Membuang Semua Sumber Dosa
Membuang Semua Sumber Dosa
Dalam bagian ini, hukum korban penghapus dosa bagi imam yang berdosa tanpa sadar diperinci dengan dua tindakan utama. Pertama, darah korban akan dipercikkan di depan tabir, dioleskan pada tanduk mezbah dupa, sisanya dicurahkan di dasar mezbah kurban bakaran. Kedua, seluruh sisa lembu-kulit, kepala, isi perut, kotoran-dibawa ke luar perkemahan, ke tempat pembuangan abu, lalu dibakar habis.
Beberapa ahli PL melihat kedua tindakan ini sebagai tindakan pemurnian komunitas. Mulai dari memercikkan darah korban yang menunjukkan bahwa dosa imam sebagai pemimpin rohani tidak pernah bersifat pribadi karena imam adalah wakil umat Allah di hadapan Allah. Dosa Imam dapat mencemari umat sebab dapat ditiru oleh jemaat. Karena itu simbol dosa itu harus disingkirkan secara total dari lingkungan perjanjian. Hal ini bukan sekedar soal pengampunan, tetapi pembersihan ruang hidup umat. Dengan demikian, penebusan bukan hanya diampuni, tetapi juga disingkirkan. Allah bukan hanya menghapus kesalahan kita di hadapan-Nya, tetapi juga menghendaki agar sumber kenajisan itu tidak lagi tinggal dalam kehidupan umat. Pembacaan Firman Tuhan hari ini melambangkan dua aspek penebusan dosa yaitu : pendamaian di hadapan Allah (darah di mezbah) dan pembuangan dosa dari umat (bangkai di luar perkemahan). Hal ini berarti bahwa dosa bukan sekadar diampuni sesuai dengan kehendak Allah, tetapi disingkirkan dari tengah-tengah umat Allah. Dengan demikian Allah bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi menjauhkan dosa itu dari hadapan-Nya dan dari hidup kita.
Saudara
melalui bagian firman Tuhan yang kita baca hari ini, menyingkapkan bahwa dosa
bukan hanya persoalan moral batin, tetapi juga menyangkut tindakan nyata dan
lingkungan yang bebas dari sumber dosa. Karena itu, pertobatan sejati menuntut
dua langkah: pertama, memohon pengampunan di hadapan Tuhan; Kedua,
membuang sumber-sumber yang mendorong kita kembali berdosa. Contoh konkret bila
sebuah komunitas pertemanan membenarkan kekerasan “demi kebaikan”, maka menjauh
dari komunitas itu adalah bagian dari pertobatan. Dalam etika Kristen, motif
baik tidak pernah membenarkan cara yang salah. Memukul tetaplah dosa, sekalipun
niatnya dianggap baik. Dengan demikian, ketika kita sadar telah berdosa maka
datanglah kepada Tuhan untuk pendamaian, lalu ambillah langkah tegas untuk
menyingkirkan pemicu dosa dari hidup kita. Sebab, pengampunan tanpa pembuangan
sumber dosa hanya akan membuat kita kembali jatuh di lubang yang sama. Oleh
sebab itu, Mari kita merenungkan, “ apakah ada lingkungan, relasi atau
kebiasaan apa yang perlu saya “bawa ke luar perkemahan hari ini?” Jika ada,
mari berdoa dan meminta Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk membuang
semua sumber dosa dan hidup menyenangkan hati-Nya senantiasa. (TH)

Komentar
Posting Komentar