Union with Christ: Mengambil Bagian dalam Kekudusan Allah
Union with Christ: Mengambil Bagian dalam Kekudusan Allah
Imamat 6:14–18 berbicara tentang hukum
korban sajian yang harus dipersembahkan di hadapan Tuhan. Korban ini adalah
bagian dari sistem ibadah Israel yang menegaskan hubungan antara umat dengan
Allah yang kudus. Tepung terbaik dipersembahkan, sebagian dibakar sebagai
bagian bagi Tuhan, dan sebagian dimakan oleh imam di tempat yang kudus. Para
imam yang memakan korban itu sedang mengambil bagian dalam sesuatu yang telah
dikuduskan bagi Tuhan. Mereka tidak hanya menerima bagian dari korban, tetapi
berpartisipasi dalam kekudusan yang dimediasi melalui korban tersebut. Dalam
konteks Perjanjian Lama, korban menjadi sarana yang memungkinkan umat Allah
mengambil bagian dalam relasi dengan Dia yang kudus.
Sistem korban ini bukanlah tujuan
akhir, melainkan bayangan yang menunjuk kepada penggenapan yang lebih sempurna.
Dalam terang Perjanjian Baru, hal ini menunjuk kepada persatuan kita dengan
Kristus (union with Christ). Melalui karya Kristus, kita bukan hanya
diampuni, tetapi juga dipersatukan dengan Dia. Seperti yang dikatakan dalam 2
Petrus 1:4, kita “mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Artinya, hidup Allah
bekerja di dalam kita—membentuk identitas baru, cara berpikir baru, dan
kehidupan yang baru. Kita tidak menjadi Allah, tetapi kita dibentuk untuk
semakin serupa dengan Kristus dalam karakter, pikiran, dan hidup. Kita tidak
lagi hidup sebagai manusia lama, tetapi sebagai orang yang telah dipisahkan
bagi Tuhan. Status rohani yang baru ini membawa konsekuensi pada seluruh
kehidupan kita.
Bagi orang percaya hari ini, ibadah
menjadi sarana penting untuk terus hidup dalam persatuan dengan Kristus. Ketika
kita mendengar firman Tuhan, berdoa, memuji, dan bersekutu dengan-Nya, Allah
sedang membentuk pikiran kita agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Firman
Tuhan mengubah cara kita melihat hidup, memperbarui hati, dan menuntun langkah
kita dalam praktik sehari-hari. Karena itu, ibadah tidak boleh berhenti pada
kehadiran fisik di gereja, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam
karakter dan tindakan. Jika kita benar-benar telah dipersatukan dengan Kristus,
maka hidup kita pun harus mencerminkan kekudusan-Nya. Orang yang bersatu dengan
Kristus tidak mungkin tetap hidup sama seperti sebelumnya. Union with Christ
bukan hanya sebuah doktrin, melainkan realitas yang terlihat dalam cara kita
hidup setiap hari.
Saudara, apakah kita menyadari bahwa
keselamatan bukan hanya tentang diampuni, tetapi juga tentang dipersatukan
dengan Kristus dan hidup di dalam kekudusan-Nya? Karena itu, marilah kita tidak
hanya bersukacita atas pengampunan yang Tuhan berikan, tetapi juga hidup
sebagai orang yang sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus dan mencerminkan
kekudusan-Nya setiap hari. (RT)

Komentar
Posting Komentar