Union with Christ: Mengambil Bagian dalam Kekudusan Allah

Rabu, 29 April 2026
Union with Christ: Mengambil Bagian dalam Kekudusan Allah 
Bacaan Alkitab : Imamat 6:14-18

 

Imamat 6:14–18 berbicara tentang hukum korban sajian yang harus dipersembahkan di hadapan Tuhan. Korban ini adalah bagian dari sistem ibadah Israel yang menegaskan hubungan antara umat dengan Allah yang kudus. Tepung terbaik dipersembahkan, sebagian dibakar sebagai bagian bagi Tuhan, dan sebagian dimakan oleh imam di tempat yang kudus. Para imam yang memakan korban itu sedang mengambil bagian dalam sesuatu yang telah dikuduskan bagi Tuhan. Mereka tidak hanya menerima bagian dari korban, tetapi berpartisipasi dalam kekudusan yang dimediasi melalui korban tersebut. Dalam konteks Perjanjian Lama, korban menjadi sarana yang memungkinkan umat Allah mengambil bagian dalam relasi dengan Dia yang kudus.

Sistem korban ini bukanlah tujuan akhir, melainkan bayangan yang menunjuk kepada penggenapan yang lebih sempurna. Dalam terang Perjanjian Baru, hal ini menunjuk kepada persatuan kita dengan Kristus (union with Christ). Melalui karya Kristus, kita bukan hanya diampuni, tetapi juga dipersatukan dengan Dia. Seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:4, kita “mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Artinya, hidup Allah bekerja di dalam kita—membentuk identitas baru, cara berpikir baru, dan kehidupan yang baru. Kita tidak menjadi Allah, tetapi kita dibentuk untuk semakin serupa dengan Kristus dalam karakter, pikiran, dan hidup. Kita tidak lagi hidup sebagai manusia lama, tetapi sebagai orang yang telah dipisahkan bagi Tuhan. Status rohani yang baru ini membawa konsekuensi pada seluruh kehidupan kita.

Bagi orang percaya hari ini, ibadah menjadi sarana penting untuk terus hidup dalam persatuan dengan Kristus. Ketika kita mendengar firman Tuhan, berdoa, memuji, dan bersekutu dengan-Nya, Allah sedang membentuk pikiran kita agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Firman Tuhan mengubah cara kita melihat hidup, memperbarui hati, dan menuntun langkah kita dalam praktik sehari-hari. Karena itu, ibadah tidak boleh berhenti pada kehadiran fisik di gereja, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam karakter dan tindakan. Jika kita benar-benar telah dipersatukan dengan Kristus, maka hidup kita pun harus mencerminkan kekudusan-Nya. Orang yang bersatu dengan Kristus tidak mungkin tetap hidup sama seperti sebelumnya. Union with Christ bukan hanya sebuah doktrin, melainkan realitas yang terlihat dalam cara kita hidup setiap hari.

Saudara, apakah kita menyadari bahwa keselamatan bukan hanya tentang diampuni, tetapi juga tentang dipersatukan dengan Kristus dan hidup di dalam kekudusan-Nya? Karena itu, marilah kita tidak hanya bersukacita atas pengampunan yang Tuhan berikan, tetapi juga hidup sebagai orang yang sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus dan mencerminkan kekudusan-Nya setiap hari. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan