Kekudusan Tuhan Tidak Dapat Dipermainkan
Kekudusan Tuhan Tidak Dapat Dipermainkan
Imamat 10:1-3 adalah salah satu bagian
Alkitab yang keras dan menggetarkan hati. Nadab dan Abihu adalah anak-anak
Harun. Mereka bukan orang asing bagi pelayanan Tuhan. Mereka dipilih, ditahbiskan,
bahkan baru saja mengalami kemuliaan Tuhan dalam ibadah Israel. Namun
ironisnya, justru setelah mengalami semua itu, mereka mempersembahkan “api
asing” yang tidak diperintahkan Tuhan. Akibatnya, api keluar dari hadapan Tuhan
dan menghanguskan mereka. Masalah utama mereka bukan sekadar kesalahan teknis
dalam ibadah, tetapi keberanian mendekati Allah menurut cara mereka sendiri,
bukan menurut kekudusan dan perintah Tuhan. Bagian ini mengingatkan kita bahwa
pengalaman rohani, pelayanan, bahkan status sebagai umat pilihan tidak membuat
seseorang bebas hidup sembarangan. Ada bahaya ketika seseorang merasa, “Saya
sudah diselamatkan… saya sudah dipakai Tuhan… saya sudah dekat dengan Tuhan…
jadi tidak apa-apa kalau sedikit longgar.” Hati seperti itu perlahan kehilangan
rasa takut akan Tuhan. Sering kali manusia menjadi sembrono justru setelah
merasa aman secara rohani. Ketika dulu baru bertobat, kita berhati-hati menjaga
hidup. Tetapi setelah bertahun-tahun di gereja, melayani, atau merasa mengenal
Tuhan, hati mulai kompromi. Dosa dianggap kecil. Ketidaktaatan dianggap biasa.
Kekudusan mulai diperlakukan ringan. Nadab dan Abihu adalah gambaran bahwa
kedekatan dengan perkara rohani tidak otomatis membuat seseorang hidup benar di
hadapan Tuhan.
Ini menunjukkan bahwa Tuhan justru
mendisiplin dan menghukum orang-orang yang dipilih-Nya. Karena mereka dekat
dengan Tuhan, maka mereka tidak boleh memperlakukan hadirat Tuhan sembarangan.
Kekudusan Tuhan tidak berubah hanya karena manusia merasa nyaman dengan-Nya.
Kadang kita berpikir penghakiman Tuhan hanya untuk orang jahat di luar sana.
Namun Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan juga mendidik, menegur, bahkan menghukum
umat-Nya sendiri ketika mereka meremehkan kekudusan-Nya. Tuhan mengasihi
umat-Nya, tetapi kasih-Nya tidak pernah membatalkan kekudusan-Nya. Tidak ada
seorang pun yang kebal di hadapan kekudusan Tuhan. Jabatan rohani tidak kebal.
Pelayanan tidak kebal. Lama menjadi orang Kristen tidak kebal. Pengetahuan
Alkitab tidak kebal. Semua manusia tetap dipanggil untuk hidup takut akan Tuhan
dan taat kepada kehendak-Nya. Renungan ini juga menjadi peringatan bagi gereja
masa kini. Kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin menikmati berkat Tuhan
tanpa hidup menghormati Tuhan. Banyak orang ingin kasih karunia tanpa
pertobatan, ingin dipakai Tuhan tanpa hidup kudus. Tetapi Imamat 10
mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mendekati Allah dengan sembarangan.
Karena itu kita membutuhkan Yesus Kristus, Imam Besar yang sempurna. Melalui
Kristus, kita memperoleh jalan masuk kepada hadirat Allah bukan dengan
kesombongan, tetapi dengan hormat, pertobatan, dan keyakinan akan anugerah-Nya.
Saudara, adakah
dosa atau kompromi yang kita anggap “biasa” karena merasa sudah lama mengenal
Tuhan? Kekudusan bukan sekadar konsep Perjanjian
Lama. Kekudusan adalah natur Allah sendiri. Karena itu respons yang benar bukan
ketakutan tanpa harapan, melainkan hidup dengan hormat, gentar, dan taat
kepada-Nya setiap hari. Kiranya kita tidak menjadi orang yang terbiasa dengan
perkara rohani tetapi kehilangan rasa hormat kepada Tuhan. Biarlah kasih
karunia yang kita terima tidak membuat kita sembrono, melainkan semakin
mendorong kita hidup takut akan Tuhan dan menjaga kekudusan di hadapan-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar