Di Balik Tirai yang Kudus

Selasa 3 Maret 2026
Di Balik Tirai yang Kudus 
Bacaan Alkitab : Keluaran 36:35-38

 


Dalam Kitab Keluaran 36:35–38, tabir itu bukan sekadar kain pemisah. Ia adalah garis tegas antara yang kudus dan yang berdosa. Di depannya, para imam melayani. Di baliknya, hadirat Allah dinyatakan secara khusus. Tidak semua orang bisa masuk. Tidak semua langkah diizinkan melintas. Tabir itu berbicara tanpa suara: Allah itu dekat, tetapi Ia tidak boleh diperlakukan sembarangan. Ada ketegangan yang nyata. Allah memilih berdiam di tengah umat-Nya—itu anugerah. Tetapi dosa membuat jarak tetap ada—itu realitas. Kekudusan Allah bukan konsep lembut yang bisa ditawar. Ia menyala, murni, tak bercela. Dan manusia, dengan segala keterbatasan dan dosanya, tidak dapat berdiri begitu saja di hadapan-Nya.

Tabir itu melindungi umat—karena kekudusan Allah bukan hanya indah, tetapi juga dahsyat. Namun kisah itu tidak berhenti di padang gurun. Berabad-abad kemudian, ketika Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib, tabir Bait Suci terbelah. Apa yang dahulu tertutup kini terbuka. Jalan yang dahulu terbatas kini tersedia. Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati memahami anugerah. Tabir yang terbelah bukan berarti Allah berubah menjadi kurang kudus. Bukan berarti standar-Nya diturunkan. Yang berubah adalah akses kita—karena Kristus menanggung dosa dan menguduskan kita. Kita kini boleh menghampiri Allah bukan karena kita layak, tetapi karena kita dibenarkan. Kekudusan Allah tetap utuh. Anugerah membuka jalan, tetapi tidak menghapus kekudusan.

Hari ini, sering kali kita terbiasa berbicara tentang Allah yang dekat—Allah yang mengerti, yang menolong, yang memberkati. Itu benar. Tetapi teks ini mendidik kita untuk tidak melupakan bahwa Ia juga Allah yang Mahakudus.

Kita boleh datang dengan doa. Kita boleh menyampaikan pergumulan.
Kita boleh meminta pertolongan. Namun kita tidak pernah berada dalam posisi untuk mengatur Allah, menuntut Allah, atau memperlakukan-Nya seperti rekan sejajar. Ia tetap Tuhan. Ia tetap berbeda. Ia tetap suci. Keseimbangan inilah yang perlu kita pelihara: kita adalah umat yang dikuduskan, tetapi Dia adalah Pribadi yang Mahakudus. Kita datang dengan keberanian, tetapi juga dengan gentar yang hormat.

Di balik tabir itu ada pesan yang tak lekang oleh zaman: Allah rindu berdiam bersama umat-Nya, namun kekudusan-Nya tetap menjadi batas yang harus dihormati. Dan setiap kali kita berdoa hari ini, kita sebenarnya sedang berdiri di antara dua kenyataan besar— salib yang membuka jalan, dan takhta yang tetap kudus.

Saudara, apakah kehidupan saya mencerminkan bahwa saya adalah orang yang sudah dikuduskan melalui Kristus? Tabir itu mungkin telah terbelah, tetapi kekudusan Allah tidak pernah robek. Kita datang bukan karena kita pantas, melainkan karena Kristus membuka jalan. Biarlah kiranya setiap doa yang kita naikkan, setiap ibadah yang kita lakukan, biarlah lahir dari hati yang berani oleh anugerah—namun tetap tunduk dalam hormat. (FS)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan