Proses yang Membentuk Persembahan
Proses yang Membentuk Persembahan
Saudara, sering kali kita ingin dipakai
Tuhan tanpa melalui proses. Kita rindu hidup kita berkenan kepada-Nya, tetapi
tidak siap ketika Tuhan mulai mengubah, mengoreksi, bahkan “merombak”
bagian-bagian dalam diri kita. Kita lebih suka tetap utuh menurut versi kita
sendiri, daripada dibentuk ulang oleh tangan Tuhan. Namun Imamat 1:6-9
memberikan gambaran yang sangat berbeda tentang bagaimana persembahan yang
berkenan itu dipersiapkan.
Dalam teks ini, korban bakaran tidak
langsung diletakkan di atas mezbah. Binatang itu terlebih dahulu dikuliti, dipotong-potong, lalu disusun
dengan rapi sebelum
dibakar bagi Tuhan. Proses ini bukan sekadar teknis, tetapi mengandung makna
rohani yang dalam: persembahan kepada Allah melibatkan penghancuran dan penataan ulang. Korban
itu tidak dipersembahkan dalam keadaan utuh, tetapi dipecah menjadi
bagian-bagian, lalu ditata secara teratur di hadapan Tuhan. Ini menggambarkan
bahwa Allah tidak hanya menginginkan sesuatu dari kita, tetapi menghendaki seluruh hidup kita, yang telah dibentuk sesuai dengan
kehendak-Nya.
Prinsip ini selaras dengan Roma 12:1-2, di mana orang percaya dipanggil
untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan mengalami
pembaruan budi, yang menunjukkan bahwa semua orang percaya diminta untuk
mempersembahkan seluruh kehidupan mereka kepada Tuhan. Bahkan melalui baptisan, kita melambangkan
kematian manusia lama dan kebangkitan dalam hidup yang baru. Artinya, sebelum
Tuhan memakai hidup kita, sering kali Ia terlebih dahulu menghancurkan ego, kesombongan, dan
kehendak kita, lalu menatanya kembali. Proses Tuhan
sering kali tidak nyaman. Ada bagian hidup kita yang “dipotong,” ada rencana
yang diubah, ada karakter yang dikoreksi. Namun semua itu bukan tanpa tujuan.
Tuhan sedang menyusun hidup kita menjadi persembahan yang berkenan kepada-Nya. Jangan
menolak proses itu. Apa yang terasa seperti penghancuran, sebenarnya adalah
bagian dari penataan ilahi. Tuhan tidak sedang merusak hidupmu,
tetapi sedang membentuknya.
Saudara, apakah kita memberi ruang bagi Tuhan
untuk “menata ulang” hidup kita sesuai kehendak-Nya? Kiranya kita memberi ruang
sepenuhnya bagi Tuhan untuk membentuk dan menata hidup kita sesuai dengan
kehendak-Nya. (RT)

Komentar
Posting Komentar