Dosa Yang Dianggap “Normal”
Dosa Yang Dianggap “Normal”
Bagian Firman
Tuhan dalam “Korban Penghapus Dosa” yang baru saja kita baca merupakan dosa
yang tidak disengaja dan dilakukan oleh segenap jemaat Israel. Ketika teguran
secara umum dilakukan oleh Imam sehingga mereka menyadari dosa, maka mereka
diwajibkan untuk mempersembahkan seekor lembu jantan muda sebagai korban
penebus dosa. Korban yang dibawa ke depan kemah pertemuan, kemudian akan
ditumpangi tangan oleh para tua-tua sebagai simbol pemindahan dosa kepada
korban. Imam Besar akan menyembelih korban tersebut lalu darahnya akan
dipercikkan 7x di hadapan Tuhan, sebagian lagi pada tanduk-tanduk mezbah di
hadapan Tuhan, sebagian lagi di bawah mezbah korban bakaran. Untuk lemaknya
akan dibakar habis di atas mezbah sehingga pendamaian antara Allah dan umat pun
terjadi.
Dosa jemaah
Israel merupakan dosa sosial yang bersifat masif berarti dosa tidak hanya
dilakukan oleh individu, tetapi dilakukan, didukung, atau dipelihara oleh
banyak orang, kelompok, sistem, atau struktur masyarakat sehingga dampaknya
meluas atau berulang. Dosa sosial bersifat masif merupakan kejahatan yang
menjadi suatu budaya, kebiasaan, kebijakan, atau sistem yang diterima
bersama-sama. Dosa ini juga pernah terjadi sebelum peristiwa air bah.
“Kejahatan manusia besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu
membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:3). Hal ini menunjukkan dosa sudah menjadi
kondisi kolektif, bukan lagi perbuatan pribadi. Di mana pemimpin, sistem dan
masyarakat ikut terlibat. Dosa menjadi struktur sosial yang dianggap benar.
Namun, pembacaan Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah
dapat memulihkan kerusakan dosa sampai kepada dosa bersifat sosial. Dengan
cara, secara pribadi datang kepada Tuhan, meminta ampun dan menjadi berkat bagi
sesama dengan cara hidup dalam kebenaran-Nya.
Pada masa kini,
dosa sosial secara masif dapat kita temukan pada satu tindakan yang dilakukan
banyak orang, dianggap normal, didukung sistem, korban serta dampak dosa meluas
dan sulit dihentikan karena sudah mengakar dalam struktur. Misalnya : korupsi
yang dianggap “biasa”; ketidakadilan ekonomi yang dibiarkan; eksploitasi
pekerja demi keuntungan; perusakan alam demi industri serta hoaks dan kebencian
yang disebarkan massal. Di sini, orang baik pun akan ikut terlibat tanpa sadar
karena hidup dalam sistem tersebut. Dosa ini “berat” dimata Tuhan karena
merusak gambar Allah dalam diri orang sekaligus, menindas yang lemah secara
sistematis, membuat dosa terlihat “normal” serta menghilangkan kepekaan hati
nurani masyarakat. Namun, bahkan sistem yang rusak sekalipun dapat diampuni dan
dipulihkan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan demikian, jika hari
ini Allah menyadarkan kita akan keterlibatan dalam dosa sosial secara
masif. Marilah kita akui di hadapan
Allah dan meminta hikmat agar dapat hidup dalam kebenaran-Nya dan menjadi
semakin teguh dalam iman kita kepada-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar