Gereja yang Tidak Goyah
Gereja yang Tidak Goyah
Bacaan Alkitab : Keluaran 36 : 31-34
Dalam bagian Keluaran 36 : 31-34,
Allah memerintahkan para ahli untuk membuat kayu lintang atau balok penghubung dari
kayu akasia bagi Kemah Suci. Ada 5 papan untuk sebelah kiri, 5 papan untuk sisi
kanan dan 5 papan untuk bagian belakang. Di tengah tengah-tengahnya terdapat
satu kayu lintang yang melintang dari ujung ke ujung, untuk mengikat dan mengokohkan
seluruh struktur. Secara fungsi, kayu lintang itu adalah elemen konstruksi.
Namun secara rohani, detail ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya peduli pada
keindahan, tetapi juga pada kekokohan dan kesatuan. Kemah Suci adalah tempat
kehadiran Allah di tengah kemah-Nya. Karena itu, struktur yang kokoh menjadi
simbol komunitas yang terikat kuat dalam perjanjian dengan Allah.
Setiap
papan berdiri pada tempatnya masing-masing namun tanpa kayu lintang yang
mengikat semuanya akan goyah dan rapuh. Palang tengah menjadi elemen integratif
yang menyatukan, menopang, dan menjaga kestabilan keseluruhan. Demikian pula kita,
sebagai umat Allah yang meskipun berbeda suku dan latar belakang, pendidikan,
status sosial, generasi dan karakter namun di satukan sebagai satu tubuh yang
terikat dan saling menopang. Kesatuan bukan berarti keseragaman tetapi
keberagaman yang diikat oleh satu pusat. Dengan demikian, kasih berfungsi
seperti “palang tengah” yang dapat mengikat seluruh umat Allah yang memiliki
keberagaman.
Kasih
yang mempersatukan gereja bukanlah kasih yang lahir dari kemampuan manusia
tetapi bersumber dari kasih Kristus yang dinyatakan melalui kematian-Nya di
kayu salib. Pusat kehidupan dalam gereja bukanlah banyaknya jumlah jemaat,
status sosial, atau besarnya persembahan tetapi kasih Kristus yang menjadi
pusat dan mengikat seluruh anggota dalam gereja. Kasih Kristus inilah yang
menjadikan gereja menjadi tidak tergoyahkan meskipun terjadi konflik, salah
paham, atau pertikaian. Oleh sebab itu,
mari tumbuhkan kasih untuk saudara seiman dengan cara menerima satu dengan yang
lain dalam kasih Kristus.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah
kita menjadi papan yang hanya berdiri sendiri? Ataukah kita mengizinkan kasih
Kristus mengikat kita dengan saudara seiman? Kiranya kasih Kristus tetap
menjadi palang tengah yang menyatukan, menguatkan, dan menyempurnakan kita
sebagai umat Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar