Hidup yang Tidak Tersisa
Hidup yang Tidak Tersisa
Di tengah
berbagai jenis persembahan dalam kitab Imamat, ada satu bagian yang tampak
sederhana tetapi menyimpan makna yang sangat dalam, yaitu Imamat 6:19–23.
Bagian ini berbicara tentang korban sajian yang dipersembahkan oleh imam pada
saat pengurapan para imam. Sekilas, ini terlihat seperti aturan biasa, namun
ada perbedaan mencolok dibandingkan dengan persembahan lainnya. Biasanya,
ketika umat mempersembahkan korban sajian, persembahan itu “dibagi dua”:
sebagian dibakar bagi Tuhan, dan sebagian lagi menjadi bagian imam untuk
dimakan. Ada bagian untuk Tuhan, tetapi ada juga bagian yang kembali kepada
manusia. Namun, tidak demikian dengan korban sajian dari imam. Tuhan menetapkan
bahwa korban itu harus dibakar
seluruhnya, tidak
boleh dimakan sedikit pun. Tidak ada bagian untuk diri sendiri—semuanya menjadi
milik Tuhan. Di sinilah kita mulai melihat bahwa Tuhan sedang mengajarkan
sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar aturan ibadah.
Perbedaan
ini bukan tanpa alasan. Imam adalah orang-orang yang dipanggil secara khusus
untuk melayani Tuhan. Hidup mereka tidak sama dengan umat pada umumnya. Bahkan
dalam sistem kehidupan Israel, imam tidak mendapatkan tanah warisan seperti
suku-suku lain. Mereka tidak memiliki ladang untuk digarap atau wilayah untuk
dikelola. Secara manusia, itu tampak seperti kehilangan—tidak punya sumber
penghasilan tetap, tidak punya jaminan masa depan. Namun justru di situlah
maknanya: Tuhan ingin hidup imam tidak terbagi. Mereka tidak dipanggil untuk
mengurus milik sendiri sekaligus melayani Tuhan, tetapi untuk hidup sepenuhnya
bagi Tuhan. Tuhan sendiri yang menjadi bagian mereka. Itulah sebabnya ketika
imam mempersembahkan korban yang habis terbakar, itu bukan sekadar ritual,
melainkan gambaran hidup mereka. Korban itu melambangkan bahwa hidup mereka
tidak disisakan untuk diri sendiri. Tidak ada cadangan, tidak ada bagian
tersembunyi, tidak ada kepentingan pribadi yang dipertahankan. Semuanya adalah
milik Tuhan. Dalam Perjanjian Baru,
identitas ini diperluas. Kita semua yang percaya disebut sebagai imamat yang
rajani (1 Petrus 2:9). Artinya, panggilan untuk hidup sepenuhnya bagi Tuhan
tidak lagi terbatas pada imam dalam sistem Perjanjian Lama, tetapi menjadi
panggilan bagi setiap orang percaya. Melalui Imamat 6:19–23, Tuhan mengundang
kita masuk lebih dalam—bukan hanya memberi sebagian, tetapi hidup sebagai
milik-Nya sepenuhnya. Penyerahan total bukan berarti kita kehilangan segalanya,
tetapi berarti kita mengakui bahwa hidup ini bukan lagi milik kita, melainkan
milik Tuhan. Seperti imam yang tidak memiliki tanah dan hanya bergantung pada
Tuhan, kita pun dipanggil untuk belajar percaya bahwa Tuhan adalah satu-satunya
sumber dan bagian hidup kita. Di situlah letak iman yang sejati: ketika kita
tidak lagi memiliki “pegangan lain” selain Tuhan. Saudara, Bagian apa yang masih
saya pertahankan dan belum saya serahkan kepada Tuhan?
Korban
yang habis terbakar itu menjadi simbol kehidupan yang tidak tersisa—kehidupan
yang sepenuhnya milik Tuhan. Hari ini, Tuhan tidak hanya mencari apa yang kita
berikan, tetapi seluruh hidup kita. Ketika kita berhenti hidup terbagi dan
mulai menyerahkan diri sepenuhnya, kita sedang menyatakan bahwa Tuhan adalah
segalanya bagi kita. Dan justru di dalam penyerahan yang total itu, kita
menemukan bahwa Tuhan sendiri adalah bagian yang paling cukup dalam hidup kita. (FS)

Komentar
Posting Komentar