Dosa Yang Dianggap “Normal”

Jumat, 17 April 2026
Dosa Yang Dianggap “Normal” 
Bacaan Alkitab : Imamat 4: 13-21

 

          Bagian Firman Tuhan dalam “Korban Penghapus Dosa” yang baru saja kita baca merupakan dosa yang tidak disengaja dan dilakukan oleh segenap jemaat Israel. Ketika teguran secara umum dilakukan oleh Imam sehingga mereka menyadari dosa, maka mereka diwajibkan untuk mempersembahkan seekor lembu jantan muda sebagai korban penebus dosa. Korban yang dibawa ke depan kemah pertemuan, kemudian akan ditumpangi tangan oleh para tua-tua sebagai simbol pemindahan dosa kepada korban. Imam Besar akan menyembelih korban tersebut lalu darahnya akan dipercikkan 7x di hadapan Tuhan, sebagian lagi pada tanduk-tanduk mezbah di hadapan Tuhan, sebagian lagi di bawah mezbah korban bakaran. Untuk lemaknya akan dibakar habis di atas mezbah sehingga pendamaian antara Allah dan umat pun terjadi.

          Dosa jemaah Israel merupakan dosa sosial yang bersifat masif berarti dosa tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi dilakukan, didukung, atau dipelihara oleh banyak orang, kelompok, sistem, atau struktur masyarakat sehingga dampaknya meluas atau berulang. Dosa sosial bersifat masif merupakan kejahatan yang menjadi suatu budaya, kebiasaan, kebijakan, atau sistem yang diterima bersama-sama. Dosa ini juga pernah terjadi sebelum peristiwa air bah. “Kejahatan manusia besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:3).  Hal ini menunjukkan dosa sudah menjadi kondisi kolektif, bukan lagi perbuatan pribadi. Di mana pemimpin, sistem dan masyarakat ikut terlibat. Dosa menjadi struktur sosial yang dianggap benar. Namun, pembacaan Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah dapat memulihkan kerusakan dosa sampai kepada dosa bersifat sosial. Dengan cara, secara pribadi datang kepada Tuhan, meminta ampun dan menjadi berkat bagi sesama dengan cara hidup dalam kebenaran-Nya.

          Pada masa kini, dosa sosial secara masif dapat kita temukan pada satu tindakan yang dilakukan banyak orang, dianggap normal, didukung sistem, korban serta dampak dosa meluas dan sulit dihentikan karena sudah mengakar dalam struktur. Misalnya : korupsi yang dianggap “biasa”; ketidakadilan ekonomi yang dibiarkan; eksploitasi pekerja demi keuntungan; perusakan alam demi industri serta hoaks dan kebencian yang disebarkan massal. Di sini, orang baik pun akan ikut terlibat tanpa sadar karena hidup dalam sistem tersebut. Dosa ini “berat” dimata Tuhan karena merusak gambar Allah dalam diri orang sekaligus, menindas yang lemah secara sistematis, membuat dosa terlihat “normal” serta menghilangkan kepekaan hati nurani masyarakat. Namun, bahkan sistem yang rusak sekalipun dapat diampuni dan dipulihkan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan demikian, jika hari ini Allah menyadarkan kita akan keterlibatan dalam dosa sosial secara masif.  Marilah kita akui di hadapan Allah dan meminta hikmat agar dapat hidup dalam kebenaran-Nya dan menjadi semakin teguh dalam iman kita kepada-Nya. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan