Memberikan Seluruh yang Terbaik untuk Tuhan
Memberikan Seluruh yang Terbaik untuk Tuhan
Bacaan Alkitab : Imamat 3:12–17
Dalam Imamat 3:12–17, Tuhan memberikan
ketetapan yang jelas: bagian terbaik, yaitu lemak, harus dipersembahkan
seluruhnya kepada-Nya. Tidak boleh sebagian. Tidak boleh disisakan. Semua yang
terbaik itu adalah milik Tuhan. Bagi bangsa Israel, lemak bukan sekadar bagian
biasa, tetapi dianggap sebagai bagian yang paling kaya dan
bernilai—melambangkan kelimpahan dan kualitas terbaik dari seekor hewan.
Dengan kata lain, Tuhan sedang mengajarkan
bahwa yang diberikan kepada-Nya haruslah yang paling berharga, bukan yang
tersisa. Korban keselamatan sendiri adalah korban persekutuan—sebuah gambaran
relasi yang erat antara manusia dengan Tuhan. Jadi ketika seseorang memberikan
yang terbaik, itu bukan hanya soal ketaatan pada hukum, tetapi ungkapan kasih,
syukur, dan penghormatan yang mendalam. Ada relasi di balik persembahan itu.
Bayangkan orang itu berdiri di sana, menyaksikan persembahannya diolah di atas
mezbah. Ada kesadaran yang dalam: apa yang ia berikan bukan sekadar ritual,
tetapi ungkapan kasih dan penghormatan kepada Tuhan. Ia memberikan yang
terbaik, karena ia tahu kepada siapa ia memberi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering
menilai sesuatu dari seberapa banyak yang kita berikan. Namun firman Tuhan
justru mengarahkan kita untuk melihat lebih dalam—bukan hanya kuantitas, tetapi
kualitas dan hati di balik pemberian itu. Tuhan tidak sekadar melihat apa yang
kita berikan, tetapi bagaimana dan dari bagian mana kita memberikannya. Namun,
jika kita jujur melihat hidup kita hari ini, seringkali kita justru melakukan
sebaliknya. Kita memberi Tuhan waktu ketika kita tidak sibuk. Kita berdoa ketika
tidak ada hal lain yang lebih menarik. Kita melayani dengan setengah hati.
Tanpa sadar, kita memberikan “sisa”, bukan “yang terbaik”. Padahal, Tuhan tidak
pernah berubah. Ia tetap layak menerima yang terbaik dari hidup kita. Bukan
karena Ia membutuhkan, tetapi karena Dia adalah Tuhan yang telah terlebih
dahulu memberikan yang terbaik bagi kita. Rasul Paulus mengingatkan bahwa apa pun yang kita
lakukan, kita harus melakukannya seperti untuk Tuhan. Artinya, seluruh hidup
kita—pekerjaan, pelayanan, bahkan hal-hal kecil—bisa menjadi persembahan yang
terbaik jika dilakukan dengan hati yang tertuju kepada-Nya, bukan untuk mencari
pujian manusia. Saudara, apakah hidup
kita sudah menjadi persembahan yang terbaik? Ataukah kita masih menyimpan
bagian terbaik itu untuk diri sendiri? Biarlah kiranya hari ini kita
belajar memberikan bukan dari sisa, tetapi dari yang terutama. Memberi bukan
dengan setengah hati, tetapi dengan seluruh hidup. Sebab Tuhan yang kita sembah
adalah Tuhan yang layak menerima segala yang terbaik dari kita. Dan ketika kita
hidup seperti untuk Tuhan, seluruh hidup kita akan menjadi persembahan yang
harum di hadapan-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar