Di Balik Tirai yang Kudus
Di Balik Tirai yang Kudus
Dalam Kitab Keluaran 36:35–38, tabir itu bukan sekadar
kain pemisah. Ia adalah garis tegas antara yang kudus dan yang berdosa. Di
depannya, para imam melayani. Di baliknya, hadirat Allah dinyatakan secara
khusus. Tidak semua orang bisa masuk. Tidak semua langkah diizinkan melintas. Tabir
itu berbicara tanpa suara: Allah itu dekat, tetapi Ia tidak boleh diperlakukan
sembarangan. Ada ketegangan yang nyata. Allah memilih berdiam di tengah
umat-Nya—itu anugerah. Tetapi dosa membuat jarak tetap ada—itu realitas.
Kekudusan Allah bukan konsep lembut yang bisa ditawar. Ia menyala, murni, tak
bercela. Dan manusia, dengan segala keterbatasan dan dosanya, tidak dapat
berdiri begitu saja di hadapan-Nya.
Tabir itu melindungi umat—karena kekudusan Allah bukan
hanya indah, tetapi juga dahsyat. Namun kisah itu tidak berhenti di padang
gurun. Berabad-abad kemudian, ketika Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya di
kayu salib, tabir Bait Suci terbelah. Apa yang dahulu tertutup kini terbuka.
Jalan yang dahulu terbatas kini tersedia. Tetapi di sinilah kita perlu
berhati-hati memahami anugerah. Tabir yang terbelah bukan berarti Allah berubah
menjadi kurang kudus. Bukan berarti standar-Nya diturunkan. Yang berubah adalah
akses kita—karena Kristus menanggung dosa dan menguduskan kita. Kita kini boleh
menghampiri Allah bukan karena kita layak, tetapi karena kita dibenarkan. Kekudusan
Allah tetap utuh. Anugerah membuka jalan, tetapi tidak menghapus kekudusan.
Hari ini, sering kali kita terbiasa berbicara tentang
Allah yang dekat—Allah yang mengerti, yang menolong, yang memberkati. Itu
benar. Tetapi teks ini mendidik kita untuk tidak melupakan bahwa Ia juga Allah
yang Mahakudus.
Kita boleh datang dengan doa. Kita boleh menyampaikan
pergumulan.
Kita boleh meminta pertolongan. Namun kita tidak pernah berada dalam posisi
untuk mengatur Allah, menuntut Allah, atau memperlakukan-Nya seperti rekan
sejajar. Ia tetap Tuhan. Ia tetap berbeda. Ia tetap suci. Keseimbangan inilah
yang perlu kita pelihara: kita adalah umat yang dikuduskan, tetapi Dia adalah
Pribadi yang Mahakudus. Kita datang dengan keberanian, tetapi juga dengan
gentar yang hormat.
Di balik tabir itu ada pesan yang tak lekang oleh zaman:
Allah rindu berdiam bersama umat-Nya, namun kekudusan-Nya tetap menjadi batas
yang harus dihormati. Dan setiap kali kita berdoa hari ini, kita sebenarnya
sedang berdiri di antara dua kenyataan besar— salib yang membuka jalan, dan
takhta yang tetap kudus.
Saudara, apakah kehidupan
saya mencerminkan bahwa saya adalah orang yang sudah dikuduskan melalui
Kristus? Tabir itu mungkin
telah terbelah, tetapi kekudusan Allah tidak pernah robek. Kita datang bukan
karena kita pantas, melainkan karena Kristus membuka jalan. Biarlah kiranya
setiap doa yang kita naikkan, setiap ibadah yang kita lakukan, biarlah lahir
dari hati yang berani oleh anugerah—namun tetap tunduk dalam hormat. (FS)

Komentar
Posting Komentar