Sukarela, Namun Terarah

Kamis, 19 Februari 2026
Sukarela, Namun Terarah
Bacaan Alkitab : Keluaran 35 : 29

          Keluaran 35:29 ini merupakan bagian dari rencana pemulihan Allah bagi bangsa Israel setelah dosa anak lembu emas. Allah memerintahkan bangsa Israel untuk membangun kemah suci dan merinci bahan-bahan serta cara pembuatannya. Keluaran 35:29 merupakan respons umat atas perintah Allah tentang pemberian persembahan yang bersifat sukarela dan dilaksanakan secara umum yaitu oleh semua orang. Dalam bagian ayat 29 ini ada dua hal yang menarik yaitu: pertama, Allah tetap menghendaki mereka memberi dengan antusias tetapi untuk tujuan yang benar. Setelah kisah tentang anak lembu emas. Ketika mereka memberi dengan antusias hanya untuk tujuan salah. (Kel. 32).  Kedua, melalui pernyataan Allah bahwa, “ membawa sesuatu untuk pekerjaan yang diperintahkan Tuhan... dengan perantaraan Musa..” artinya mereka memberi kepada Allah melalui Musa. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan antara aturan dan sifat sukarela.

Sukarela yang dikehendaki oleh Allah yaitu tidak adanya ketentuan tentang jumlah tertentu. Namun, tetap memperhatikan kepantasan/kelayakan dalam memberi. Prinsip sukarela ini dijelaskan secara konkret dalam ayat 25-28 yaitu dari semua yang dipersembahkan untuk Allah ada bahan, batu-batuan, baju, rempah, minyak yang terbaik. Artinya, bahan-bahan terbaik yang ditetapkan mencerminkan kepantasan dalam memberi kepada Allah. Sehingga, semangat memberi secara sukarela tidak bersifat “seenaknya” namun memberi yang terbaik dan layak untuk dipersembahkan kepada Allah.


          Saudara, Firman Tuhan hari ini masih relevan dengan kehidupan umat Allah saat ini. Ketika kita memberi seperti : waktu, tenaga, harta, atau talenta maka berilah yang terbaik, “...seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 3: 23b). Artinya dalam hal melayani Allah (memberi waktu, tenaga, keterampilan)  kita wajib berkomitmen dalam memberi yang terbaik dari apa yang kita miliki. Dan dalam melakukan perbuatan baik kepada sesama maka jangan “ala kadarnya” tetapi berusaha melakukan semampu dan sebaik yang dapat kita lakukan untuk menolong sesama. Allah telah melengkapi kita dengan segala hal terbaik yang dapat kembali kita persembahkan kepada Allah. Oleh karena itu, mari memberi, melayani dan melakukan perbuatan baik dengan sepenuh hati dan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sebagai wujud ketaatan pada kehendak-Nya.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Apakah selama ini kita memberi -waktu, tenaga, harta, perbuatan saleh- kepada Allah karena kerelaan hati atau lebih karena kebiasaan, tekanan, atau tuntutan tertentu? Mari dengan rendah hati membuka hati di hadapan-Nya untuk menerima pemulihan dan kekuatan untuk dapat memberi dengan kerelaan hati. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan