Selubung Hikmat

Senin, 9 Februari 2026
Selubung Hikmat
Bacaan Alkitab : Keluaran 34 : 32 – 35

Dalam Keluaran 34:32–35, Musa tampil sebagai figur sentral yang menjalankan perannya sebagai pengantara perjanjian antara Allah dan bangsa Israel. Setelah turun dari Gunung Sinai, Musa menyampaikan seluruh perintah Tuhan kepada umat, tanpa mengurangi satu pun isi firman yang telah Ia terima. Teks ini menegaskan integritas Musa sebagai hamba Allah yang setia dan taat dalam menyampaikan kehendak-Nya. Namun, perjumpaan Musa yang terus menerus dengan Tuhan mengakibatkan wajah Musa bercahaya.   Wajahnya memantulkan kemuliaan Allah. Cahaya itu bukan sekedar fenomena fisik, melainkan tanda bahwa Musa telah mengalami hadirat Allah yang kudus dan hidup di bawah otoritas-Nya.

Reaksi bangsa Israel terhadap wajah Musa menarik untuk diperhatikan. Ketakutan mereka (ayat 30) tidak muncul dalam memori kosong namun dalam ingatan bersama akan peristiwa tragis yang dialami sebagai akibat dari penyembahan lembu emas, ketika murka Allah menimpa sebagian umat. Dalam kondisi psikis yang rapuh itu, cahaya kemuliaan di wajah Musa justru dipahami sebagai ancaman seolah-olah Allah kembali datang untuk menghakimi dan memusnahkan mereka. Musa menunjukkan kepekaannya sebagai hamba Tuhan. Ia memahami ketakutan mereka dan memilih untuk mengenakan selubung ketika berbicara kepada mereka. Tindakan ini bukanlah penolakan terhadap kemuliaan Allah, melainkan penyesuaian penuh hikmat agar firman Tuhan tetap dapat diterima dan dipahami. Musa menyadari bahwa kebenaran ilahi yang disampaikan tanpa empati dapat melukai, bukan membangun.

Saudara, selubung Musa menjadi simbol penting tentang tanggung jawab sebagai pemimpin rohani. Seorang pemimpin rohani dipanggil bukan hanya untuk setia pada kebenaran, tetapi juga bijaksana dalam cara menyampaikannya. Musa memelihara relasi antara Allah dan Israel dalam bingkai ketaatan, kasih karunia, dan pertumbuhan iman yang bertahap. Melalui perikop ini, kita belajar bahwa kepemimpinan rohani sejati tidak memaksakan kedewasaan iman yang belum sanggup ditanggung umat. Baik dalam keluarga, gereja, maupun pelayanan, pemimpin dipanggil untuk mencerminkan kasih Allah—kasih yang memahami, menuntun, dan membangun. Firman Tuhan memang tajam, tetapi di tangan yang berhikmat, ketajaman itu menjadi alat penyembuhan dan pemulihan.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah “selubung” kebijaksanaan dan kerendahan hati masih saya kenakan saat berbicara tentang kebenaran Allah? Mari mintalah Roh Kudus membimbing kita untuk semakin bijaksana dalam menyampaikan kebenaran Allah. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan