilan, dan dari panggilan lahir pekerjaan
yang memuliakan-Nya.” (TH)

Komentar
Posting Komentar