Sentimentalitas yang Selaras
Sentimentalitas yang Selaras
Bacaan Alkitab : Imamat 10 : 4-7
Ayat ini menggambarkan situasi setelah kematian Nadab
dan Abihu yang dihukum Tuhan karena mempersembahkan api asing di Kemah
Pertemuan. Situasi ini tentu sangat mengejutkan dan penuh ketegangan. Dua imam
mati karena pelanggaran mereka di hadapan Tuhan, sementara aturan mengenai
kekudusan Kemah Suci begitu ketat sehingga jenazah mereka pun tidak dapat
langsung diurus oleh para imam. Harun dan anak-anaknya dilarang menyentuh
mayat, sehingga kerabat lain harus datang membawa jenazah Nadab dan Abihu
keluar dari area Kemah Suci untuk dikuburkan.
Yang lebih mengejutkan lagi, Musa melarang Harun dan
keluarganya menunjukkan dukacita atas kematian kedua anak itu, karena hal
tersebut dapat mendatangkan hukuman Tuhan atas mereka. Mengapa demikian? Pada
saat itu, Allah menuntut Harun dan keluarganya tetap menghormati kekudusan-Nya,
bahkan di tengah dukacita yang mendalam. Ini
mungkin menjadi hari paling berat dalam hidup Harun: dua putranya mati seketika
di bawah penghukuman Allah, namun ia tidak dapat meratapi mereka seperti
seorang ayah pada umumnya. Ratapan itu dapat dianggap seolah-olah Allah keliru
dalam menjatuhkan hukuman kepada Nadab dan Abihu. Dalam situasi itu, Harun dan
keluarganya harus tetap menjaga sikap hormat kepada kekudusan Allah.
Saudara, Allah tidak sedang mengajarkan umat-Nya menjadi pribadi yang tidak memiliki emosi, perasaan, atau empati. Namun Allah sedang mengajarkan bahwa perasaan dan empati manusia harus tetap tunduk pada kekudusan dan kebenaran-Nya. Hal ini karena, kebenaran dapat terabaikan karena ikatan emosi dan hubungan kekerabatan. Bahkan, tidak jarang emosi dan perasaan dipakai untuk membenarkan tindakan yang salah demi menjaga relasi atau perasaan seseorang. Emosi dapat menjebak kita sehingga sulit melihat sesuatu dengan benar dan objektif. Akibatnya, seseorang enggan menyatakan kebenaran atau menegur dosa demi mempertahankan hubungan dan pertemanan. Padahal, kekudusan dan kebenaran Allah memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada emosi dan kedekatan relasi manusia. Kiranya Allah menolong kita semua untuk tetap tersadar dan taat pada-Nya, saat menghadapi situasi-situasi yang sulit seperti ini. (TM)
Refleksi : Allah mengajarkan bahwa perasaan dan empati manusia
harus tetap tunduk pada kekudusan dan kebenaran-Nya

Komentar
Posting Komentar