Keseharian yang Dipersembahkan dengan Ketaatan
Keseharian yang Dipersembahkan dengan Ketaatan
Bagian ini berisi tentang persembahan sajian di hadapan Allah. Persembahan sajian adalah persembahan tanpa darah sebab bertujuan bukan untuk penebusan dosa tetapi penyerahan hidup, ungkapan syukur serta pengabdian. Dalam bagian ayat 7-10, persembahan berasal dari makanan olahan sehari-hari yang di masak dalam wajan. Persembahan sajian makanan olahan memiliki dua bagian utuh yaitu: bagian pertama, akan diserahkan kepada Imam untuk dibakar di atas mezbah sehingga mengeluarkan aroma yang menyenangkan Tuhan. Bagian kedua, akan diberikan kepada Harun dan anak-anaknya sebagai makanan mereka. Persembahan sajian ini menjadi bagian maha kudus dari kurban oleh api bagi Tuhan (ay. 10).
Dalam bagian Firman Tuhan yang baru saja kita baca, kita melihat bahwa perkenanan Allah atas umat-Nya berasal dari ketaatan terhadap perintah-Nya. Allah menetapkan cara untuk memberikan persembahan sajian. Umat-Nya akan memasak tepung terbaik yang diolah dengan minyak untuk dibawa kepada Imam. Ketaatan terhadap cara ini, akan menjadikan Allah menerima persembahan tersebut sehingga ketika dibakar akan menghasilkan aroma yang menyenangkan-Nya. Dengan demikian, perkenanan Allah bukan terletak pada kreativitas manusia dalam memberi, tetapi pada ketaatan mengikuti cara yang telah Allah tetapkan. Mulai dari tepung terbaik, minyak, cara memasak, cara menyerahkan semua ada aturannya. Mengapa? Karena Allah bukan hanya melihat apa yang kita persembahkan, tetapi bagaimana cara kita mempersembahkannya.
Saudara, dalam kehidupan iman kita saat ini tentunya kita juga merindukan untuk senantiasa menyenangkan hati Tuhan. Misalnya : melayani di gereja, bekerja, membangun keluarga, menjalani rutinitas harian. Semua itu bisa menjadi persembahan sajian di hadapan Tuhan jika dilakukan dengan hati yang taat, motivasi yang benar, dan kualitas yang terbaik. Rasul Paulus menegaskan prinsip ini dalam surat Roma 12:1 bahwa hidup kita adalah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Bukan lagi tepung dan minyak, tetapi seluruh kehidupan kita. Ketika kita taat meski tidak dilihat orang, itu aroma yang harum. Ketika kita tetap setia di hal kecil, itu aroma yang harum. Oleh sebab itu meskipun ketaatan kita mungkin terlihat sederhana, tetapi di hadapan Tuhan itu adalah persembahan maha kudus. Mari menyenangkan hati-Nya dengan tetap hidup dalam ketaatan kepada-Nya.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah seluruh kehidupan kita telah menyenangkan hati-Nya? Mari berdoa dan meminta Roh Kudus untuk memberikan kekuatan dan hikmat agar kita mampu untuk menjaga kehidupan kita agar senantiasa menyenangkan hati-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar