Taat Di Tengah Risiko, Aman dalam Janji Allah
Taat Di Tengah Risiko, Aman dalam Janji Allah
Dalam Keluaran 34:23-24, Allah kembali
menegaskan perintah-Nya kepada umat Israel untuk menghadap Tuhan tiga kali dalam
setahun yakni hari raya roti tidak beragi, hari raya tujuh minggu dan hari raya
pondok daun. Ketiga perayaan ini bukan sekedar ritual keagamaan, melainkan
penanda penting dalam sejarah keselamatan Israel : pembebasan dari perbudakan
di Mesir, pemeliharaan Allah selama perjalanan di padang gurun, dan penggenapan
janji Tuhan atas negeri yang dijanjikan. Allah secara khusus memerintahkan seluruh
laki-laki Israel untuk menghadap-Nya
sebagai wakil keluarga dan umat perjanjian. Namun, perintah ini mengandung
risiko besar. Ketika para laki-laki meninggalkan negeri untuk beribadah, tanah
Israel berada dalam kondisi yang rentan dan terbuka terhadap serangan musuh.
Secara manusiawi, perintah ini tampak berbahaya dan dapat menimbulkan
kekhawatiran akan keamanan bangsa.
Di
tengah potensi ancaman tersebut, Allah tidak tinggal diam. Dalam ayat 24, Tuhan
memberikan janji perlindungan yang tegas: Ia sendiri yang akan menghalau
bangsa-bangsa lain, meluaskan wilayah
Israel, dan bahkan mengendalikan hati bangsa-bangsa agar tidak mengingini
negeri mereka. Perlindungan Allah bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga
supranatural-Tuhan bekerja bukan sekedar melalui kekuatan militer, melainkan
dengan kuasa-Nya atas sejarah dan hati manusia. Dengan demikian, ketaatan
Israel untuk beribadah justru menjadi ruang bagi pernyataan pemeliharaan Allah
yang sempurna.
Saudara,
prinsip perlindungan Allah ini tetap relevan untuk umat-Nya pada saat ini.
Ketika kita memilih untuk hidup setia kepada firman Tuhan, kita pun tidak luput
dari risiko dan tantangan. Dunia yang telah jatuh dalam dosa sering kali
menganggap nilai-nilai Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang asing dan tidak
masuk akal. Kesetiaan dalam pernikahan,
kejujuran dalam pekerjaan, pengendalian diri terhadap harta, makanan, dan
keinginan duniawi lainnya dapat memunculkan penolakan, ejekan, bahkan perlakuan
tidak adil. Namun, Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa ketaatan tidak
pernah berdiri sendiri. Sama seperti Israel, umat Allah masa kini juga hidup di
bawah janji perlindungan Allah. Ketika kita memilih untuk tetap taat dan setia,
meskipun tampak berisiko secara manusiawi. Allah menyatakan pemeliharaan-Nya.
Perlindungan Tuhan mungkin tidak selalu berarti bebas dari kesulitan, tetapi Ia
setia menjaga, menguatkan, dan memelihara umat-Nya yang berjalan dalam
kesetiaan.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Firman Tuhan
hari ini mengundang kita untuk merenungkan ulang dasar ketaatan kita. Apakah
kita taat hanya ketika segalanya terasa aman dan menguntungkan, ataukah kita
berani taat bahkan ketika ketaatan itu menempatkan kita pada posisi yang tampak
rentan? Israel belajar bahwa keamanan sejati bukan terletak pada penjagaan hati
manusia. Demikian pula, kehidupan iman kita dipanggil untuk mempercayakan masa
depan, reputasi, dan keamanan kita kepada Tuhan. Mari tetap setia kepada Allah
dan bergantung pada perlindungan-Nya senantiasa. (TH)

Komentar
Posting Komentar