Selubung Hikmat
Selubung Hikmat
Dalam
Keluaran 34:32–35, Musa tampil sebagai figur sentral yang menjalankan perannya
sebagai pengantara perjanjian antara Allah dan bangsa Israel. Setelah turun
dari Gunung Sinai, Musa menyampaikan seluruh perintah Tuhan kepada umat, tanpa
mengurangi satu pun isi firman yang telah Ia terima. Teks ini menegaskan
integritas Musa sebagai hamba Allah yang setia dan taat dalam menyampaikan
kehendak-Nya. Namun, perjumpaan Musa yang terus menerus dengan Tuhan mengakibatkan wajah Musa bercahaya. Wajahnya
memantulkan kemuliaan Allah. Cahaya itu bukan sekedar fenomena fisik, melainkan
tanda bahwa Musa telah mengalami hadirat Allah yang kudus dan hidup di bawah
otoritas-Nya.
Reaksi
bangsa Israel terhadap wajah Musa menarik untuk diperhatikan. Ketakutan mereka
(ayat 30) tidak muncul dalam memori kosong namun dalam ingatan bersama akan
peristiwa tragis yang dialami sebagai akibat dari penyembahan lembu emas,
ketika murka Allah menimpa sebagian umat. Dalam kondisi psikis yang rapuh itu,
cahaya kemuliaan di wajah Musa justru dipahami sebagai ancaman seolah-olah
Allah kembali datang untuk menghakimi dan memusnahkan mereka. Musa menunjukkan
kepekaannya sebagai hamba Tuhan. Ia memahami ketakutan mereka dan memilih untuk mengenakan selubung ketika
berbicara kepada mereka. Tindakan ini bukanlah penolakan terhadap kemuliaan
Allah, melainkan penyesuaian penuh hikmat agar firman Tuhan tetap dapat
diterima dan dipahami. Musa menyadari bahwa kebenaran ilahi yang disampaikan
tanpa empati dapat melukai, bukan membangun.
Saudara,
selubung Musa menjadi simbol penting tentang tanggung jawab sebagai pemimpin
rohani. Seorang pemimpin rohani dipanggil bukan hanya untuk setia pada
kebenaran, tetapi juga bijaksana dalam cara menyampaikannya. Musa memelihara
relasi antara Allah dan Israel dalam bingkai ketaatan, kasih karunia, dan
pertumbuhan iman yang bertahap. Melalui perikop ini, kita belajar bahwa
kepemimpinan rohani sejati tidak memaksakan kedewasaan iman yang belum sanggup
ditanggung umat. Baik dalam keluarga, gereja, maupun pelayanan, pemimpin
dipanggil untuk mencerminkan kasih Allah—kasih yang memahami, menuntun, dan
membangun. Firman Tuhan memang tajam, tetapi di tangan yang berhikmat,
ketajaman itu menjadi alat penyembuhan dan pemulihan.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah
“selubung” kebijaksanaan dan kerendahan hati masih saya kenakan saat berbicara
tentang kebenaran Allah? Mari mintalah Roh Kudus membimbing kita untuk semakin
bijaksana dalam menyampaikan kebenaran Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar