Allah, Sumber Terang Sejati
Allah, Sumber Terang Sejati
Dalam Keluaran 37:17–24 dicatat
pembuatan kandil emas, ditempa dari satu bagian emas murni, lengkap dengan
batang, cabang, kelopak, dan bunga hiasannya. Kandil itu ditempatkan di ruang
Kudus dalam Kemah Suci. Ruangan itu tertutup, tanpa jendela, sehingga tidak
menerima cahaya dari luar. Karena itu, terang dari kandil menjadi satu-satunya
sumber penerangan bagi tempat imam melayani. Tanpa kandil, ruang Kudus akan
tetap berada dalam kegelapan. Secara teologis, gambaran ini berbicara tentang
Allah sebagai sumber terang sejati. Kandil tidak memantulkan cahaya dari luar,
melainkan memberi terang bagi sekelilingnya. Demikian pula Allah tidak
bergantung pada ciptaan untuk menopang keberadaan-Nya. Ia tidak menerima
kehidupan dari luar diri-Nya; justru dari Dialah kehidupan dan terang itu
berasal. Segala sesuatu bergantung kepada-Nya, bukan sebaliknya.
Kebenaran ini menolong kita memahami
makna ibadah dengan lebih tepat. Sering kali tanpa sadar kita berpikir bahwa
melalui pujian dan pelayanan, kita sedang “memberi” sesuatu kepada Tuhan,
seolah-olah Ia membutuhkan energi rohani dari kita. Namun seperti ruang Kudus
yang diterangi oleh kandil, kitalah yang membutuhkan terang Allah. Dalam
ibadah, bukan kita yang menguatkan Tuhan, melainkan Tuhan yang menerangi dan
menguatkan kita. Ruang Kudus akan gelap tanpa kandil. Ini mengingatkan bahwa
pelayanan dan ibadah tanpa terang Allah akan kehilangan arah. Aktivitas rohani
saja tidak cukup. Kita bisa sibuk melayani dan rajin beribadah, tetapi tanpa
penerangan firman dan tuntunan Tuhan, semuanya dapat berubah menjadi rutinitas
kosong. Terang Allah memberi arah, kejelasan, dan kehidupan bagi setiap bentuk
pelayanan.
Karena itu, setiap kali kita datang
kepada Tuhan, datanglah dengan kesadaran bahwa kita membutuhkan terang-Nya.
Mintalah agar firman-Nya menerangi pikiran, menegur hati, dan menuntun langkah
kita. Sebab hanya ketika hidup kita diterangi oleh Allah, pelayanan kita tidak
lagi sekadar aktivitas, melainkan menjadi perwujudan terang-Nya yang dibagikan
kepada dunia.
Saudara, apakah selama ini kita datang beribadah dengan kesadaran bahwa kita membutuhkan terang Allah, atau hanya menjalankan rutinitas rohani? Kiranya setiap ibadah bukan sekadar kebiasaan, tetapi perjumpaan yang menerangi hati dan langkah kita. (RT)

Komentar
Posting Komentar