Api yang Tidak Boleh Padam
Api yang Tidak Boleh Padam
Perikop Imamat 6:8–13
menampilkan salah satu perintah yang tampak sederhana, tetapi sarat makna: api
di atas mezbah tidak boleh padam. Tuhan memerintahkan para imam untuk menjaga
nyala api itu terus menerus—setiap pagi mereka harus menambah kayu, mengatur
korban bakaran, dan memastikan api tetap menyala sepanjang hari dan malam.
Bahkan abu dari korban pun harus diurus dengan tertib, menunjukkan bahwa
seluruh proses ini bukan sekadar rutinitas, tetapi tindakan ibadah yang penuh
kesadaran. Menariknya, api itu pada awalnya dinyalakan oleh Tuhan sendiri (bdk.
Imamat 9:24). Artinya, sumbernya ilahi. Namun setelah itu, Tuhan tidak
membiarkan api tersebut “otomatis” menyala tanpa keterlibatan manusia. Ia
justru memberi tanggung jawab kepada imam untuk menjaga dan merawatnya. Di
sinilah kita melihat sebuah prinsip penting: karya Allah selalu mengundang
respons manusia.
Secara teologis, ini
membawa kita pada pemahaman tentang ontologi partisipatif—bahwa manusia
dipanggil bukan hanya untuk menerima anugerah Allah, tetapi untuk hidup di
dalamnya secara aktif. Keselamatan adalah inisiatif Allah sepenuhnya, tetapi
kehidupan yang diselamatkan adalah kehidupan yang berpartisipasi. Kita tidak
menciptakan api itu, tetapi kita bertanggung jawab untuk menjaganya tetap
menyala. Banyak orang Kristen jatuh dalam dua ekstrem. Ada yang merasa semua
bergantung pada usaha manusia, sehingga iman menjadi beban. Di sisi lain, ada
yang menganggap karena semuanya anugerah, maka tidak perlu ada usaha sama
sekali. Imamat 6 menolong kita melihat keseimbangan: Allah yang memulai,
manusia yang merespons. Prinsip ini sejalan dengan Roma 12:1–2. Rasul Paulus
berkata agar kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus,
dan berkenan kepada Allah. Ini bukan tentang korban yang mati seperti dalam
Perjanjian Lama, tetapi hidup yang terus dipersembahkan setiap hari. Ibadah
sejati bukan hanya terjadi di altar gereja, tetapi di altar kehidupan—di
pikiran yang diperbarui, dalam keputusan sehari-hari, dalam cara kita bekerja,
berbicara, dan memperlakukan orang lain. Jika kita kaitkan dengan gambaran api
di mezbah, maka “menambah kayu” dalam hidup kita bisa berarti disiplin rohani
yang konsisten: doa yang tidak putus, firman yang direnungkan, ketaatan dalam
hal kecil, dan kesediaan menyangkal diri. Tanpa semua itu, api iman bisa
meredup. Bukan karena Tuhan meninggalkan kita, tetapi karena kita tidak lagi setia merespons anugerah yang Ia
teru kerjakan di dalam hidup rohani kita.
Saudara,
apakah api iman dalam hidupmu masih menyala dengan
konsisten, atau hanya muncul di momen-momen tertentu? Biarlah kiranya kita
menyadari bahwa api keselamatan yang Tuhan nyalakan dalam hidup kita adalah
anugerah yang sangat berharga. Namun anugerah itu tidak dimaksudkan untuk
dibiarkan begitu saja. Tuhan mengundang kita untuk mengambil bagian—menjaga,
merawat, dan menghidupinya setiap hari. Dalam kesetiaan kecil, dalam disiplin
yang sederhana, dan dalam hati yang terus berpaling kepada-Nya, api itu akan
tetap menyala. Dan melalui hidup yang terus “terbakar” bagi Tuhan, dunia dapat
melihat terang-Nya dinyatakan melalui kita. (FS)

Komentar
Posting Komentar