Gereja yang Tidak Goyah

Senin, 2 Maret 2026
Gereja yang Tidak Goyah
Bacaan Alkitab : Keluaran 36 : 31-34

          Dalam bagian Keluaran 36 : 31-34, Allah memerintahkan para ahli untuk membuat kayu lintang atau balok penghubung dari kayu akasia bagi Kemah Suci. Ada 5 papan untuk sebelah kiri, 5 papan untuk sisi kanan dan 5 papan untuk bagian belakang. Di tengah tengah-tengahnya terdapat satu kayu lintang yang melintang dari ujung ke ujung, untuk mengikat dan mengokohkan seluruh struktur. Secara fungsi, kayu lintang itu adalah elemen konstruksi. Namun secara rohani, detail ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya peduli pada keindahan, tetapi juga pada kekokohan dan kesatuan. Kemah Suci adalah tempat kehadiran Allah di tengah kemah-Nya. Karena itu, struktur yang kokoh menjadi simbol komunitas yang terikat kuat dalam perjanjian dengan Allah.

Setiap papan berdiri pada tempatnya masing-masing namun tanpa kayu lintang yang mengikat semuanya akan goyah dan rapuh. Palang tengah menjadi elemen integratif yang menyatukan, menopang, dan menjaga kestabilan keseluruhan. Demikian pula kita, sebagai umat Allah yang meskipun berbeda suku dan latar belakang, pendidikan, status sosial, generasi dan karakter namun di satukan sebagai satu tubuh yang terikat dan saling menopang. Kesatuan bukan berarti keseragaman tetapi keberagaman yang diikat oleh satu pusat. Dengan demikian, kasih berfungsi seperti “palang tengah” yang dapat mengikat seluruh umat Allah yang memiliki keberagaman.

Kasih yang mempersatukan gereja bukanlah kasih yang lahir dari kemampuan manusia tetapi bersumber dari kasih Kristus yang dinyatakan melalui kematian-Nya di kayu salib. Pusat kehidupan dalam gereja bukanlah banyaknya jumlah jemaat, status sosial, atau besarnya persembahan tetapi kasih Kristus yang menjadi pusat dan mengikat seluruh anggota dalam gereja. Kasih Kristus inilah yang menjadikan gereja menjadi tidak tergoyahkan meskipun terjadi konflik, salah paham, atau pertikaian.  Oleh sebab itu, mari tumbuhkan kasih untuk saudara seiman dengan cara menerima satu dengan yang lain dalam kasih Kristus.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah kita menjadi papan yang hanya berdiri sendiri? Ataukah kita mengizinkan kasih Kristus mengikat kita dengan saudara seiman? Kiranya kasih Kristus tetap menjadi palang tengah yang menyatukan, menguatkan, dan menyempurnakan kita sebagai umat Allah. (TH)

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan