Dosa itu adalah Dosaku
Dosa itu adalah Dosaku
Bagian
ayat 32-35 berisi peraturan tentang korban penghapus dosa bagi rakyat jelata
yang telah berbuat dosa. Ia harus membawa seekor domba betina yang tidak
bercela, menumpangkan tangannya di atas kepala domba itu, lalu menyembelihnya.
Darahnya dibubuhkan pada tanduk-tanduk mezbah, lemaknya dibakar di atas mezbah,
dan melalui tindakan itu imam mengadakan pendamaian sehingga orang tersebut
menerima pengampunan.
Hal
yang sangat penting dalam bagian ini adalah ketika
orang yang berdosa sendiri yang menumpangkan tangan ke atas korban (ayat 33).
Tindakan ini menunjukkan bahwa pengampunan dalam sistem korban tidak pernah
bersifat otomatis atau impersonal, tetapi menuntut keterlibatan pribadi dan
kesadaran moral dari pelaku dosa. Beberapa ahli PL menjelaskan bahwa tindakan
ini bukan sekedar ritual, tetapi sarat makna rohani : pertama,
menumpangkan tangan atas korban sebagai kesadaran bahwa “dosa itu adalah
dosaku”. Kedua, menyaksikan kematian korban secara langsung
sebagai suatu kesadaran bahwa korban tersebut mati menggantikan aku. Dengan
demikian, ketika menaruh tangannya, seolah ia berkata “dosa ini adalah dosaku.
Hukuman ini seharusnya atasku. Korban ini mati menggantikanku.” Inilah inti
pengampunan personal. Dengan demikian, teks ini menunjukkan bahwa pengampunan
bukanlah hasil dari sekedar hadir dalam ibadah atau membawa korban secara
formalitas. Orang itu harus : datang sendiri, menyentuh korban sendiri dan menyaksikan
kematian penggantinya sendiri. Artinya, ia tidak bisa menyerahkan tanggung
jawab dosanya kepada imam. Pengampunan terjadi ketika ada pengakuan dosa secara
pribadi.
Pada
masa kini, banyak orang percaya yang merasa aman secara religius karena rajin
beribadah, mengucapkan doa pengakuan dosa secara umum tetapi jarang mengakui
dosa secara spesifik di hadapan Allah. Kita sering berkata “ampuni dosa kami”
tetapi jarang berkata: “ampuni kesombonganku, kepahitanku, iri hatiku,
kemalasanku.” Prinsip ini di lakukan oleh gereja mula-mula berdasarkan 1 Yoh.
1: 9 dan para Bapa Gereja melatih diri dalam pemeriksaan hati setiap hari,
pengakuan dosa yang spesifik dan kerendahan hati di hadapan Allah. Dengan
demikian mari kita melatih kembali disiplin rohani yang sudah hilang yaitu
memeriksa hati setiap hari di hadapan Allah; mengaku dosa secara spesifik bukan
umum; datang kepada Kristus secara pribadi dalam pertobatan serta melatih kepekaan
hati terhadap dosa. Saudara, apakah kita telah berani mengatakan “dosa ini
adalah dosaku?” Ingatlah bahwa pengampunan sejati di mulai ketika seseorang
berani berkata : “dosa itu dosaku dan Engkau mati menggantikanku” di hadapan
Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar