Lebih dari Pengampunan
Lebih dari Pengampunan
Dalam Kitab Imamat 5:7–10, Tuhan memberikan ketetapan khusus bagi
mereka yang tidak mampu mempersembahkan korban dari ternak. Sebagai gantinya,
mereka boleh membawa dua burung—suatu bentuk kemurahan Allah yang membuka jalan
bagi semua orang, tanpa terkecuali. Namun yang menarik, kedua burung itu
memiliki fungsi yang berbeda. Yang pertama dipersembahkan sebagai korban
penghapus dosa, sementara yang kedua menjadi korban bakaran. Dalam konteks
ibadah Israel, korban penghapus dosa berfungsi untuk menyelesaikan masalah
dosa, sedangkan korban bakaran melambangkan penyerahan total kepada Tuhan.
Dengan demikian, bahkan dalam sistem korban yang sederhana ini, Tuhan sudah
menyatakan bahwa relasi dengan-Nya tidak hanya soal pengampunan, tetapi juga
tentang hidup yang diserahkan sepenuhnya kepada-Nya.
Secara makna, dua burung ini menggambarkan dua dimensi penting
dalam kehidupan rohani. Burung pertama menunjukkan bahwa manusia berdosa
membutuhkan pengampunan—karena itulah maka dosa harus dibereskan
terlebih dahulu sebelum seseorang dapat mendekat kepada Allah. Namun burung
kedua menunjukkan bahwa setelah pengampunan terjadi, hidup seseorang tidak
boleh tetap sama. Ia dipanggil untuk menjadi persembahan yang hidup, yang
sepenuhnya milik Tuhan. Dalam terang Yesus Kristus, kedua dimensi ini mencapai
kepenuhannya. Kematian-Nya di kayu salib bukan hanya membayar dosa manusia,
tetapi juga membuka jalan bagi kehidupan yang baru. Ia tidak hanya
menyelamatkan kita dari hukuman dosa, tetapi juga memberi kuasa untuk hidup
dalam kekudusan. Sayangnya, banyak orang percaya hanya berhenti pada pengalaman
diampuni, tanpa melangkah pada kehidupan yang diubahkan.
Saudara, firman ini mengajak kita memeriksa kembali iman kita.
Apakah kita hanya bersyukur karena dosa kita diampuni, tetapi masih hidup tanpa
perubahan yang nyata? Kekristenan bukan sekadar tentang masa lalu yang
dibereskan, tetapi tentang hidup yang terus diperbarui. Tuhan tidak hanya ingin
kita bebas dari dosa, tetapi juga hidup bagi-Nya setiap hari. Ini berarti kita
belajar menyerahkan kehendak, ambisi, dan cara hidup kita kepada Tuhan. Kita
tidak berjalan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kuasa yang Ia berikan.
Ketika kita memahami kedua dimensi ini—pengampunan dan penyerahan—maka hidup
kita tidak lagi setengah-setengah, melainkan menjadi persembahan yang utuh bagi
kemuliaan-Nya.
Saudara,
apakah kita hanya berhenti pada pengalaman diampuni, atau sungguh hidup dalam
perubahan setiap hari? Saudara ketahuilah bahwa pengampunan adalah awal, tetapi
penyerahan adalah tujuan dari kehidupan bersama Tuhan. (RT)

Komentar
Posting Komentar