Dosa itu adalah Dosaku

Selasa, 21 April 2026
Dosa itu adalah Dosaku 
Bacaan Alkitab : Imamat 4: 32-35


Bagian ayat 32-35 berisi peraturan tentang korban penghapus dosa bagi rakyat jelata yang telah berbuat dosa. Ia harus membawa seekor domba betina yang tidak bercela, menumpangkan tangannya di atas kepala domba itu, lalu menyembelihnya. Darahnya dibubuhkan pada tanduk-tanduk mezbah, lemaknya dibakar di atas mezbah, dan melalui tindakan itu imam mengadakan pendamaian sehingga orang tersebut menerima pengampunan. 

Hal yang sangat penting dalam bagian ini adalah ketika orang yang berdosa sendiri yang menumpangkan tangan ke atas korban (ayat 33). Tindakan ini menunjukkan bahwa pengampunan dalam sistem korban tidak pernah bersifat otomatis atau impersonal, tetapi menuntut keterlibatan pribadi dan kesadaran moral dari pelaku dosa. Beberapa ahli PL menjelaskan bahwa tindakan ini bukan sekedar ritual, tetapi sarat makna rohani : pertama, menumpangkan tangan atas korban sebagai kesadaran bahwa “dosa itu adalah dosaku”. Kedua, menyaksikan kematian korban secara langsung sebagai suatu kesadaran bahwa korban tersebut mati menggantikan aku. Dengan demikian, ketika menaruh tangannya, seolah ia berkata “dosa ini adalah dosaku. Hukuman ini seharusnya atasku. Korban ini mati menggantikanku.” Inilah inti pengampunan personal. Dengan demikian, teks ini menunjukkan bahwa pengampunan bukanlah hasil dari sekedar hadir dalam ibadah atau membawa korban secara formalitas. Orang itu harus : datang sendiri, menyentuh korban sendiri dan menyaksikan kematian penggantinya sendiri. Artinya, ia tidak bisa menyerahkan tanggung jawab dosanya kepada imam. Pengampunan terjadi ketika ada pengakuan dosa secara pribadi.

Pada masa kini, banyak orang percaya yang merasa aman secara religius karena rajin beribadah, mengucapkan doa pengakuan dosa secara umum tetapi jarang mengakui dosa secara spesifik di hadapan Allah. Kita sering berkata “ampuni dosa kami” tetapi jarang berkata: “ampuni kesombonganku, kepahitanku, iri hatiku, kemalasanku.” Prinsip ini di lakukan oleh gereja mula-mula berdasarkan 1 Yoh. 1: 9 dan para Bapa Gereja melatih diri dalam pemeriksaan hati setiap hari, pengakuan dosa yang spesifik dan kerendahan hati di hadapan Allah. Dengan demikian mari kita melatih kembali disiplin rohani yang sudah hilang yaitu memeriksa hati setiap hari di hadapan Allah; mengaku dosa secara spesifik bukan umum; datang kepada Kristus secara pribadi dalam pertobatan serta melatih kepekaan hati terhadap dosa. Saudara, apakah kita telah berani mengatakan “dosa ini adalah dosaku?” Ingatlah bahwa pengampunan sejati di mulai ketika seseorang berani berkata : “dosa itu dosaku dan Engkau mati menggantikanku” di hadapan Allah. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan